Senin, 27 Mei 2019

KAJIAN PITULASAN GUSDURIAN BOJONEGORO: "KEBUDAYAAN DAN GUS DUR"

Minggu, 24 Maret 2019
oleh : Hendro Sulistiyo
Dibaca sebanyak 355 kali
Perjalanan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke Amerika, Mesir, Eropa dan negara-negara yang lain. Itu semata untuk belajar. Belajar tentang Budaya, ilmu pengetahuan, ke-islam-an serta gerakan-gerakan yang muncul dari lapisan masyarakat.

Khususnya Gus Dur mempelajari tentang ke-islam-an, memahami bagaimana budaya dan aktivitas kemajemukannya serta perkembangan dari nilai-nilai keislaman itu sendiri.

Mulai tahun 1970 an, Gus Dur mulai perjalananya hingga akhir tahun 1970 an, Gus Dur telah menjadi pribadi yang matang dalam melihat persoalan Politik, sosial, ekonomi, keagamaan bahkan budaya. Sehingga pasca pulang dari perjalananya ke mancanegara, Gus Dur terpilih menjadi ketua umum PBNU.

"Karena tiada ilmu yang salah" salah satu kutipan yang disampaikan Ahmad Taufik saat diskusi.

Dari kutipan di atas, Ia menegaskan, sampai diulang beberapa kali. Bahwa, ilmu yang didapat Gus Dur dari perjalananya, itu semua benar, itu yang Gus Dur dapat dari proses perjalanan ke mancanegara. Termasuk, "Ekstrimis dalam gerakan, Fundamental soal pemahaman,"

Dan yang paling penting adalah, "Gus Dur hanya mempelajarinya dan menyimpan ilmu tersebut, bukan menerapkanya (di indonesia). Karena dari berbagai negara tersebut, Gus Dur tidak menemukan kecocokan maupun kesamaan dengan budaya orang Islam di Indonesia."tambah Taufik (yang juga seorang dosen di salah satu universitas di Bojonegoro).

Selebihnya hasil perjalanan Gus Dur tersebut. Gus Dur selalu melihat "Tekstual (Dalil Naqli) maupun Kontekstual (Dalil Aqli), tidak lantas langsung mengamini (meng-iya-kan)" yang akhirnya tetap meneruskan perjuangan-perjuangan para pendahulu (Waliyullah), dengan konsep yang diperbaharui, yaitu Pribumisasi Islam. Bukan pembaharuan nilai-nilai dari islam itu sendiri.

"Seperti, Masjid Demak. Kontruksinya dibangun oleh kanjeng Sunan Kalijaga, yang didalamnya terdiri dari simpul-simpul beberapa agama, Hindu, Budha, Kristen, dll. Meskipun dalam aktivitas masjidnya adalah Islam.

Kanjeng Sunan faham dan sadar, akan keyakinan masyarakat di sekitar masjid yang beragam. Sehingga kanjeng Sunan tidak ingin menghambat perkembangan Syiar dari Agama Islam, hanya karena penampilan.  Yang terpenting adalah isinya (Imanya)."

Dalam perjalananya, Gus Dur tidak menemukan konsep Formalisasi Agama (Khususnya Islam), yang cenderung membuat pola di masyarakat (dalam bersosial) yang akhirnya memunculkan gerakan separatis-separatis antar kelompok.

Meskipun dalam perjalanannya, Gus Dur juga mempelajari Marxisme, Leninisme maupun gerakan-gerakan kiri yang lain.

Bojonegoro, 23-03-2019.

Hendro Sulistiyo, Penggerak GUSDURian Bojonegoro.