Rabu, 23 Mei 2018

HAUL GUS DUR DAN KISAH SAYA DI KAMPUS KATOLIK

Minggu, 11 Februari 2018
oleh : Ahmad Naufa Khoirul Faizun
Dibaca sebanyak 978 kali
Di sebuah sudut di Kampus Katolik Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta, ada tempat berukuran sekitar 3×2 meter. Tak mewah, memang. Namun, di atap ruangan itu tertulis tanda panah, arah kiblat. Dan di bawahnya terhampar beberapa sajadah. Itulah, bentuk toleransi beragama yang nyata-nyata ada di Indonesia: sebuah Universitas Katholik, menyediakan Mushala, tempat untuk shalat bagi yang beragama Islam.

Ketika matahari sudah mulai turun, saya dan teman-teman Gusdurian Purworejo berangkat ke Jogja, pada Senin (5/2) pukul 14.00 WIB. Ikut juga dalam rombongan ini, adalah Mas Bramantyo, pelukis muda dari Purworejo, yang kali ini karyanya memeriahkan Haul Sewindu Gus Dur bertajuk “Ziarah Budaya: Menjadi Gus Dur Menjadi Indonesia,” yang digelar di USD, Yogyakarta. Meski telat di pembukaan, saat pameran kami datang tepat waktu.

Bakda asar, Mbak Alissa Wahid membuka sekaligus meninjau pameran foto dan lukisan. Tak terkecuali, beliau juga melihat lukisan Gus Dur karya Mas Bram. Sambil bertanya tentang lukisan-lukisan Gus Dur, Mbak Alissa sesekali juga bercerita soal Gus Dur dengan vespanya, dan melempar beberapa joke yang membuat kami tertawa.

“Kalau saya paling tertarik dengan lukisan ini,” katanya, sambil menunjuk lukisan Gus Dur berjudul “The Last Supper” (perjamuan terakhir). Dalam lukisan itu, Gus Dur duduk satu meja bersama tokoh-tokoh agama lain. Ketika ditanya Mbak Alissa, Mas Bram mengaku lukisan itu terinspirasi dari karya Leonardo Da Vinci dan tindak-tanduk Gus Dur yang menghargai semuanya. Mbak Alissa mengapresiasi Gusdurian Purworejo, yang meski baru terbentuk, sudah membuat gebrakan. Ia, dalam kesempatan itu, juga menyampaikan keinginannya untuk mampir di Basecamp Gusdurian Purworejo.

Usai foto-foto dengan Mbak Alissa, kami ke luar untuk mencari minuman. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB lebih. Waktu asar hampir habis. Ketika akan ke luar itulah, saya melihat sebuah tempat kecil, yang setelah saya cek, itulah mushala, tempat untuk shalat.  Seketika, saya masuk, berwudlu di toilet yang ada di sebelahnya, kemudian shalat ashar di situ. Usai shalat, saya berpikir, bahwa kehidupan keagamaan kita di Indonesia telah terbangun semenjak lama, sebenarnya. Akhir-akhir ini saja, banyak terjadi sentimen agama yang kuat karena – menurut saya – imbas dari politik dan wacana skriptualisme islam yang mulai laku. Mushala kecil ini adalah bukti bahwa toleransi beragama telah tumbuh subur dan mengakar di Indonesia.

Menjelang Isya’, di sekitar Auditorium Driyarkara USD telah berjubel ratusan orang. Di depan auditorium, panitia mengecek peserta yang telah registrasi secara online. Di sebelah selatan gedung, layar besar disediakan bagi yang tidak atau belum ter-registrasi (meski akhirnya peserta diperbolehkan masuk semua). Di lokasi itu juga, enam gerobak angkringan disediakan untuk menjamu para peserta yang hadir di Puncak Acara Sewindu Haul Gus Dur ini. Tak berselang lama, makanan dan minuman di angkringan itu pun ludes dilibas peserta, yang kebanyakan mahasiswa, santri dan pemuda.

