Selasa, 22 Oktober 2019

MENDALAMI GAGASAN GURU BANGSA MELALUI KELAS PEMIKIRAN GUS DUR

Senin, 15 Juli 2019
oleh : Sarjoko Wahid
Dibaca sebanyak 349 kali
Komunitas Gusdurian Banyumas menyelenggarakan Kelas Pemikiran Gus Dur yang ketiga pada hari Sabtu-Minggu, 13-14 Juli 2019 di Griya Gusdurian Banyumas. Acara ini diikuti oleh 25 penggerak Komunitas Gusdurian Banyumas berusia 18-25 tahun.

Koordinator Gusdurian Banyumas, Chumeidi Yusuf menyampaikan bahwa kegiatan ini dimaksudkan untuk memupuk pemahaman para penggerak terkait nilai dan pemikiran serta keteladanan Gus Dur. Ia menilai bahwa saat ini gagasan yang dicetuskan dan teladankan oleh Gus Dur masih sangat relevan untuk diteruskan oleh kaum muda. "Terutama gagasan toleransi dan kemanusiaan sebagai syarat kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis perlu disuarakan terus menerus," ujar Chumeidi.

Ketua pelaksana kegiatan, Nurholis menjelaskan bahwa peserta merupakan penggerak aktif yang selama ini sudah aktif mengikuti kegiatan Gusdurian. "Namun wawasan mengenai Gus Dur dan nilai-nilai yang diperjuangkan masih perlu ditanamkan lebih lanjut," jelasnya.

Gus Dur dan gagasannya

Acara dibuka dengan sesi bina suasana, kemudian dilanjutkan dengan materi tentang biografi Gus Dur dan gagasan Gus Dur tentang keislaman, kebudayaan, dan demokrasi. Pengisi materi ini adalah KH Marzuki Wahid, pengurus Lakpesdam PBNU dan direktur Yayasan Fahmina, Cirebon.

Marzuki mengungkapkan kepada peserta mengenai perjalanan hidup Gus Dur yang membentuk dirinya menjadi orang yang dikenal saat ini. "Kita melihat Gus Dur sebagai seorang kiai, presiden, budayawan, dan lain sebagainya. Tapi pernahkah kita melihat perjalanan hidup Gus Dur yang penuh dengan suka dan duka?"

Ia mencontohkan fase kehidupan Gus Dur ketika kembali dari belajar di luar negeri. "Untuk menghidupi diri dan keluarganya, Gus Dur menulis dan berjualan kacang," kisahnya. Baginya, penggerak Gusdurian perlu melihat sejarah hidup Gus Dur agar memahami bagaimana guru bangsa itu membentuk dirinya dari proses belajar yang panjang dan terus menerus.

Di sesi pendalaman sembilan nilai utama Gus Dur, Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian, Jay Akhmad menjelaskan pentingnya meneladani sembilan nilai utama Gus Dur dalam kehidupan seorang Gusdurian. Sembilan nilai ini mencakup ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, keksatriaan, dan kearifan lokal. "Meneladani kesembilan nilai inilah yang membuat seseorang bisa disebut sebagai Gusdurian."

Ia kemudian mengkritik banyaknya pihak yang mengaku Gusdurian, tetapi tidak mengamalkan nilai-nilai yang diteladankan oleh Gus Dur. Justru pihak-pihak ini menggunakan Gusdurian sebagai komoditas kepentingan sesaat saja.

Di musim politik misalnya, nama Gusdurian sering diseret dalam dukung mendukung politik praktis. Bagi Jay, Gusdurian memang berpolitik, tetapi bukan politik praktis. "Kita berpolitik yang tidak praktis, politik ruwet, alias politik kebangsaan," ungkapnya. Walau demikian, Gusdurian tidak melarang anggotanya berpolitik. "Yang dilarang adalah membawa dan mengatasnamakan Jaringan Gusdurian dalam berpolitik praktis," jelasnya.

"Gusdurian sejak awal dibentuk untuk tujuan jangka panjang, yaitu mendorong terciptanya masyarakat yang mandiri. Jika ada seseorang mengatasnamakan Gusdurian tetapi tidak memiliki visi tersebut, kita biasa menyebutnya sebagai Gusdurian seolah-olah," tegasnya.

Sarjoko Wahid, penulis adalah SekNas Jaringan Gusdurian.