Kamis, 19 September 2019

BERTUHAN DAN BERBUDAYA: REFLEKSI KEMERDEKAAN ISLAM INDONESIA

Senin, 02 September 2019
oleh : Man Muhammad
Dibaca sebanyak 630 kali
Boro-boro masuk surga, melihat yang berbeda saja kamu bilang tempatnya di neraka. Menjadi muslim yang baik sekaligus sebagai seorang Indonesia yang berkebudayaan itu sulit, kawan. Kalau kamu gak kuat ya belajar, jangan menyalahkan yang sudah belajar. Ini Nusantara bukan hutan belantara. Menjadi muslim yang berindonesia harus menerima setiap perbedaan yang niscaya, karena kita bernegara di bawah naungan Bhinneka Tunggal Ika yang berdasarkan Pancasila.

Sebelum melanjutkan, saya awali dulu dengan mengutip sebuah keresahan yang dirasakan oleh Mustafa es Sibai yang digoreskan pada bukunya yang berjudul ‘Hakadza Alamtani al Hayati;’ “Apa gerangan yang akan terjadi dengan dikau, seandainya kau sudah dewasa seperti kami, di mana kewajiban menuntut pertanggungjawabanmu, apalah engkau ada di barisan orang-orang yang menyampaikan atau di barisan orang-orang yang pelupa? Apakah zamanmu lebih baik dari zaman kami, atau malah lebih buruk? Apakah generasimu lebih baik dari generasi kami, atau mungkin kami lebih baik dari kalian.

Aku tidak tahu, wahai putraku yang mungil. Tetapi aku tahu kewajibanku sebagai ayah terhadapmu, untuk mempersiapkanmu menyandang tanggun jawab itu, menempuh segala rintangan, mengankat panji, menerangi jalan bagi kafilah yang sedang berjalan. Kalau engkau mampu memenuhi harapanku itu dan Allah membimbingmu ke sana, kalau tidak demikian, aku pasrahkan segalanya kepada Allah, yang penting aku sudah menunaikan amanatku untuk menyampaikan risalah, sehingga aku tidak memberikan kesempatan kepadamu untuk menggugatku di hadapan Allah Subhanahu wa Taala.”

Kalimat demi kalimat dalam pesan ini seakan mengandung pesan tersirat yang saya rasa bagaimana kita –sebagai seorang muslim— melihat fenomena perjalanan bangsa Indonesia dari sejak zaman sebelum kemerdekaan sampai hari ini.

Benar, memikul tanggung jawab sebagai seorang muslim di Indonesia memang tidak mudah, banyak hal yang belum dipelajari secara tuntas tapi, harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Belum tuntas tapi, harus dihadapkan dengan beragam perbedaan. Belum tuntas tapi, kadang sudah merasa pantas. Bukan hanya perbedaan keyakinan dalam beragama, seringkali pula terjadi perbedaan antar pemeluk agama yang sama. Belum lagi, selain masalah agama, suku, bahasa, adat istiadat, tradisi, dan ragam budaya yang turut mewarnai negara ini, menjadi satu paket ‘seksi’ saat kita sudah mengikrarkan ‘saya anak Indonesia.’ Inilah alasan, mengapa untuk menjadi muslim Indonesia tidak gampang –juga sebenarnya tidak susah.

Pergolakan antara posisi agama dan budaya ini kemudian menjadi sesuatu yang cukup menggemaskan, selalu hangat, dan layak diperbincangkan. Tak heran, perdebatan antara kalangan agamis-akademik juga kaum agamis-dedemit yang tinggal di Indonesia Raya tidak bisa dielakkan. Kaum yang kedua saya sebutkan, dengan argumen untuk kembali kepada Alquran mengatakan adat istiadat dan budaya sebagai sesuatu yang baru dan bertentangan dengan ajaran agama. Tradisi yang telah terbangun untuk menyatukan, disalah-salahkan. Adat yang menjadi aturan dan tata nilai kehidupan bermasyarakat dikatai bid’ah dan tempatnya di neraka. Dalil-dalil agama –nir argumen— disampaikan secara masif ke khalayak secara menggebu-gebu dengan mendistorsi sejarah kedatangan Islam di Indonesia. Mereka menggambarkan adat istiadat masyarakat yang sudah berlangsung lama seperti ‘monster’ yang siap menerkam dan membumi hanguskan kemurnian dan keberlangsungan Islam di Indonesia. Sikap fobia ini kemudian dibangun secara masif dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang multi-kultur. Dan dengan ketakutan-ketakutan yang mereka dakwahkan menjadikan tidak sedikit dari masyarakat Indonesia mulai pelan-pelan meninggalkan adat dan tradisi, dan secara perlahan-lahan kita pun mulai kehilangan identitas sebagai seorang Indonesia yang kaya akan ragam budayanya.

Hal tersebut yang kemudian membuat gerah kalangan agamis-akademik. Pendistorsian sejarah kedatangan Islam di Indonesia secara sengaja menjadi sesuatu yang fatal. Karena pada dasarnya terdapat korelasi antara agama dan budaya yang tidak bisa dipisahkan dalam rentetan perjalanan panjang masuknya Islam ke Indonesia tanpa peperangan, tanpa pertumpahan darah. Kedatangan Islam awal di Indonesia mengkolaborasikan agama dan adat sebagai jalan juang dakwah tanpa senjata. Pengkolaborasian ini bukan berarti menanggalkan substansi ajaran Islam. Malah sebaliknya, budaya yang sudah ada dalam tatanan masyarakat menjadi ‘senjata ampuh’ yang digunakan oleh para pembawa ajaran Islam –di masa-masa awal kedatangan Islam ke Indonesia—agar Islam bisa diterima. Hal demikian yang acapkali sengaja diacuhkan.

