Senin, 19 November 2018

IDUL ADHA, EMPATI UNTUK MEILIANA DAN GUYONAN GUS DUR

Kamis, 06 September 2018
oleh : Saiful Haq
Dibaca sebanyak 236 kali
Empati untuk Meiliana datang saat Idul Adha, saya teringat guyonan Gus Dur. Hari raya Idul Adha atau kita sebut juga sebagai Idul Qurban baru saja kita rayakan. Perayaan keagamaan yang mengingatkan kita kepada hari ketika Nabi Ibrahim, yang bersedia untuk mengorbankan putranya untuk Allah, kemudian sembelihan itu digantikan “stuntman” oleh-Nya dengan domba. Saya tidak akan membahas keseluruhan sejarah Idul Adha, tetapi lebih tertarik momen percakapan nabi Ibrahim dan anaknya Ismail terkait perintah Allah lewat mimpi sang Bapak. Hal ini diabadikan dalam surat Ash-Shaffat ayat 102.

 

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar””(Ash-Shaffat : 102).

Meski sang Bapak bisa saja langsung melakukan perintah Allah tanpa berdiskusi dengan sang Anak, tetapi nabi Ibrahim tetap bermusyawarah dengan anaknya. Beliau menanyakan pendapat bahkan perasaan sang anak. Ini sungguh cara penghormatan terhadap orang lain, meski kita lebih memiliki power.

Saya kemudian menyimpulkan bahwa sensitivitas merupakan salah satu hikmah dalam Idul Adha yang patut kita pahami. Bahwa sebagaimanapun wow-nya kekuatan kita untuk mengontrol orang lain, tetapi kita tetap harus mau dan mampu mendengarkan perasaan orang lain.

Saya kira itu pula yang diajarkan keluarga Ibrahim kepada kita, umat Islam masa kini.

Berkurban tapi Egois, Ada yang Salah dengan kita?

Sensitivitas itulah yang membawa kita memiliki kepekaan sosial sekaligus kesalehan sosial kepada pemeluk agama lain. Memiliki hati lapang untuk menerima masukan dan kritik-saran atas cara keberagamaan kita.

Bagi saya pribadi, sungguh apa yang terjadi kepada ibu Meiliana, (44 thn) dari etnis Tionghoa dan umat Budhis asal Tanjung Balai adalah ciri kehilangan sensitivitas terhadap orang lain. Vonis pengadilan 18 bulan penjara karena mengkritik azan dengan pengeras suara luar, sungguh penistaan terhadap diri kita umat Islam.

Bagaimana mungkin agama kita dinistakan dengan volume pengeras suara? Kecuali memang kitanya saja yang anti-kritik dan tidak sensitif perasaan orang lain, sehingga tiap masukan dari orang lain kita anggap pelarangan berekspresi beragama? Lalu kita berteriak kritik itu bentuk anti Islam. Alah mbel!

Sejatinya, saat kita melihat hewan kurban yang disembelih, kita pun memahami bahwa yang bercucur itu adalah egoisme kita. Bukan malah berpikir kita nanti dapat daging sebelah mana. Itu sama saja egoisme.

Guyonan Gus Dur

Sebagai penutup, saya teringat guyonan Gus Dur tentang perkumpulan tiga tokoh agama, yakni agama Islam, Kristen, dan Budha. Rupanya mereka sedang ngobrol mengenai agama mana yang paling dekat dengan Tuhan?

Seorang biksu Budha menjawab duluan. “Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap kita beribadah ketika memanggil Tuhan kita mengucapkan ‘Om’. Nah kalian tahu sendiri kan seberapa dekat antara paman dengan keponakannya?”

Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal.“Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan.” ujar pendeta

“kami memanggil Tuhan dengan ‘Bapa’. Nah kalian tahu sendiri kan lebih dekat mana anak sama bapaknya daripada keponakan dengan pamannya,” jawab pendeta.

Ustadz perwakilan Islam malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta.

“Loh kenapa anda kok tertawa terus?” tanya pendeta penasaran.

“Apa anda merasa bahwa agama anda lebih dekat dengan tuhan?” sahut biksu bertanya.

“Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat justru agama saya malah paling jauh sendiri dengan Tuhan.” jawab Sang Ustadz dengan menahan tawanya.

“Lah kok bisa ?”

“ Lah gimana tidak, lah wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara),” jawab Ustadz.

Semoga Allah melapangkan hati kita dari sikap-sikap anti kritik dan menjaga kita dari kolesterol akibat kebanyakan makan daging. Amin ya rabbal al amin. Wallahu ‘alam bishawab.