Sabtu, 24 Agustus 2019

FORUM TITIK TEMU: PERSAUDARAAN INSANI, HIDUP DAMAI, DAN HIDUP BERDAMPINGAN

Rabu, 10 April 2019
oleh : admin
Dibaca sebanyak 471 kali
Jakarta (10/04)--Di tengah makin menguatnya prasangka buruk, ujaran kebencian, intoleransi, dan kasus-kasus kekerasan berbasis agama di sejumlah negara, dunia juga menyaksikan langkah-langha penting dalam merespons tantangan kontemporer ini. Salah satunya pertemuan Imam Besar Al Azhar, Sayyed Ahmed al Thayeb dengan Pemimpin Gereja Katolik Dunia Paus Fransiskus pada 4 Februari 2019 di Abu Dhabi.

Foto @alissawahid

 

Pertemuan yang juga dihadiri sekitar 400 para pemimpin agama-agama di dunia,  termasuk pakar tafsir Indonesia Prof Muhammad Quraish Shihab, ini menghasilkan “Dokumen Persaudaraan Manusia” yang menegaskan umat manusia di seluruh dunia agar senantiasa membina persahabatan, menjalin persaudaraan, saling menghormati dan tidak mempolitisasi agama untuk kepentingan politik praktis sehingga memecah belah persaudaraan seluruh umat manusia, sebangsa dan setanah air.

Langkah kemanusiaan ini tentu saja bukan hanya tanggung jawab satu umat atau satu negara, tetapi kerja bersama semua umat manusia di dunia ini, termasuk Indonesia. Dalam usaha meneruskan seruan ini dan demi mengingatkan penguatan toleransi dan mencegah peningkatan eskalasi kebencian dan permusuhan di antara warga bangsa, Nurcholish Madjid Society, Maarif Institute, Wahid Foundation, Jaringan Gusdurian, dan Yayasan Terang Surabaya memandang amat strategis Forum Titik Temu yang mengambil tajuk “Persaudaraan Insani, Hidup Damai, dan Hidup Berdampingan”.

Sebagaimana pesan tersebut, forum ini bertujuan untuk terus memperkuat persaudaran dan perdamaian. Forum ini juga hendak mengajak seluruh umat manusia apa pun latar belakangnya mengecam segala bentuk teror, kekerasan, baik fisik maupun verbal, ekstremisme kekerasan, dan setiap bentuk keburukan yang merusak harmoni dan kedamaian hidup bersama.

“Forum ini lahir karena adanya keprihatinan kami bersama, baik sebagai bangsa Indonesia maupun sebagai warga dunia. Keprihatinan atas situasi intoleransi, eksklusivisme dalam beragama, terorisme, ujaran kebencian, merebaknya hoax dan fitnah, serta politik aliran yang makin menguat,” ujar Muhamad Wahyuni Nafis, Ketua Nurcholish Madjid Society dalam pembukaan Forum Ritz Carlton hotel, Jakarta (10/04). 

Menurut Alissa Wahid, Koordinator Jaringan Nasional Gusdurian, forum ini penting untuk menyampaikan pesan bahwa masalah terbesar kita adalah kebencian, bukan karena perbedaan. “Di era dunia mengglobal ini, kita tak dapat menghindari keberagaman dalam hidup bersama.

Kebencian antar kelompok akan membawa  kehancuran, dan harus kita atasi dengan membangun jembatan-jembatan persaudaraan, dengan terus memupuk kepercayaan dan toleransi antar sesama. Selalu ada ruang hidup bersama dalam persatuan dan kedamaian,” tandas Alissa Wahid.

Sejumlah tokoh hadir dan menyampaikan pesan perdamaian memberikan pidato antara lain Tokoh Muhammadiyah dan Pendiri Maarif Institute, Ahmad Syafii Maarif, tokoh agama perempuan yang juga istri almarhum KH Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, dan tokoh perempuan yang juga istri almarhum Nurcholish Madjid Omi Komaria Madjid. Selain ketiga tokoh di atas, forum juga dihadiri tokoh-tokoh lain seperti Muhammad Mahfud MD, Siti Musdah Mulia, Komaruddin Hidayat, Ignatius Suharyo, KH Husein Muhammad, HS Dillon, Ruhaini Dzuhayatin, Oman Fathurrahman, Ulil Abshar Abdalla, Sudhamek AWS, Banthe Dammasubho, Chandra Setiawan, Arief Harsono, Pendeta Gomar Gultom, Rommy Mandang, Muhammad Wahyuni Nafis.

Di antara seruan Forum yang dihadiri 200-an peserta ini juga menekankan pentingnya usaha-usaha mempekuat lembaga-lembaga pendidikan dan mendorong mereka untuk mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, budaya saling menghormati, kebebasan tanpa perbedaan.