Kamis, 19 September 2019

PILIHAN REDAKSI

Artikel-artikel pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

QUO VADIS REVISI UU KPK?

oleh : MARZUKI WAHID, 0 Komentar
Setelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada 11 September 2019 kemarin akhirnya Presiden Joko Widodo menandatangani dan mengirimkan Surat Presiden (Surpres) Nomor R-42/Pres/09/2019 ke DPR sebagai bentuk persetujuan revisi UU KPK. Harapan publik bahwa Presiden Jokowi berani menolak revisi UU KPK pupus sudah. Tidak ada harapan lain untuk memberantas korupsi di negeri ini, kecuali menunggu arah ke mana revisi ini hendak diputar DPR bersama Presiden: melemahkan atau menguatkan KPK?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Taliban, Oh Taliban. Kamu Ngapain Sih di KPK?

oleh : ANITA WAHID, 0 Komentar
Beberapa minggu terakhir saya perhatikan ada tulisan-tulisan yang seliweran di berbagai WAG, bicara tentang fenomena yang sedang terjadi di KPK. Intinya, tulisan-tulisan ini mau bilang begini: 1. KPK sudah masuk angin, kena radikalisasi 2. Akibatnya, sekarang ada pertentangan yang keras antara kubu polisi Taliban dengan kubu polisi India. Maksudnya tentu polisi Taliban itu yang udah kena asupan radikalisme. 3. Kelompok polisi Taliban ini selama bertahun-tahun sudah “memelihara” LSM-LSM yang sekarang sedang dikeluarkan untuk meributkan pansel dan capim KPK.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

CINTA MENDALAM, AIR MATA MENGHUJAN

oleh : AHMAD INUNG, 0 Komentar
Seorang paeditrician, K.K. Choudhary, pernah mengatakan “Too much love, too much pain, too much sacrifice makes you cry like rain”. Artinya kurang lebih seperti ini “Terlalu cinta, terlalu duka, telalu berkorban akan membuatmu menangis sederas hujan”. Quote ini mungkin barangkali bisa menggabarkan kedukaan hati Virginia saat ini.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Upaya Rekonsiliasi Konflik Aceh dan Papua

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Persoalan identitas merupakan masalah yang wajar terjadi dalam negara multikultural seperti Indonesia. Konflik identitas antar suku, agama, ras, maupun etnis yang terjadi akhir-akhir ini menambah rapot merah keberagaman di Indonesia. Namun bukan hanya persoalan horizontal saja, persoalan vertikal pun juga terjadi dengan melibatkan negara sebagai aktornya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Rokok Anti Bid’ah dan Pesan Gus Dur

oleh : KHADAFI MOEHAMAD, 0 Komentar
Asalkan tahu saja, penulis adalah seorang perokok aktif, apalagi sambil ngopi. Sudah tiga bulan terakhir ini penulis berganti rokok, merek-nya “Kamel” dan ada gambar Untanya. Sempat menjadi guyonan penulis dan beberapa teman-teman. Bahkan, salah seorang teman saya berkata; “ini rokok dari Arab ya…kok ada gambar Untanya” rokok ini hasil ijti’ma ulama kemarin. Rokok Anti Bid’ah, lanjut penulis dengan canda gurau sembari mengingat-ingat salah satu ceramah yang cukup viral di momen pilpers kemarin.
Kategori : Pilihan Redaksi

Bertuhan dan Berbudaya: Refleksi Kemerdekaan Islam Indonesia

oleh : MAN MUHAMMAD, 0 Komentar
Boro-boro masuk surga, melihat yang berbeda saja kamu bilang tempatnya di neraka. Menjadi muslim yang baik sekaligus sebagai seorang Indonesia yang berkebudayaan itu sulit, kawan. Kalau kamu gak kuat ya belajar, jangan menyalahkan yang sudah belajar. Ini Nusantara bukan hutan belantara. Menjadi muslim yang berindonesia harus menerima setiap perbedaan yang niscaya, karena kita bernegara di bawah naungan Bhinneka Tunggal Ika yang berdasarkan Pancasila.
Kategori : Pilihan Redaksi

Melihat Intoleransi Indonesia Hari Ini

oleh : ADEN MANSYUR, 0 Komentar
Kasus intoleransi di Indonesia belakangan ini amatlah tinggi. Kasus tentang ras, agama, ujaran kebencian, sampai tindak kekerasan rupanya kini kembali mewarnai kehidupan demokrasi.
Kategori : Pilihan Redaksi

Fenomena Hijrah:Antara Trend dan Nilai-Nilai Adat di Gorontalo (bagian 2)

oleh : MAN MUHAMMAD, 0 Komentar
Fenomena hijrah yang sudah jadi fenomena nasional ini memang tidak bisa kita hindari. Gelombangnya semakin kuat seiring dengan kuatnya wacana-wacana keislaman yang mulai bermunculan. Meminjam istilah Prof. Munirul Ikhwan, dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, menjadi Islam saja tidak cukup. Doktrin hijrah pun menjadi jurus paling ampuh untuk mengajak para pemuda/masyarakat yang frustrasi dan haus akan inspirasi kesalehan. Pola dakwah yang dilakukan ringan dan terkesan sederhana. Tetapi, dikemas sedemikian rupa agar bisa menarik perhatian. Mulai dari yang paling ringan dengan memberikan ceramah agama yang bersifat motivasi dan semangat berislam yang baik dan benar seperti apa. Kemudian, menghadirkan para pembicara –biasanya dari publik figur atau kalangan artis— untuk menceritakan kisah mereka yang awalnya pendosa, lalu mendapatkan hidayah untuk melakukan hijrah, dengan tujuan agar para audiens tertarik dan bersemangat untuk hijrah, sampai pada titik klimaks –meskipun tidak semua demikian— ajaran yang disampaikan adalah ajakan untuk mengembalikan Islam kepada kemurnian, yaitu menolak hukum apa pun yang datang selain hukum Allah yang bersumber dari Alquran dan Hadis sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Swt.
Kategori : Pilihan Redaksi

Fenomena Hijrah:Antara Trend dan Nilai-Nilai Adat di Gorontalo (bagian 1)

oleh : MAN MUHAMMAD, 0 Komentar
Berbicara tentang agama dan adat di Gorontalo, satu hal yang tidak bisa dipisahkan adalah filosofi Gorontalo yaitu, adati hula-hula’a to syara’a, syara’a hula-hula’a to kitabullah (adat yang bersendikan syariat Islam, dan syariat Islam yang berlandaskan kitabullah). Beberapa kali terjadi perubahan demi perubahan, lalu menjadi seperti yang ada saat ini.
Kategori : Pilihan Redaksi

Bumi Manusia, Gus Dur dan Papua

oleh : M. FADLAN L NASURUNG, 0 Komentar
Bumi Manusia, salah satu judul dari seri novel Tetralogi Buru karya sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer. Buku pertama dari empat seri novel Pram itu, kini menjadi judul film dibawah besutan sutradara Hanung Bramantyo yang diangkat ke layar lebar dan kini tengah tayang.
Kategori : Pilihan Redaksi