Rabu, 20 November 2019

LIMA JALAN ESAI ALA GUS DUR

Jumat, 11 Oktober 2019
oleh : Muhidin M Dahlan
Dibaca sebanyak 982 kali
Diriwayatkan oleh Syu’bah Asa di esai “Gus Dur Mencapai Cita-Citanya” dalam Melawan Melalui Lelucon (2000), tersebutlah bahwa Gus Dur itu orangnya bersahabat, tidak formal, punya empati besar, cepat bereaksi, di samping luas perhatian dan banyak guyon.

Alkisah di masa-masa itu, ketika TEMPO masih berkantor di Proyek Senen, Jakarta Pusat, sekitar akhir 1970-an sampai 1980-an, Gus Dur kerap datang untuk menulis kolomnya. Produktif sekali. Kalau tidak salah, yang satu belum dimuat, sudah datang yang lain.

Produktivitas Gus Dur itu bikin pemimpin redaksi Goenawan Mohamad menyarankan kepada Syu’bah Asa mengurus satu meja khusus plus mesin ketik untuk dia.

Dan demikianlah, Gus Dur datang untuk menulis kolomnya di TEMPO dengan gaya yang selalu siap untuk (((menulis kolom))) ngobrol, pakai sandal, tidak pernah bersepatu, pakai hem lengan pendek, tidak pernah pakai peci, apalagi dasi. Gus Dur selalu membawa lelucon yang membuat orang tergelak-gelak. Setelah ger-geran sedikit, barula ia menuju mejanya dan mulai mengetik. Sekitar dua jam kemudian ia mendatangi Goenawan, atau saya, dan menyerahkan tulisannya.

“Ini. Terserah Mas Syu’bah.” Atau, “Terserah Mas Goen.”

Sesudah itu ia tak peduli mau diapakan kolomnya: diedit, dibolak-balik, dikurangi, terserah. Asalkan masih tetap pikiran dia tentu saja. Biasanya Goenawan menaruh lagi kolom yang diberikan Gus Dur itu di meja saya. Tapi, kalau sudah dia sentuh sedikit-sedikit, ya, saya teruskan saja ke pracetak.

Demikianlah Gu Dur menulis esai yang diriwayatkan Syu’bah Asa.

Dan sampailah ke saya. Setelah membaca (lagi) serangkaian esai Gus Dur, baik yang dimuat di Prisma, Kompas (sudah dikumpulkan dalam satu buku), maupun Tempo (sudah dikumpulkan dalam satu buku), saya mengerucutkan lima asas Gus Dur dalam menulis esai khas dirinya:

1. Menulislah dengan spontan. Dimulai dengan gojek di antara kenalan karena guyonan membuat rileks. Saat pikiran rileks itulah spontanitas muncul.

2. Disiplin. Banyak gojek, tak berarti leyah-leyeh. Ratusan esai yang sudah dituliskan tentu tak lahir dari kesembronoan menata waktu. Termasuk dalam hal ini disiplin dalam menulis cepat.

3. Pertajam indera. Bahkan saat dalam bus mendengarkan teriakan-teriakan kondektur bus dan segala perubahannya. Juga buka lebar-lebar mata membaca perubahan perilaku gaya hidup orang lain.

4. Silaturahmi. Pengalaman banyak ditimba dari silaturahmi. Pengalaman adalah salah satu data penting dalam membangun esai yang lancar.

5. Membaca. Mau jadi penulis esai, tapi malas membaca (esai)? Lupakan! Membaca menjadikan spektrum pikiran menjadi luas. Mentang-mentang dari pesantren, tahunya hanya soal agama melulu, kitab keluaran dari kawasan tertentu saja. Musik? Film? Sepak bola? Gaya hidup? Humor? Politik? Ekonomi? Buku? Agraria? Membaca memungkinkan menjadi banyak tahu. Perkara didalami semua, lain soal.

PS. Tiga esai Gus Dur yang paling saya sukai: “Tuhan Tak Perlu Dibela”, “Kwitang, Kwitang”, dan “Tiga Pendekar dari Chicago”.

Muhidin M Dahlan, penulis esai.

Sumber tulisan: https://medium.com/aku-buku/lima-jalan-esai-ala-gus-dur-e00b4f64bb6c