Sabtu, 24 Agustus 2019

PILIHAN REDAKSI

Artikel-artikel pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Mengembalikan Politik Kebangsaan yang Rahmatan Lil Alamin

oleh : WAHYU EKA SETYAWAN, 0 Komentar
Musim 2018-2019 tengah memanas, terpolarisasi oleh perseteruan sengit dua kontestan pilpres, yang keduanya mewakili pemikiran serta kelompoknya masing-masing. Ada kubu Jokowi yang mengklaim sebagai representasi politik nasionalis, milenial serta kekinian, sementara Prabowo dianggap sebagai representasi nasional relijius yang pro terhadap Islam. Ibarat sebuah kompetisi mereka bersaing satu sama lainnya dengan ketat, memperebutkan podium kursi kepresidenan. Namun, persaingan mereka meninggalkan problem, yakni cukup signifikan berimplikasi pada polarisasi rakyat Indonesia. Perseturuan bersifat top-down kemudian berubah menjadi ajang saling hujat, fitnah dan menyakiti sesama anak bangsa. Khususnya jika kita mengikuti linimasa media, baik mainstream ataupun sosial.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Sukarnois dan Gusdurian

oleh : HARIS EL-MAHDI, 0 Komentar
Seorang yang mengklaim sebagai Sukarnois, pengikut Sukarno, secara otomatis tidak langsung ia adalah juga Gusdurian. Sukarno, Presiden pertama Indonesia adalah orang yang mempunyai jasa besar menarasikan "nilai" dan "makna" keindonesiaan. Pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 tentang Pancasila merupakan landasan filosofis mengenai alasan kita berindonesia.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Samakah Islam Pribumi dan Pribumisasi Islam?

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Islamisasi Jawa sudah ada sejak berabad-abad lalu. Karakteristik Islam Jawa telah menjadi identitas tersendiri pada masa itu., meskipun proses masuknya masih bisa diperdebatkan. Identitas keislaman tersebut telah terbentuk ketika adanya interaksi antara dua unsur yaitu agama dan budaya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Merumitkan Wacana Gus Dur

oleh : A. KHOIRUL ANAM , 0 Komentar
Pada hari pemakamannya di Jombang, Pak Presiden SBY ketika itu menyebut Gus Dur sebagai “bapak pluralisme”. Pemerintah mungkin ingin menyederhanakan “wacana Gus Dur” hanya pada urusan ini, dalam bahasa yang agak konspiratif menyederhanakan adalah melokalisir: seputar pembelaan terhadap hak-hak minoritas terutama terkait agama dan kepercayaan. Putri-putrinya juga hampir selalu menceritakan “Bapak” hanya terkait hal ini. Perayaan-perayaan di hari haulnya juga tidak jauh dari urusan ini juga.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ustadzah Mencari Presiden

oleh : AHMAD Z. EL-HAMDI, 0 Komentar
Jangan dikira bahwa seorang ustadzah hanya tahu shalat istikharah ketika dia hendak mencari solusi dari masalah yang dihadapinya. Shalat istikharah sudah pasti dilakukan. Tapi seorang ustadzah juga tidak jarang mengambil keputusan yang sangat rasional sebagaimana ustadzah muda yang saya temui kali ini. Saya mengenalnya cukup lama. Dia putri seorang kiai besar di negeri ini. Di samping pendidikan agama yang langsung didapatkan dari ayah ibunya, dia sendiri juga mendapatkan pendidikan formal yang cukup baik. Saat ini dia memiliki jamaah anak-anak muda yang sangat banyak. Di mana pun dia berkunjung, anak-anak muda selalu mengerumuniya untuk meminta nasehatnya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

AGENDA GUSDURIAN

oleh : HARIS EL-MAHDI, 0 Komentar
Ada dua agenda besar yang menjadi inti (core) gerakan Gusdurian dalam membumikan 9 nilai utama; Ketauhidan, Kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, Pembebasan, persaudaraan, kesederhanaan, keksatriaan, dan kearifan lokal. Dua agenda itu saya sebut "Basic Agenda" atau agenda dasar dan "advanced Agenda" atau agenda Lanjutan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Mencari Narasi Musuh Islam

oleh : MUHAMMAD AUTAD AN NASHER, 0 Komentar
Seringkali saya mendapati narasi yang bergentayangan di media sosial tentang “musuh Islam”. Framing, narasi, kampanye yang bernada menyerang mudah ditemui. Ada semacam hal yang diciptakan untuk membenci yang berbeda atau memusuhi hal ihwal yang dianggap keluar dari batas norma agama.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Parrhesiast: Gus Dur dan Foucault

oleh : TONY DOLUDEA, 0 Komentar
Di dalam hiruk-pikuk Pemilihan Umum Legeslatif dan Eksekutif Indonesia tahun 2019 ini, rupa-rupanya tidak sedikit rakyat Indonesia terbukti masih terlihat lemah dalam berrefleksi dan tidak mampu memilah ketika berbicara tentang politik maupun demokrasi. Dalam suasana seperti ini orang tidak jarang salah kaprah ketika berbicara tentang politik dan demokrasi. Claude Lefort pernah mengingatkan bahwa untuk dapat memahami baik hakikat politik maupun demokrasi penting bagi seseorang untuk terlebih dahulu membuat pemilahan antara politics (la politique) dan the political (le politique). Politics (la politique) adalah tindakan, strategi dan kebijakan politis tertentu dari perilaku dan lembaga politik. Sementara the political (le politique) adalah kerangka kerja pokok dan ruang sosiopolitis yang di dalamnya dan melaluinya politics (la politique) itu terjadi dan mewujudnyatakan makna dan fungsinya.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan “Wa’tashimu bi Hablillahi jami`an Wala Tafarroqu”

Gus Dur menyebutkan bahwa: “Kitab suci kita menyatakan: “Berpeganglah kalian kepada tali Allah secara menyeluruh, Dan janganlah terpecah-belah/saling bertentangan (wa’ tashimû bi hablillâh jamî’an walâ tafarraqû)” (QS Ali Imran [3]:103). Islamku Islam Anda Islam Kita, hlm. 29 Ayat ini mengandung penafsiran-penafsiran tentang kata Hablullah, seperti disebutkan dalam Ad-Durrul Mantsur (III: 710), demikian: Al-Qur’an/Kitabullah, Ahlu Bait, al-Jama`ah (taat dan al-Jama`ah), dan al-Islam. Sedangkan berhubungan dengan perintah “berpegang teguh” (wa’tashimu), maknanya adalah: “Taat kepadanya” (Imam al-Hasan), berpegang dengan janji Alloh dan perintah-Nya (Qotadah); ikhlas lillahi ta'ala wahdah (Abul Aliyah). Dan menafsirkan “wala tafarroqu”: “Al-ikhlas wakunu `alaihi ikhwanan”, supaya dalam menjalani Islam itu dengan dasar ikhlas dan menjadikan orang lain sebagai saudara dan senang dengan persaudaraan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Apa Jadinya Islam Indonesia Jika Tidak Ada NU dan Muhammadiyah?

oleh : ANNAS ROLLI MUCHLISIN, 0 Komentar
Judul di atas sempat terbesit di pikiran penulis setelah mengikuti seminar bertajuk “Islam Indonesia di Pentas Global: Inspirasi Damai Nusantara Untuk Dunia” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM pada Jum’at 25 Januari 2019. Selain untuk mengemukakan penemuan riset mereka yang dituangkan dalam buku Dua Menyemai Damai Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi, seminar ini juga dalam rangka mendukung dua organisasi Muslim Indonesia terbesar tersebut untuk meraih Nobel Perdamaian.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi