Sabtu, 21 Juli 2018

GUS DUR: SEBUAH BUKU YANG TERBUKA

Rabu, 21 Maret 2018
oleh : Arif Gumantia
Dibaca sebanyak 567 kali
K.H. Abdurrahman Wahid atau sering dipanggil Gus Dur adalah sebuah buku yang terbuka. Yang senantiasa siap kita baca, kita tafsirkan, kita diskusikan, dan barangkali juga siap untuk dicaci maki oleh lawannya. Meskipun Gus Dur tidak pernah memposisikan mereka yang berbeda ide dan pemikiran sebagai seorang “lawan”, melainkan lebih sebagai sahabat berdiskusi dan beradu argumentasi.

Sebagai sebuah buku, Gus Dur sangatlah menantang untuk dibaca dan ditafsirkan. Tentu dalam proses menafsirkan, akan muncul beragam tafsir, tergantung sudut pandang dan pisau analisis yang dimiliki penafsirnya. Tetapi sebagaimana yang dikatakan Gus Dur, bahwa kita tidak boleh memaksakan penafsiran kita pada orang lain. Biarkan tafsir tersebut menjadi bianglala ilmu pengetahuan yang indah.

Gus Dur tidak mengikuti arus, juga tidak melawan arus. Gus Dur menciptakan arus pemikiran-pemikiran, yang tidak hanya berhenti pada sebuah ucapan yang bombastis, tapi secara konsisten juga diwujudkan dalam perilaku, tindakan, dan amaliyah beliau.

Ketika begitu banyak orang meributkan masalah pornografi, Gus Dur melontarkan kalimat: "Kalau mau mengajari orang baris berbaris, ya harus tahu baris berbaris yang benar dulu."

Juga sebuah kalimat yang kontemplatif: “Porno atau tidak, itu ada dalam kontruksi pemikiran Kita.” Kalau pikiran sudah “ngeres” melihat seseorang yang tertutup rapat auratnya pun akan bangkit nafsu syahwatnya. Sebuah parafrase yang kalau tidak dipahami dengan pemahaman yang holistik, tentu kita tidak akan menemukan substansi yang sebenarnya.

Saat menjadi Presiden, orang-orang mengecam kegemarannya berkeliling dunia, padahal kalau kita cermati negara yang beliau kunjungi itu identik dengan daftar undangan Konferensi Asia-Afrika.

Brasil mengekspor sekian ratus ribu ton kedelai ke Amerika setiap tahunnya, sedangkan kita mengimpor lebih separuh jumlah itu, dari Amerika pula. Maka Gus Dur ke Brasil agar kita dapat membeli langsung kedelai dari sumbernya tanpa makelar Amerika.

Venezuela mengimpor seratus persen belanja rempah-rempahnya dari Rotterdam, sedangkan kita mengekspor seratus –persen rempah-rempah kita ke sana. Maka Gus Dur mencoba menawari Hugo Chavez membeli rempah-rempah langsung dari kita.

Gus Dur juga mengusulkan kepada Sultan Hasanal Bolkiah untuk membangun Islamic Financial Center di Brunaei Darussalam, lalu melobi negara-negara Timur Tengah untuk mengalihkan duit mereka dari bank-bank di Singapura ke sana.

Tapi media dan orang-orang menyebut Gus Dur suka pelesir, bukan memberi apresiasi sebagai sebuah langkah taktis untuk melawan ketidakadilan dalam tata perdagangan internasional. Padahal itu ibarat langkah kuda dalam catur atau langkah cerdik agar tidak menyerang kekuatan dua dunia secara frontal. Dan agar negeri ini tidak menjadi pekathiknya negara lain dan hanya bisa “sendiko dawuh”.

Langkah-langkah tersebut dilakukan bukan dalam rangka tebar pesona dan pencitraan. Untuk hal-hal yang prinsip, seperti perjuangan kedaulatan hukum, Pancasila, UUD 45, membela yang diperlakukan tidak adil, Gus Dur tidak pernah berhitung secara politis. Apakah ucapan dan tindakan-tindakannya populer, semua dikesampingkan.

Suatu misal ada penyerangan warga Ahmadiyah, atau warga minoritas lainnya, kita pasti langsung mendapati Gus Dur berbicara di media, menuntut tanggung jawab pemerintah. Tak peduli hal demikian akan menurunkan popularitasnya. Dalam hal ini, yang dibela bukanlah Ahmadiyah, Kristen, Tionghoa tetapi hak mereka hidup dan menjalankan ibadah yang dilindungi oleh konstitusi.

Gus Dur seperti sebuah buku yang spektrumnya begitu luas. Karena begitu luas wawasan intelektualitasnya juga bidang yang diperjuangkannya. Dari artikel-artikel dan kolom-kolomnya dulu yang tersebar di media masa, semua dapat kita baca. Ada artikel tentang sepakbola, artikel tentang Budaya, politik.

Juga kegemarannya dalam mendengarkan musik. Mulai musik Timur Tengah, musik tradisional, sampai lady rocker Janis Joplin. Dan juga ketertarikannya pada dunia sastra. Gus Dur pernah mengatakan, dua novel Indonesia yang paling beliau sukai adalah Bumi Manusia karya Pramoedya ananta Toer dan Jalan Tak Ada Ujung karangan Mochtar Lubis.

Dan setelah penulis membacanya berulang, dua novel tersebut memang kontemplatif, memberikan perenungan yang dalam bagi pembacanya. Tentang nilai-nilai kemerdekaan dan kemanusiaan, tentang pentingnya memperjuangkan nilai-nilai humanisme universal.

Kalau kita bisa mencermati dan menganalisanya secara obyektif, apa pun yang diperjuangkan Gus Dur dan sering menjadi polemik, sebenarnya adalah sesuai dengan tujuan kita mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, yaitu yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indoenesia alinea ke-4:

Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Hal yang juga menarik dari sosok Gus Dur adalah seringnya melontarkan joke dan anekdot dengan diakhiri kalimat: "Gitu aja kok repot."

Humor yang selalu membuat kita tertawa dan membuat ruang publik kita menjadi berwarna dan tidak “sumpek” dengan perbincangan-perbincangan yang kaku dan politis. Jika kita cermat menganalisa joke-joke tersebut, selalu ada makna filosofis dan kontemplatis yang bisa kita dapatkan.

Dan saat-saat ini, di mana ruang politik kita riuh rendah dengan kalimat-kalimat yang berisi makian dan kemarahan, maka kita merindukan Gus Dur dengan joke-joke segarnya.

Dari spektrum pemikiran-pemikiran Gus Dur yang begitu banyak, beragam dan lintas batas dapat kita tarik benang merah sebagai nilai-nilai dasar Gus Dur yaitu :Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Kesederhanaan, Persaudaraan, Keksatriaan, dan Kearifan lokal.

Sebagai sebuah buku yang terbuka dan terus bisa dibaca dan dikaji, maka sembilan nilai dasar ini semoga akan dapat terus kita perjuangkan.

Dimuat juga di: medium.com