Rabu, 21 November 2018

DI KUPANG, TOLERANSI DIJAGA DAN DICIPTAKAN

Selasa, 23 Oktober 2018
oleh : Kalis Mardi Asih
Dibaca sebanyak 316 kali
Dari tepian lapak ikan segar di Kelapa Lima, Oesapa, masjid Raya NTT berdiri megah di kota Kupang. Sejak tahun 60-an, Masjid raya yang kini terus direnovasi itu telah damai berdampingan dengan Gereja Kristus Raja, Katedral paling tua di Kupang. Baru-baru ini, ada sebuah fragmen kisah perdamaian soal keduanya. Pasca peristiwa bom Surabaya bulan Mei 2018 yang menarget gereja dengan tersangka sebuah keluarga Muslim yang membuat kita prihatin, di Kupang beredar broadcast pesan tak bernama lewat media sosial. Para jemaat telah bersiap datang untuk melakukan aksi solidaritas, mengingat broadcast cukup provokatif dengan pesan keagamaan.

 

 

Teman-teman penggerak perdamaian di Kupang justru resah. Mereka mendatangi para Pendeta dan para Romo, bertanya apakah undangan seruan aksi tersebut asalnya betul-betul dari gereja. Para Pendeta dan para Romo mengaku tak tahu menahu, tak ada seruan dari gereja.

Situasi masih panas. Jika solidaritas dibentuk berdasar kemarahan umat beragama tertentu, bisa jadi eksesnya justru tak baik. Apalagi, letak Masjid raya dekat sekali dengan Katedral. Umat Muslim di Kupang jumlahnya kecil, hanya 15% saja. Meski begitu, kini di NTT ada 35 masjid yang aman berkegiatan. Umat Muslim di Kupang bisa jadi apa saja. Bahkan, ketua DPRD Muslim pun terpilih, ketika ia punya kapasitas sebagai pemimpin.

Mereka mengingat peristiwa kerusuhan Kupang 98 saat puluhan Masjid dibakari disebabkan provokasi dan sentimen negatif yang tak bisa dikendalikan.

Para penggerak perdamaian bergerak. Mereka memastikan tak ada seruan aksi dari gereja, dan akhirnya aksi solidaritas dilaksanakan di lapangan Kantor Gubernur dengan peserta lintas iman. Dalam aksi itu, para Pendeta dan para Romo berpidato dengan sejuk, bahwa kekerasan tidak mengenal agama dan bisa menjumpai siapa saja. Mereka memastikan agar umat Muslim di Kupang tidak ketakutan dan tidak terdampak kebencian yang tak berdasar.

Sejak dulu, masyarakat Timor telah terbiasa dengan keragaman. Di Sumba, di Flores, di Ende, di Sabu, di Alor, di Bajo, di Rote, terdapat ratusan bahasa lokal, tradisi dan sejarah masing-masing. Satu yang menyatukan mereka adalah adat kumpul keluarga. Keluarga, bagi orang Timor adalah kutub yang menarik semua gerak untuk kembali. Semua permasalahan dapat diselesaikan baik-baik secara kekerabatan. Suku-suku yang menyelesaikan tugas adat lalu ingin memeluk agama, diberi kebebasan memilih agama yang ia yakini sesuai proses dan kesadaran masing-masing.

Toleransi memang dijaga dan diciptakan. Ia, kadang-kadang digoyang oleh pesan provokatif tak bertuan, tapi ia bisa dimenangkan.