Kamis, 19 September 2019

ROKOK ANTI BID’AH DAN PESAN GUS DUR

Rabu, 04 September 2019
oleh : Khadafi Moehamad
Dibaca sebanyak 192 kali
Asalkan tahu saja, penulis adalah seorang perokok aktif, apalagi sambil ngopi. Sudah tiga bulan terakhir ini penulis berganti rokok, merek-nya “Kamel” dan ada gambar Untanya. Sempat menjadi guyonan penulis dan beberapa teman-teman. Bahkan, salah seorang teman saya berkata; “ini rokok dari Arab ya…kok ada gambar Untanya” rokok ini hasil ijti’ma ulama kemarin. Rokok Anti Bid’ah, lanjut penulis dengan canda gurau sembari mengingat-ingat salah satu ceramah yang cukup viral di momen pilpers kemarin.

Tepatnya dalam video itu, seorang dengan serban yang melingkar di kepalanya, dan janggut kelonaknya. Berteriak sambil menggenggam mikrofon; Kapir,,Kapir,,Sesat,,ada lagi, Bid’ah,,,bid’ah,,,bid’ah ”ungkapnya” berulang-ulang kali dalam video itu yang berdurasi sekitar tiga puluh menit-an.

Kalimat “Anti Bi’dah” itu terucap lepas. Jika kita bicara mengenai gerakan tubuh, mungkin itu yang disebut; “Refleks” terhadap sesuatu yang hendak menyerang kita. Termasuk menyoal keadaan dan fenomena beragama kita. Yang saling serang antara satu dan lainnya, dengan menggunakan kalimat-kalimat yang sangat menohok dan menyakitkan itu.

***

Hal ini cukup meresahkan dan mencabik sisi kemanusiaan! Sebagai satu entitas manusia yang memiliki kepercayaan dan pandangan hidup, dan sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME yang memiliki derajat yang sama di sisi-Nya. Melihat bagaimana fenomena beragama di Negara kita ini dengan penduduk Islam terbanyak di dunia. Yang kerap menggaungkan dan mengkhutbahkan agama kita; Islam, sebagai agama rahmatan lil’alamiin atau Rahmat bagi sekalian umat dan alam. Tetapi di sisi lain, kisah pilu dan penghilangan “Harkat Kemanusiaan” terus menjadi-jadi, melalui kalimat-kalimat yang “persis seperti dalam video” kafir, bid’ah, dan sesat yang terus diwartakan tiada henti.

Sekarang ini, kalimat-kalimat itu sudah seperti permen karet dan mainan saja! Laris di mana-mana, di pasar, di rumah-rumah majelis, dan kelompok-kelompok tertentu yang menjalankan rutinitas peribadatan, bahkan merembet sampai pada kalangan intelektual muda, hingga para cendekiawan muslim lainnya. Hingga, tak jarang melahirkan persoalan-persoalan dan  perdebatan yang tak berkesudahan. Apalagi  di “Media Sosial” dengan pelbagai argumentasi dan dalil yang disampaikan untuk mengemukakan pendapat dan hendak mencapai dengan apa yang disebut kebenaran atas nama agama.

Media sosial, merupakan satu titik yang menjadi pusat perdebatan. Di zaman dengan perkembangan teknologi yang cukup pesat ini. Yang mana, poin positifnya adalah untuk mempermudah akses dan kebutuhan kita, namun secara kolektif, ada hal-hal yang tidak bisa kita nafikan. Munculnya banyak variabel-variabel tentang cara dan paham beragama. Yang turut dipicu dengan lahirnya para dai-dai Youtube, melakukan dakwah dan syiar dengan berbekal beberapa potongan ayat dan hadits. Bicara semua hal; Sistem Negara, Pemimpin, Politik, Hukum, hingga saling menyesat-nyesatkan antara satu dengan yang lainya. Dan kebanyakan jama’ah, (masyarakat) tanpa menelusuri, apakah benar mereka adalah dai betulan? belajar di mana? nyantri atau mondok di mana? gurunya siapa? Dan punya konsep pemikiran seperti apa? Atau malah hanya memecah belah umat. Atau kah hanya sebagai ajang untuk meraih popularitas yang berkaitan dengan kepentingan, juga yang paling intim, pada momen-momen politik.

Menanggapi hal ini, salah satunya dengan melihat keadaan masyarakat kita yang hampir secara keseluruhan, mengena dengan apa yang disebut convert complex dalam psikologi agama, convert: orang yang baru saja memeluk agama, lalu complex: perasaan sebagai agamawan baru. Misalnya; dalam satu tatanan masyarakat, tiba-tiba ada seseorang yang kurang memahami agama, tetapi karena ada hal-hal tertentu, lalu menjadi fundamentalistik sekali. Otomatis, ghirah dakwahnya menjadi cukup intens, asbab perasaan barunya sebagai mutawakkillun (wakil umat) yang ia kantongi, dan perlahan mulai menyusuri dan menyelisik aya-ayat, hingga hadits sebagai dalil yang menjadi paradigmanya beragama. Alhasil! Karena setiap orang leluasa menafsirkan al-Qur’an dan hadits. Maka setiap kepala bebas menginterpretasikan cara beragama sesuai dengan tingkat pemahaman dan sudut pandangannya.