Mereka (kaum agamis-dedemit) menolak kedatangan dan keberadaan Wali Songo dengan mengatakan Wali Songo itu fiktif. Padahal, semua teks-teks sejarah yang menuliskan tentang kedatangan Islam ke Indonesia, tidak ada satupun yang mengingkari itu. Mereka tidak bisa menerimanya karena dakwah Wali Songo tidak menolak budaya dan adat istiadat, malah menjadikan itu sebagai sarana untuk berdakwah agar bisa terterima di kalangan masyarakat yang saat itu belum beragama Islam.

Kita ambil contoh, Sunan Kalijaga, misalnya, menjadikan wayang sebagai sarana dakwahnya karena pewayangan saat itu menjadi salah satu kesenian budaya yang digemari masyarakat setempat. Beliau menggunakan Yudistira sebagai tokoh untuk menggambarkan seseorang yang berdarah suci dan sabar. Yang mencari sebuah jimat sakti yaitu, Kalimasada. Kalimasada yang berarti Kalimat Syahadat, merupakan sebuah nilai kesucian tertinggi dalam Islam. Dalam perjalanannya, Yudistira ditemani oleh empat orang saudaranya, Werkudara, Janaka, Nakula, dan Sadewa sebagai gambaran dari shalat, puasa, zakat dan haji.

Padahal sebenarnya inti dari semua itu, Sunan Kalijaga ingin mendakwahkan Rukun Islam kepada masyarakat yang diganti namanya menjadi Pandawa. Tidak heran, banyak masyarakat yang belum beragama Islam tertarik untuk mengikuti pewayangan di mana Sunan Kalijaga yang menjadi dalangnya. Sunan Kalijaga pun terterima oleh semua kalangan, baik kalangan mutihan atau abangan, juga santri dan kaum awam. Walhasil, dengan wayang Sunan Kalijaga berhasil mendakwahkan nilai-nilai ketuhanan yang dikolaborasikan dengan kebudayaan yang sudah ada dalam masyarakat tanpa menghilangkan substansi dari nilai-nilai keislaman.

Demikian juga jika melihat metode penyampaian ajaran Islam yang dilakukan oleh Sunan Kudus. Ia mendekati masyarakat setempat dengan menggunakan simbol-simbol agama Hindu dan Budha untuk menyampaikan Islam. Hari ini kita bisa melihat dari bentuk dari aristektur mesjid Kudus. Bentuk menara, gerbang, dan pancuran wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Juga bagaimana kreatifitas Sunan Kudus menyampaikan bahwa dalam kitab suci umat Islam ada surat al Baqarah yang berarti sapi, di mana sapi merupakan hewan keramat bagi masyarakat Hindu. Ia kompromikan antara agama dan adat sebagai wasilah untuk menyebarkan ajaran Islam. Ia kolaborasikan nilai-nilai ketuhanan yang diajarkan Islam bersama kebudayaan yang sudah berkembang di tengah masyarakat. Apakah dengan itu Islam hilang? Tidak, malah dengan pendekatan kebudayaan ajaran-ajaran Islam bisa diterima tanpa harus ada peperangan, tanpa ada pemaksaan.

Perjumpaan inilah –antara Islam dan agama-agama lain, Islam dan adat istiadat serta kebudayaan yang sudah lebih dulu datang ke Nusantara— yang akhirnya membentuk dialektikanya sendiri dalam rentetan sejarah panjang bangsa kita. Ini pula yang kemudian menjadi alasan paling mendasar terbentuknya Pancasila dalam merumuskan dasar negara sebelum diproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Dengan memahami sejarah panjang bangsa Indonesia, antara keragaman agama dan budaya, hak-hak kemanusiaan, tuntutan keadilan demi terwujudnya sebuah persatuan yang kokoh, maka para fouding father bangsa ini –yang tentunya tidak lepas dari peran kiai dan ulama saat itu— menghadirkan Pancasila sebagai jawaban. Kehadiran ini tentunya merupakan bentuk pengukuhan secara jelas atas identitas bangsa Indonesia dan arah perjuangannya. Yang di dalamnya terdapat berbagai agama dan beragam suku bangsa yang memiliki budaya dan adat istiadat yang berbeda-beda. Bukan untuk menginjak hak-hak kaum muslimin –seperti yang ditakutkan oleh banyak kalangan agamis-dedemit.

Pancasila hadir membawa substansi terpenting dalam ajaran Islam. Dan ketuhanan yang berkebudayaan, adalah pesan sekaligus jawaban yang ingin disampaikan oleh Pancasila agar kita saling merangkul satu sama lain meskipun berbeda agama, adat dan budaya. Sebab, Pancasila ada representasi suci – ketauhidan, kemanusiaan, keadaban, persatuan, kerakyatan, kibijaksanaan,  kesetaraan, keadilan, dan kearifan lokal— dari kesucian nilai yang diajarkan Alquran.

Dengan demikian, sebagai refleksi hari ulang tahun kemerdekaan bangsa Indonesia ke 74 yang baru saja kita ramaikan beberapa hari kemarin, marilah kita rapalkan Pancasila secara bersama-sama baik dalam diam atau pun dalam keramaian, karena ia adalah doa, ia adalah harapan yang sampai hari ini masih belum jadi kenyataan.

Man Muhammad, penulis adalah peserta Sekolah Menulis Keberagaman Gorontalo.