Rabu, 21 November 2018

APAKAH-TRADISI SEDEKAH LAUT ITU 'SYIRIK' ?

Rabu, 17 Oktober 2018
oleh : Vinanda Febriani
Dibaca sebanyak 294 kali
Bantul, Yogyakarta adalah kota budaya. Kota dengan sederet peninggalan budaya yang tak ternilai harganya. Kini salah satu adat budayanya dirusak, dikecam oleh mereka yang mabuk agama. Jangan biarkan, tindak, dan jangan takut. Jangan kalah oleh kelompok kecil yang akan merusak damai bangsa ini. Menurutnya, kejadian ini merupakan awal atas tindakan radikal kelompok tersebut, jika tak dilawan maka akan terus dan akan semakin menjadi. Tidak ada kekerasan dalam Agama. Kita sudah lama hidup dalam gandeng mesra budaya nenek moyang dan agama yang kita anut, dan tak masalah. Jika saat ini mereka berani congak, ini adalah salah kita semua, yang diam atas ulah mereka selama ini. Mereka ada di mana-mana dan kita membiarkannya. Lawan! Indonesia bukan tempat bagi pemeluk konservatism agama, 'Sing waras ojo ngalah'.
 
 
Sejak beberapa hari yang lalu, agak heboh di media sosial terkait pelaksanaan ritual tradisi sedekah laut. Masyarakat tradisional menganggap bahwa sedekah laut merupakan ritual yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. Tujuannya tak lain adalah sebagai sebuah penghormatan terhadap para leluhur, sebagai kegiatan gotong royong yang juga menandakan rasa syukur masyarakat terhadap karunia Tuhan Yang Maha Kuasa. 
 
Sedekah laut biasa dilakukan setiap satu tahun sekali. Selama ini, prosesnya berjalan lancar tanpa kendala pihak lain yang menganggap bahwa ritual tersebut bagian dari kesesatan atau kesyirikan. Namun entah mengapa baru-baru ini, di beberapa daerah ditolak oleh suatu kelompok dan beranggapan bahwa itu tidak sesuai dengan Syariat Islam. 
 
Di Bantul misalnya, kelompok tersebut mengobrak-abrik tatanan kursi dan meja di lokasi. Selain itu, mereka memasang spanduk bertuliskan 'Kami menolak semua kesyirikan berbalut budaya, sedekah laut atau selainnya'. Kata seorang warga yang menjadi saksi mata saat kejadian, mereka meminta supaya ritual sedekah bumi dibubarkan karena dianggap syirik dan musrik, serta bertentangan dengan agama.
 
 
Mengutip cuitan dari akun twitter @AfifFuadS (Afif Fuad Saidi), tema pembubaran adalah tentang "kemusyrikan" dan tak mau menerima budaya luhur nenek moyang kita, ini tentang puritanisme, konservatisme agama kelompok-kelompok  kecil yang semakin mendapat tempat di Masyarakat. 
 
Ini alarm peringatan bagi kita semua, bahwa mereka sudah berani bertindak anarkis mengatasnamakan Agama. Ini merupakan ulah kelompok yang selama ini sering membid'ahkan, mengkafirkan yang lain dan tidak mau ada asimilasi budaya luhur dengan agama yang masing-masing kita anut. 
 
Paham puritanisme, tekstual dan egois dalam beragama ini bahaya. Diawali oleh Intolransi, sebuah pemahaman yang tak sama dengannya adalah salah, mengklaim yang paling benar dan kemudian eklusifivisme tercipta. Intoleransi akan melahirkan radikalisme, sikap intoleran ketika disertai tindakan inilah radikalisme. Ketika mereka sudah merasa besar dan berani melawan, kejadian diatas (pembubaran ritual sedekah laut) adalah contoh nyata, bagaimana jika tak sepaham, berbeda, dirusaknya, dihancurkannya. Dan pada akhirnya sikap ini akan melahirkan apa yg disebut terorisme, mereka akan melakukan teror pada apa yang dianggap tak sama, merusak, membunuh bahkan, ya, atasnama agama mereka, atas nama tuhan mereka. ini bahaya!
 
 
Indonesia pada bentangan Bhineka tunggal ika dan pancasila sebagai payung teduhnya, konsensus kebangsaan harus kita jaga bersama. Rajut indah toleransi ini harus kita rawat bersama, lawan jika ada ada yg mencoba merusaknya! Jika ini dibirakan, anak cucu kita tak akan melihat betapa moyang kita dahulu punya tradisi luhur yang pada muaranya sarat dengan nilai-nilai luhur agama, toleransi, kedamaian, gotong royong dan persatuan dalam ragam perbedaan. 
 
Jika ini dibiarkan, maka anak cucu kita tak akan bisa menghirup udara kedamaian, kerukunan dan toleransi. Inginkah anak cucu kita bernasib seperti anak-anak di negara-negara konflik yang mereka berteriak atasnama agama? jangan sampai!
 
Terakhir ia menuliskan bahwa Indonesia damai dan toleran karena budaya luhur moyang bisa bersanding mesra dengan pemaknaan agama yang kita anut. Pluralitas adalah sebuah keniscayaan. Jangan beri tempat pada mereka yg mencoba memonopli bangsa ini atasnama agama. Lawan!
 
Dalam salah satu Qaidah Fiqhiyah, warga NU mengenal prinsip 'Al muhafadzatu ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah' (upaya pelestarian nilai-nilai (luhur) yang baik di masa lalu dan melakukan adopsi nilai-nilai baru yang lebih baik). Artinya, ketika ada sebuah budaya atau tradisi di suatu daerah yang baik, maka NU tidak serta merta menolaknya hanya karena dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam. NU menerima dan kemudian menyelaraskannya dengan nilai-nilai Islami, supaya budaya dan tradisi itu terus menerus ada dan tidak bertentangan dengan syariat agama. Sebab kekuatan dan ciri khas bangsa Indonesia ada pada tradisi dan budayanya yang beragam. Jika tidak dirawat, hilanglah semua tergerus dan tertelan zaman yang makin tua dan rapuh.
 
Sebagai anak muda, tentu kita perlu melestarikannya tanpa ada embel-embel tuduhan sesat yang mengatasnamakan agama.
 
Vinanda Febriani
Siswi kelas XII di MA Ma'arif Borobudur.
Borobudur. Minggu, 14 Oktober 2018.