Maka dengan kebiasaan masyarakat kita ini, yang secara umum menerima segala sesuatu, tanpa terlebih dahulu mencari sumber. Atau lebih tepatnya bersifat apriori, dan bukan sedikit juga dari masyarakat kita yang masih terbilang “awam” dalam memahami hal-hal tertentu, termasuk ihwal agama. Lantas, hal yang demikian menjadi konsekuensi logis dari orang-orang yang “mondok” di sosmed; Youtube, Facebook dan sebagainya.

Hal ini berdampak cukup serius, melihat dogma akut yang mereka serap, sangat mempengaruhi psikologi mereka dalam mendakwakan Islam. Studi komparatifnya,--memang meningkatkan keyakinan-keimanan, tetapi lain pihak, Islam tidak lagi diasumsikan secara kaffah—lalu lahirlah Islam dengan garis pemahaman yang menggebu-gebu. Dakwah-dakwah dan cara syiarnya terbilang keras dan bersifat otoritatif. Dalam tahap mencapai keyakinan-keimanan itu, kalimat-kalimat yang untuk kesekiankalinya “Persis seperti dalam video” Kafir, Sesat dan Bid’ah” itu, kerap dilontarkan dan ditujukan, bahkan menjadi senjata utama kepada orang-orang tertentu dan kepada siapapun yang tidak sepemahaman dengan mereka.

Sehingganya, Islam menjadi agama yang jauh dari tafsiran dan tujuan yang sepatutnya; rahmatan lil’alamin. Di tangan mereka, Islam menjadi tidak pemaaf dan kurang memperhatikan toleransi dan etika kemanusiaan--oleh Gus-Dur, tepatnya; “kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan paling mulia, yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusian merupakan cerminan sifat-sifat ketuhanan, kemuliaan yang ada dalam diri manusia mengharuskan sikap untuk menghargai dan menghormati. Memuliakan manusia, berarti memuliakan Penciptanya, demikian juga merendahkan dan menistaan manusia berarti merendahkan dan menistakan Tuhan Sang Pencipta”  

Gus-Dur telah berhasil menerobos soal-soal kemanuisaan yang sangat jarang dimiliki oleh cendekiawan muslim lainya, yang kebanyakan hanya berkutat pada masalah-masalah Fikih, dan perbedaan Mazhab. Konsep kemanusian, keramah-tamahan, santun dan penuh kasih sayang terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya. Mengayomi kaum pinggiran atau minoritas, sebagaimana tugas kaum mayoritas adalah melindungi minoritas. Dan selalu menyelesaikan masalah dengan cara berunding untuk menolak permusuhan-perpecahan, seperti yang pernah dicontohkan Suri Teladan kita, Baginda Muhammad SAW, dalam menanggapi perbedaan-perbedaan di Yastrib kala itu, hingga lahirlah satu konsensus atau perjanjian yang dinamai; “Piagam Madinah” puluhan abad yang lalu.

Bahkan dalam satu pasal atau poin yang termaktub dalam Piagam Madinah; “Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (mukminin) tidak terzalimi dan ditentang olehnya”

Ini sebagai satu contoh sekaligus landasan, yang menunjukkan bahwa Islam tidak mengenal benci kepada siapa pun, dan tidak harus memusuhi siapa saja. Apalagi kepada sesama muslim.

***

Paparan singkat saya ini, tak lain mewakili perihal beragama yang kiranya selalu menjunjung tinggi toleransi dan etika kemanusian. Menyampaikan pesan-pesan Kedamaian dan ketentraman pada setiap masyarakat kita di Indonesia. Maka, melalui satu label Rokok, yang saya sematkan sebagai “Rokok Anti Bid’ah” ini, menemui satu jalan dalam upaya memberitahukan kepada siapa pun. Bahwa; Agama, memimjam Syaikh Taqi Bahjat “Bukan hanya berada di mihrab-mihrab tempat pengasingan. Atau di atas sajadah-sajadah harum, atau di even-even ritual dan majelis-majelis dzikir. Lebih dari itu, Agama; berada bersama perut tetanggamu yang lapar, saudara atau pun temanmu yang sakit dan seorang diri, pada mereka yang berhutang padamu dan tak mampu lagi membayarmu. Agama ada pada tangisan terasing anak-anak tanpa ibu dan bapak”    

Mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan seseorang untuk menghukum dan menghakimi orang lain, yang mestinya dalam syiar adalah menyampaikan dan mengajak secara baik dan santun. Bukan memaksa atau penegasan dengan kalimat-kalimat tersebut yang sangat mengoyak sisi terdalam kemanusiaan. Pada masa sekarang ini, kita lebih membutuhkan lebih dari sekadar apa itu menghargai, yakni; apresiasi. Termasuk menerima apa pun bentuk pemikiran dan wujud mereka dalam ruang-ruang kemanusiaan.

“Kafir, Sesat, Bid’ah” dan sejenisnya, adalah kalimat-kalimat milik Tuhan. Dan seorang pun tak layak menggunakannya, apalagi untuk menyakiti orang lan.

Khadafi Moehamad, Penulis adalah peserta Sekolah Menulis Keberagaman Gorontalo.