Senin, 19 Agustus 2019

PROKLAMASI

Selasa, 13 Agustus 2019
oleh : Haris El Mahdi
Dibaca sebanyak 90 kali
“Tidaklah pernyataan ini dituliskan di atas perkamen dari emas. Kalimat-kalimat ini hanya digoreskan pada secarik kertas” – Ir. Soekarno
15 Agustus 1945, lewat tengah malam di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, terjadi keributan antara kaum muda dengan Soekarno. Beberapa orang muda itu meminta – dengan memaksa – agar Soekarno segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Bertekuk-lutunya Jepang di hadapan Sekutu merupakan argument kaum muda saat itu.
 
Dengan nada keras, seorang pemuda berujar : “” Kami tidak sedia diserahkan sebagai inventaris oleh Jepang pada penjajah Belanda melalui sekutu, tidak, kami akan berontak!”.. Seruan ini dibalas beramai-ramai oleh para pemuda yang lain : “Ya Bung, kami akan berontak..!”
 
Dan, dengan lantang, di depan Soekarno, seorang pemuda anggota PETA bernama Wikana berteriak mengancam :” ”Jika bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman pada malam ini juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran besok hari.” Mendengar ancaman itu, tanpa ada yang menduga, Bung Karno mendekati Wikana dan dengan penuh kewibawaan, Bung Karno berujar lantang :” Ini kuduku boleh potong, hayo! penggal kepalaku, engkau bisa membunuhku, tapi jangan kira aku bisa dipaksa untuk mengadakan pertumpahan darah yang sia-sia, hanya karena hendak menjalankan sesuatu menurut kemauanmu”. Suasana hening, Wikana terdiam.
 
Di titik ini, kita melihat bahwa Soekarno adalah sosok pemimpin yang penuh wibawa. Ia sang Fajar yang penuh kharisma. Di saat-saat perdebatan sengit dengan kaum muda, Soekarno berujar : “Jika kalian terus mendesak, umumkan sendiri kemerdekaan Indonesia..!”. Tentu saja, tantangan dari Soekarno itu tak bisa dijawab oleh kaum muda. Tak ada pemimpin yang layak mengumumkan kemerdekaan Indonesia selain Soekarno. Ia adalah “centre of gravity” Indonesia kala itu, perekat semua golongan, pengikat segala kepentingan.
 
Esok harinya, ketika kaum muda “menculik” Soekarno dan Hatta ke Rengasdenglok, di hadapan Sukarni dan kawan-kawan, Soekarno berkata :”aku adalah seorang yang menyukai mistis, akan aku umumkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 karena 17 adalah symbol dari rakaat sholat”. Segera, sejarah mencatat pada tanggal 17 Agustus 1945, Proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Soekarno, didampingi Mohammad Hatta.
 
Mendengar pidato Soekarno itu, banyak orang menangis terharu, banyak orang meneteskan air-mata. Tetapi, ini bukan air mata kesedihan melainkan air-mata kebahagiaan. Dan, sejatinya, sebuah kebahagiaan lebih layak untuk ditangisi daripada disambut dengan gelak-tawa dan minum anggur.
 
Bangsa yang sekian ratus tahun ditindas oleh kolonialisme, akhirnya bersuara merdu menyatakan kemerdekaan. Tak ada kebahagian yang layak dirayakan oleh sebuah bangsa yang terjajah selain kemerdekaan. 17-8-1945 adalah kode untuk bangkit dan melawan kolonialisme itu, karena kolonialisme akan terus menjadi musuh abadi Indonesia.
 
Proklamasi tidak saja sebuah pengumuman kemerdekaan tetapi juga pengumuman perlawanan terhadap kolonialisme yang nista. Indonesia lahir untuk menjadi penghalang besar bagi kolonialisme.
 
Haris El-Mahdi, penulis adalah penggerak GUSDURian Batu.