Pukul 19.00 WIB acara sudah mulai, dengan menampilkan berbagai kesenian sebagai menu pembukaan. Orkes Jangan Gori, Tari Papua, Barongan Jawa, Grisadha, dan Barongsai beraksi sebagai opening performances. Saya sendiri masih stay di luar. Tak berselang lama, Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, datang dengan sebuah sedan hitam. Wanita yang masuk dalam jajaran 11 wanita perpengaruh di dunia versi Majalah Time itu, dibopong (beserta kursi rodanya) untuk menaiki tangga. Banyak tokoh yang menyambut, termasuk para jurnalis yang mengarahkan lensa kameranya menembak beliau. Disusul kemudian beberapa tokoh nasional seperti Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, Prof. Mahfud MD, KH. Ulil Abshar Abdalla, dll.

Acara dibuka dengan lantunan Indonesia Raya. Auditorium itu gemeruh oleh lagu pemersatu gubahan musisi kelahiran Purworejo, WR. Soepratman, yang bikin merinding siapa saja yang ada di dalamnya. Selanjutnya, acara dibawakan oleh tiga pelawak Yogyakarta: Anang Batas, Alit Jabang Bayi, dan Awangizm. Hadirin dibuat terpingkal-pingkal dengan lawakan model lama ini: plesetan dan saling menjatuhkan. Laporan panitia dibawakan oleh dua orang, cowok dan cewek yang masih muda. Dengan bahasa yang puitik, laporan panitia saya anggap keren dan dalam.

Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D selaku Rektor USD dalam sambutanya mengaku merasa terhormat menjadi tuan rumah acara ini. Ia berharap,  mahasiswa sebagai anak muda akan semakin berani membela kebenaran dan menjunjung tinggi toleransi, menjadi Gus Dur muda.

Acara dilanjutkan dengan doa bagi Bangsa Indonesia yang dipimpin oleh para pemuka lintas agama, serta pembacaan puisi kepada Gus Dur. Dalam sesi ini, pemandangan begitu menakjubkan. Selain para tokoh agama yang berdiri mewakili, ada juga anak-anak yang berdiri di depannya membacakan puisi secara bergantian. Puisi yang dibacakan, pada intinya, mengritik problematika sosial-keagamaan yang sedang hangat, dengan sesekali slentingan dan joke yang bikin hati terpingkal-pingkal.

Selanjutnya, yang menarik dan memiliki pesan yang dalam, adalah penampilan kolaborasi Paduan Suara GKI Gejayan dan Seni Hadrah dari para santri yang menampilkan Syi’ir Tanpo Waton. Hal ini menunjukkan, bahwa perbedaan bukan menjadi alasan untuk tak bisa bersatu, apalagi saling menistakan. Justru, perbedaan itu jika disatukan dalam batas tertentu, menjadi sebuah keindahan dan kekuatan.

Dalam terstimoninya, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, mantan menteri di era Gus Dur mengatakan: “Negara juga tidak bisa diperbenturkan dengan agama, karena orang beragama dengan baik itu bisa bernegara dengan baik, orang bernegara dengan baik juga bisa beragama dengan baik”.

Mahfud MD, salah satu orang dekat Gus Dur, bercerita berbagai peristiwa di mana Gus Dur secara langsung atau tidak langsung menyampaikan ajarannya. Misalnya soal pluralisme, kata Mahfud, yang diibaratkan Gus Dur sebagai tinggal di rumah besar dengan banyak kamar.

Gus Dur mengibaratkan setiap kamar digambarkan dihuni oleh pemeluk masing-masing agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia. Di kamar itu, tutur Mahfud, setiap orang bebas bertindak sesuai aturan kamar masing-masing. Namun, begitu keluar dari kamar dan berkumpul di ruang keluarga, semua harus tunduk pada kesepakatan bersama.

“Indonesia adalah ruang besar itu, yang telah dibentuk oleh pendahulu bangsa dengan kebesaran hati. Indonesia tidak bisa diubah tata kehidupannya dengan aturan dari satu kamar saja. Ada kamar Islam, kamar Hindu, kamar Katolik, kamar Kejawen, biarkan saja. Tetapi ketika kita ketemu di lapangan perjuangan, politik, kenegaraan bernama Indonesia, kita harus bersama. Itulah yang disebut Gus Dur sebagai pluralisme,” kata Mahfud, disambut tepuk tangan hadirin.

