Senin, 22 April 2019

TABLO PASKAH: REFLEKSI SEORANG HERODES MUSLIM (BAG II)

Minggu, 14 April 2019
oleh : Ahmad SM
Dibaca sebanyak 109 kali
Refleksi Herodes Muslim. Subjudul dari bagian ini adalah istilah yang saya rumuskan sendiri. Mungkin sebagian anda sudah bertanya-tanya soal Herodes yang “Muslim”. Bagi saya, inilah yang paling unik, bermain di tengah khalayak umat Kristiani secara khusus lebih banyak umat Katholik serta bersama kawan-kawan aktor yang lain membawa suasana kembali pada abad di mana Yesus menghadapi cobaan terberat dalam hidupnya ketika harus mendapati dirinya difitnah, dihina, dicemooh, dikhianati, diancam, hingga disalib dan kemudian dibangkitkan kelak. Tablo Paskah yang kami dipersiapkan kurang lebih dua bulan—akhirnya usai kami presentasikan dalam dua jam pertunjukan.

Sebagai pengalaman pertama berproses bersama dalam tablo Paskah kali ini, tentu saja sangat mendebarkan karena sebagai seorang Muslim saya agak serba bingung harus tampil seperti apa agar umat yang hadir dapat menikmati pertunjukan dan khusyuk dalam ibadah mengenang kembali kisah sengsara Yesus dahulu kala. Meskipun dalam hati aku bertanya, “apakah umat-umat yang hadir itu tahu yang bermain di hadapannya ada beberapa umat Muslim ?”.

Singkat cerita, setelah pertunjukan usai—beberapa dari kami harus dengan sabar melayani foto-foto dengan para jema’at yang sempat hadir di pertunjukan tablo di pagi itu yang cerah itu. Tak lama berselang, kami yang Muslim harus pamit lebih dahulu untuk menunaikan kewajiban shalat jum’at.

Lepas shalat jum’at mulailah saya menulis catatan saya sebagai berikut:

Lepas bermain tablo Paskah hari ini. Aku belajar banyak hal, dari kisah kesengsaraan Yesus hingga segala sesuatu yang meliputi penyalibannya. Sebagai pemain tokoh  dengan karakter antagonis, aku menyaksikan dan memainkan sendiri apa yang dihadapi langsung oleh Yesus. Sebagai pewaris misi kenabian dari generasi sebelumnya, Yesus berhadapan dengan kuasa tirani dan kesesatan atau kemunafikan para pemuka agama pada eranya. Yesus kemudian bangkit melawan kesewenang-wenangan Romawi kala itu. Hingga pada akhirnya, atas perlawanannya tersebut yang kemudian melahirkan reformasi besar dalam masyarakatnya kala itu.

Ribuan tahun setelah setelah penyaliban Yesus, banyak orang yang mengikuti ajaran-ajarannya yang pernah diajarkan—tak sekedar diajarkan, tapi sekaligus diamalkan atau diaplikasikan selama hidupnya.

---

Pilihan Romawi untuk menghukum salib atas Isa al-Masih atau Yesus adalah pilhan—yang pada akhirnya Pontius Pilatus cuci tangan atas keputusan salib hukuman salib yang kala itu yang sudah menjadi tradisi ketika seseorang melakukan tindakan yang ‘dianggap’ menentang penguasa atau melawan “status qou”.

Anggaplah Yesus atau Isa adalah tumbal zamannya. Dia yang telah memberi banyak pelajaran kepada mereka yang hidup sesudahnya. Ajaran dan kebijaksaannya telah berhasil membawa terang dan garam bagi dunia.

Namun, dewasa ini kita saksikan bermunculan Herodes-Herodes baru yang lebih bengis gila hormat!

Pemimpin yang seharusnya punya tanggungjawab besar untuk melayani rakyatnya—malah bertindak sebaliknya. Menindas rakyat serta gagal melindungi segenap tumpah darah tanah airnya.

Akankah terjadi pemberontakan seperti yang terjadi 1000 tahun yang lalu ?

Apakah kita masih membutuhkan Yesus-Yesus modern abad ini ?

