Selasa, 22 Oktober 2019

PESAN KEMANUSIAAN DALAM BERMUSIK

Sabtu, 05 Oktober 2019
oleh : Ziko Rizky Prabowo
Dibaca sebanyak 67 kali
Pada era milenial ini kita dimudahkan dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Hal ini sejalan dengan kemajuan di bidang informasi yang tentunya sangat memudahkan dalam mencari informasi mengenai apa saja. Namun di sisi yang lain kita belum dapat merumuskan bagaimana cara mencounter informasi-informasi yang masuk dalam kategori hoax. Berita-berita hoax itu begitu derasnya mengalir bagaikan tsunami yang tidak ada yang dapat menahannya kecuali bangunan-bangunan yang sangat kokoh.

Berita-berita negatif itu seringkali diframing oleh media untuk membangkitkan kebencian kepada pihak yang tidak sependapat atau kubu lawan politik misalnya. Sebagai contoh adalah dualisme cebong vs kampret yang saling memanfaatkan media demi kepentingan politis tanpa menghiraukan kebenaran informasi yang disampaikan. Dari sebelum pilpres sampai mau pilpres lagi kebencian antara dua kubu ini seakan tidak ada habisnya.

Kebencaian inilah yang sangat membahayakan bagi peradaban manusia khusunya di Indonesia. Kita perlu belajar kepada timur tengah bahwa narasi hoax  dapat meluluhlantakkan kehidupan di sana yang dulunya dapat dikatakan sebagai wilayah yang berperadaban maju dan damai. Kita juga perlu belajar pada Amerika Serikat dapat memunculkan Donald Trump sebagai presiden dengan mengandalkan narasi hoax.

Apakah kebencian itu fitrah? 

Mengutip pernyataan dari Prof. Ariel Heryanto bahwa kebencian itu seperti halnya membaca dan menulis, ia merupakan hasil pengajaran entah di dalam keluarga, di tempat kerja, di tempat ibadah, atau di sekolah yang dibiayai oleh negara. Maka penulis setuju bahwa manusia tidak terlahir dengan kebencian. Bahkan manusia terlahir hanya dengan cinta, yaitu cinta Tuhannya, cinta orang tuanya. Tanpa diajaripun manusia bisa merasa mencintai dan merasa dicintai walaupun belum sadar dan belum mengerti artinya.

Dengan cinta kita dapat mepertahankan peradaban yanag agung. Dengan cinta kita dapat memelihara harmonisasi alam yang tentunya juga dapat menjaga kelestarian alam, menjaga hubungan antar makhluk hidup, serta yang paling penting adalah kesesuaian dengan kehendak Sang Maha Cinta.

Musik sebagai counter kebencian

Satu hal yang paling dekat dengan cinta adalah keindahan. Menyukai keindahan adalah kodrat manusia. Sejak pertama kali diciptakan, manusia sudah dibekali naluri untuk menyukai keindahan. Itulah kenapa sejak dahulu manusia selalu terobsesi untuk meraih surga yang digambarkan dengan penuh keindahan di dalamnya.

Obsesi tentang keindahan surga ini tentu sangat baik, akan tetapi sangat berbahaya ketika obsesi itu tidak mengindahkan harmonisasi kehidupan. Inilah yang dilakukan oleh kalangan radikalis agama. Bahwa keberagaman di dunia ini adalah fitrah dan mereka dengan doktrinnya merusak harmonisasi ini untuk obsesinya kepada surga.

Keberagaman ini seperti halnya komposisi musik, ia tersusun oleh berbagai nada yang berbeda, instrumen yang berbeda, irama yang berbeda tetapi dapat menghasilkan suara yang begitu indah. Bahkan musik merupakan seni yang paling bisa memperngaruhi perasaan manusia. Itulah kenapa para sufi seperti Jalaludin Rumi menggunakan musik sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya yang tentunya termanifestasi dalam perilakunya yang sangat menjunjung tinggi kemanusiaan.

Di kasus yang lain, musik dapat menyatukan dua kubu yang bertikai. Kita lihat konser Sabyan Gambus misalnya. Di sana tidak terlihat mana kubu a dan mana kubu b. Mereka sama-sama menikmati alunan lagu yang dimainkan. Bahkan sampai bisa merasakan kedamaian di dalamnya. Itulah fitrah manusia menghendaki kedamaian dan perdamaian.

Bagaimana jika musik itu haram?

Memang dalam agama Islam ada beberapa bahkan jumhur ulama berpendapat bahwa musik itu haram berdasarkan hadis Nabi. Akan tetapi ada beberapa ulama yang memperbolehkannya. Mengenai keharaman musik itu sendiri tentu perlu dikaji lebih dalam apakah keharaman itu mutlak atau ada illatnya.

Kita perlu mengerti terlebih dahulu unsur-unsur musik itu antara lain : nada, irama, harmoni, dan timbre. Keempat unsur ini selalu ada di sekitar kita, mulai dari suara burung yang berkicauan, suara jamgkrik, suara kendaraan bermotor yang teratur, suara langkah kaki dengan tempo yang tetap, bahkan suara manusia yang diatur sedemikian rupa (acapella) dapat dikatakan sebagai musik. Lalu bagaimana jika alat musik itu berasal dari tubuh manusia sendiri?

Bagaimana pula jika musik digunakan sebagai media perdamaian? Wallahu a’lam bishowab

Ziko Rizky Prabowo, penulis adalah alumni Sekolah Menulis Kreatif Gusdurian Jogja 2018.