Sabtu, 15 Desember 2018

BISMILLAH DAN HILANGNYA RAHMAN RAHIM

Rabu, 07 Maret 2018
oleh : Abas Zahrotin
Dibaca sebanyak 1201 kali
Seharusnya, saat mendengar nama Allah, hati kita tergetar karena rasa takut kepada Sang Maha Pencipta. Namun kini sebaliknya, jika diteriakkan nama Allah, orang akan bergetar hatinya karena takut pada orang yang mengatakannya.

Frasa bismillahirahmanirahim tidak hanya sekedar ayat Al Qur’an. Namun keberadaannya lekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Hampir semua aktivitas yang dijalankan selalu dimulai dengan kalimat ini. Popularitas ayat pertama dalam surat pertama di Al-Qur’an ini mengalahkan ayat-ayat lainnya, hampir semua muslim mengenal ayat ini dan menjadikan ayat ini sebagai pembuka atas aktivitas yang dijalankan setiap harinya.

Secara etimologis, bismillah berarti dengan menyebut nama Allah, rahman dan rahim berarti dzat yang maha pengasih dan penyayang. Untuk menafsirkan ayat ini, biarlah para ahli tafsir yang memiliki keilmuan yang cukup yang menafsirkannya. Karena secara pribadi, saya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menafsirkannya karena dukungan ilmu yang terbatas.

Dari 99 asma’ul husna, Allah lebih memilih untuk menggunakan “rahman” dan “rahim” dalam ayat ini. Bahkan kata rahman dan rahim sering disebut dalam jumlah yang cukup banyak. Tidak heran jika dalam deretan asma’ul husna dua nama ini diletakkan pada urutan pertama dan kedua. Tentu ada maksud tersendiri. Jika ditarik dalam pengertian etimologis, Allah sebenarnya hendak menekankan arti penting dari kasih sayang, mengasihi dan menyayangi.

Sayangnya, akhir-akhir ini banyak oknum yang mengatasnamakan Allah (menyebut bismillah), namun tindakan yang dilakukan tidak disertai rahman dan rahim. Seperti contoh, mengucapkan bismillah saat melakukan bom bunuh diri atau menganiaya manusia lainnya yang berbeda pendapat dan beda cara pandang.

Lebih simpel lagi, kata bismillah sering disebutkan sembari marah-marah dan memaki orang lain. Menyebut nama Allah sambil memukuli, merusak dan menganiaya orang lain. Menyebut nama Allah untuk melakukan tindakan-tindakan penembakan brutal, pengeboman di kerumunan orang. Dan paling banyak dijumpai, nama Allah sering disandingkan dengan kata-kata kotor dan kasar untuk mengkafirkan dan menganggap orang yang tidak sepaham.

Kemuliaan nama Allah tidak lagi diidentikkan dengan tindakan terpuji dan peribadatan yang sakral. Bismillah yang seharusnya mengarahkan tindakan seseorang dari tindakan kurang terpuji menjadi bermakna sebaliknya. Nilai sakral yang turun dari bismillah yang hilang inilah yang kemudian membuat kemuliaan nama Allah menjadi digunakan seenaknya.

Tidak menyakralkan bismillah sama artinya dengan tidak menyakralkan Al-Qur’an, karena bismillah adalah bagian dari Al-Qur’an, bahkan disebut sebagai ummul kitab (induk Al-Quran). Dan secara tidak langsung, ketika tidak menyakralkan Al-Qur’an, maka sama artinya dengan tidak menyakralkan Allah, karena Al-Qur’an merupakan kalamullah (Ucapan Allah).

Bahkan sebagian orang yang berfikiran sempit, sering kali menggunakan bismillah tidak untuk membela kemuliaan Tuhan, melainkan untuk membela kepentingan politik dan atau tokoh tertentu.

Seharusnya, saat mendengar nama Allah, hati kita tergetar karena rasa takut kepada Sang Maha Pencipta. Namun kini sebaliknya, jika diteriakkan nama Allah, orang akan bergetar hatinya bukan karena takut kepada Allah, melainkan takut pada orang yang mengatakannya.

Jadi, mari bersama melengkapi bismillah yang kita ucapkan dengan perilaku yang mencerminkan rahman dan rahim. Yakni, menyebut kemuliaan nama Allah disertai dengan tindakan yang mengasihi dan menyayangi, sebagaimana yang Allah lakukan terhadap manusia dan seluruh alam semesta.

Mari kita memosisikan kembali bismillahirahmanirahim sebagai kalimat yang sakral dan mampu menggerakkan hati untuk takut kepada-Nya. Mari sebarkan rahman dan rahim sebanyak-banyaknya, sebagaimana Allah menyebutnya lebih banyak dibanding 99 asma Allah yang lainnya. Wallahu A’lam.

ABAS ZAHROTIN, Penulis adalah Peminat Studi Agama dan Resolusi Konflik, Jurnalis Televisi Swasta Nasional, alumni PPTQ Al Asy'ariyyah, Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah.

 

Sumber: islami.co