Jumat, 19 Januari 2018

GUS DUR, SANG HAUS KEKUASAAN

Kamis, 04 Januari 2018
Dibaca sebanyak 110 kali
Gus Dur suka nyeleneh? Maka Gus Dur adalah orang yang haus kekuasaan. Dimana-mana dan di semua komunitas dan bahkan sebagai presiden selalu mengambil jalan yang tidak biasa. Aneh dan nyleneh! Seorang penulis menjuluki Gus Dur sebagai dissent democrat, karena kesuakaan Gus Dur menentang komunitas atau umatnya sendiri. Di tengah-tengah umatnya, pesantren dan NU, dia selalu menang melawan mereka. Tapi, kata penulis itu, di komunitas yang lebih luas Indonesia, ketika dia menjadi presiden: kalah! Dia terguling dari kursi presiden dan tidak bisa meraih lagi untuk selanjutnya.

Penulis lain mengatakan, dia gagal ketika presiden karena terlalu melibatkan pribadi dalam berbagai keputusannya. Dia bisa berhasil ketika dengan kelompok-kelompok lain menghormati keberadaannya sebagai tokoh masyarakat dan agama bukan hanya presiden. Tetapi melawan tentara dengan pendekatan pribadi itu non-sense.

Dia gagal mendorong sekelompok tentara progresif untuk melakukan reformasi TNI dari dalam, karena tidak mengikuti jalur organisasi TNI yang sudah mapan melainkan dengan relasi pribadi. Dia kalah dan terguling.

Saking hausnya kekuasaan, Gus Dur menamai sebuah lembaga yang sakti mandraguna  dengan taman kanak-kanak. Mereka marah besar, dan merekalah yang menggulingkan Gus Dur kemudian.

Dan Gus Dur pun gagal menghalangi perubahan julukan mereka yang kini lebih bergsengsi: PAUD

Gus Dur terlalu mengedepankan relasi pribadi karena memuja kekuasaan.

Tapi apa yang dimaksud dengan kekuasan itu?

Kekuasaan, menurut –nama pesantrennya Mohamad Faoqo (di atas)—tetapi di kampusnya dipanggil Michel Foucault, adalah sesuatu yang abstrak, tidak selalu dari atas ke bawah. Melainkan berada dan beredar di semua penjuru angin.     “(…) bukan suatu institusi, dan bukan struktur, bukan pula suatu kekuatan yang dimiliki; tetapi nama yang diberikan pada suatu situasi strategis kompleks dalam suatu masyarakat.” (maafkan para anak muda yang membaca tulisan-tulisannya dari edisi asli, penulis ini mah dari tangan ketiga atau keempat).

Nah, kekuasaan beredar di antara habitus habitus dalam arena sosial. Ada habitus yang menindas dan ada yang ditindas. Habitus yang bertahan pada kemapanan akan mengakumulasi modalitas untuk tetap menindas dan bahkan menginkorporasi habitus-habitus yang lain untuk itu.

Akan halnya, habitus tertindas juga harus memgakumulasi kapital untuk meraih kekuasan dan menggulingkan garis batas yang ditarik dengan kepastian, formalistik dan disiplin. Konter wacana, sosialisasi, dialog dan merusak tatanan yang mapan adalah cara-cara untuk melenyapkan penindasan. Itulah kekuasaan.

Gus Dur orang yang haus kekuasaan untuk merusak tatanan dan sisiplin yang menindas. Fiqh di peantren akan menindas jika dibiarkan kaku. Tatanan pemerintahan akan menindas jika dibiarkan otoriter tanpa mengindahkan hak-hak dasar rakyat.

Cendekiawan menjadi penindas kalau dibiarkan kumpul sesama berdasar agama.

Gus Dur sering mengorbankan dirinyai demi kekuasan.

Berikut, beberapa list sikap Gus Dur yang merusak tatanan demi kekuasaan untuk pembebasan dari penindasan:

-       mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua tanpa SK hingga UU Otsus diberlakukan;

-       sebagai presiden mengatakan pemerintah tidak setuju penangkapan para aktivis Papua (lah, dia presiden kok tidak setuju dengan pemerintah?);

-       asaalamualaikum boleh diganti selamat pagi;

-       boleh memakai sandal jepit masuk istana;

-       orang mati di kuburan tidak punya kepentingan, makanya sering dia tengok;

-       silahkah tambahkan daftarnya masih buanyak…