Mahfud juga mengenang Gus Dur sebagai pribadi yang tegas. Jika dia menganggap pilihan langkahnya benar, maka Gus Dur akan memperjuangkan itu, apapun risikonya. Tidak hanya dalam kehidupan sosial beragama di Indonesia, namun juga dalam ranah politik. Sikap itu lah yang membuat Gus Dur jatuh di tengah masa kepresidenannya.

Mahfud bercerita ketika masyarakat ramai soal Masjid Ahmadiyah di Bogor, yang dirusak, Gus Dur mendatangi orang-orang yang melakukan perusakan dan memarahi mereka. Walau tindakan Gus Dur memicu kemarahan FPI, beliau tetap tenang.

“Waktu dia menjadi presiden, kalau dia mau bicara, ya dia tidak menghitung resiko politiknya, dia dimarahi, dimusuhi, dijatuhkan, nggak apa-apa. Karena saya, kata Gus Dur, bicara benar,” kenang Mahfud.

Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid juga di daulat memberi testimoni di malam itu. Beliau mengungkapkan banyak hal. Salah satunya adalah perjuangan Gus Dur dalam merawat Indonesia.

“Dalam upaya untuk merajut, merawat dan menjaga berbagai macam kebudayaan, Gus Dur melakukannya dengan dialog, interaksi, komunikasi secara intens baik secara verbal dalam forum-forum maupun tulisan di media massa dan buku-buku. Gus Dur juga melakukannya melalui laku hidupnya sendiri,” kata Sinta Nuriyah di depan hadirin.

“Sebagian besar hidup Gus Dur diabdikan untuk merajut sekaligus merawat dan menjaga perbedaan kebudayaan yang ada di Indonesia. Karena bagi Gus Dur kebudayaan merupakan cermin dasar dari kemanusiaan. Artinya manusia akan bisa menegakkan harkat dan martabatnya kalau dia masih berkebudayaan,” ungkapnya.

Rangkaian acara peringatan sewindu haul Gus Dur sudah digelar sejak awal Januari lalu. Dalam rilis akun instagram @JaringanGusdurian, ada 4 negara, 66 kota dan 99 titik peringatan dengan beragam kegiatan keagamaan maupun kebudayaan. Gusdurian Purworejo sendiri, yang diketuai oleh Muhammad Hidayatullah memperingati Haul Gus Dur dengan Pameran Lukisan-lukisan Gus Dur karya Mas Bramantyo Astadi, Diskusi Kebangsaan, Musik Akustik, Pembacaan Puisi  yang digelar di Gedug Ahmad Yani Purworejo, beberapa waktu lalu. Ziarah Budaya di USD ini adalah puncak peringatan, dan diharapkan menjadi tonggak mengenang Gus Dur dan semangatnya dalam merawat kebhinekaan di Indonesia.

Puncak peringatan ini juga dimeriahkan oleh penampilan musisi Glen Fredly dan Stand Up Comedian Jogja, yaitu Benedictivy, Gigih Adiguna, dan Iqbal Kutul. Glen Fredly membawakan tiga lagu yang menyihir penonton di malam itu. Hadirin juga dibuat terbahak-bahak dengan penampilan ketiga Stand Up Comedian, yang banyak mengangkat isu toleransi di Indonesia dengan balutan humor dan kritik yang sarat makna.

Acara diakhiri dengan menyanyikan lagu Tanah Air dan Gebyar-Gebyar oleh seluruh pengisi acara, tamu undangan, dan penonton sambil berdiri. Seisi auditorium USD menyalakan flashlight dari ponselnya untuk mendukung hangatnya suasana malam itu. Usai acara, para tokoh dan tamu yang ada di depan pun diserbu oleh hadirin yang ingin foto bersama. Saya sendiri, Alhamdulillah, kebagian foto bareng dengan Gus Ulil Abshar Abdalla dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas, istri Sri Sultan Hamengkubuwono X. [

Sumberhttps://islami.co/haul-gus-dur-dan-kisah-saya-di-kampus-katolik/