Yang berani dengan lantang menyuarakan kebenaran sebagai sebuah kebenaran dan keburukan sebagai sebuah keburukan.

Aku rasa kita membutuhkannya.

Sangat butuh malah!

***

Sebagai seorang yang senang berdiskusi dan bergaul dengan siapa pun, saya terbuka terhadap segala hal. Setiap semester, saya terbiasa memfasilitasi dialog mahasiswa/i Islam dan Kristiani dalam sebuah Peace Camp. Membantu para mahasiswa-mahasiswi dari kalangan pengikut Nabi Muhammad SAW dan pengikut Isa al-Masih untuk memahami satu sama lain dan menjadi keluarga—bukan hanya menjadi teman biasa!

Di lain sisi, banyak dialog atau bahkan debat sebenarnya seperti yang kita saksikan—entah di televisi atau bahkan di channel youtube yang tidak produktif dan berujung pada debat kusir tanpa persoalan jelas yang justru berlangsung sejak dahulu kala hingga kini. Jika diperhatikan deretan debat itu—justru debat Islam dan Kristen selalu menduduki puncak pertama, bahan debatnya beragam—mulai dari kitab suci, konsep keTuhanan, hingga sosok Isa al-Masih atau Yesus (sapaan yang akrab di kalangan Kristiani). Atau bahkan jika mengetik kata “dialog” di mesin pencari seperti google, jawaban yang ditawarkan oleh google adalah debat! Anda sendiri pasti sudah tau google menampilkan sesuatu yang sering ditonton oleh penggunanya.

Makna “dialog” yang sebenarnya direduksi menjadi “debat” yang tentu saja bermuatan kompetisi alias kalah-menang. Dialog (dua arah) adalah antonimitas dari monolog (satu arah). Dalam dialog, orang-orang dapat menyeberang atau bahkan masuk ke dalam tradisi atau kepercayaan liyan/other untuk mempelajari dan mengerti sang liyan—tanpa kehilangan dirinya yang otentik.

Di tengah proses kami, selain belajar akting dari kawan-kawan Teater Seriboe Djendela (TSD), proses tablo kali ini begitu mengasyikkan  karena dalam proses latihan yang berlangsung kurang lebih dua bulan itu—dialog lintas iman justru kerap terjadi di antara kami para pemain/aktor. Mulai dari mengenal satu per satu tokoh-tokoh yang terlibat yang belum pernah saya dengar sebelumnya, juga banyak menggali tentang banyak ritual atau hal-hal yang mengitari Paskah hingga atribut-atribut yang terdapat dalam Kapel (sebuah tempat ibadah yang berukuran tidak terlalu besar) tempat kami pentas.

Dari proses yang alamiah kami berdialog tentang keimanan kami masing-masing menjadi sangat cair karena kami perjumpaan dan dialog langsung yang kami alami bersama. Selain belajar tentang dunia akting—saling memberi informasi akhirnya membuat di antara kami saling mengisi kekurangan satu sama lain.

Kembali kepada Paskah, semangat pengorbanan Yesus yang wafat di kayu salib—terus dihidupi oleh umat Kristiani di seluruh dunia—membuat saya belajar bahwa pengorbanan adalah ibu dari segala tindakan dan cita-cita. Karena setiap tindakan dan cita-cita membutuhkan pengorbanan. Jika engkau mengingingkan perdamaian, maka engkau harus mengusahakannya dengan sebuah pengorbanan. Sebagai seorang martir (syahid)—Yesus disalibkan lalu wafat hingga bertakhta sebagai al-Mukhalish al-'alam atau “Juru Selamat Dunia” bagi mereka yang meyakini dan mengikutinya.

 

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Artinya: “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali" (QS. Maryam (19): 33).

עליכם שלום

السلام عليكم

Di bawah naungan langit Yogyakarta, 11 hari setelah Jum’at Agung.

[Artikel ini pernah dimuat di www.cmusd.org, 23 Mei 2018]

Ahmad SMpenulis adalah alumni Kelas Pemikiran Gus Dur 2013.