Sabtu, 21 Oktober 2017

PILIHAN REDAKSI

Artikel-artikel pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Bu Sinta, Gus Dur, Al-Azhar dan Para Penghina itu

Sudah hampir 20 tahun terakhir Bu Sinta Nuriyyah Abdurrahman Wahid, menggelar sahur dan buka bersama dengan kalangan masyarakat bawah, yang dilaksanakan dengan kalangan non-muslim. Beliau, seperti sang suami, ingin menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk menyapa kalangan bawah dan mereka yang dianggap berbeda. Bu Sinta datang ke daerah-daerah terpencil dan ke tempat-tempat yang kalangan agama mungkin banyak mengabaikan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Shinta Nuriyah dan Para Pembenci

oleh : ALAMSYAH M DJAKFAR, 0 Komentar
Jika bukan karena komentar dan pernyataan kurang patut dan terkesan melecehkan pribadi atau keterbatasan fisik Bu Shinta Nuriyah di dinding-dinding facebook dan pagar-pagar twitter sejumlah akun, mungkin saya tak akan tergesa-gesa menulis sepagi ini. Soal penolakan FPI atas acara bukber yang digagas beliau bukanlah perkara serius. Mereka tak setuju hal biasa. Saya kira publik sudah mengerti ini. Tapi, soal pelecehan dan kebencian, itu perkara serius dan “tidak biasa”. Orang mungkin bakal menilai pandangan saya ini subyektif. Saya kan “orang” Wahid Foundation, organisasi yang didirikan almarhum Gus Dur. Wajar dong ingin membela pimpinan atau keluarga pendiri organisasi tempat bekerja. Tapi di sinilah masalahnya
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Benturan Antar-Wahabisme di Indonesia

oleh : AHMAD SUAEDY, 0 Komentar
Banyak orang tidak menyadari bahwa sesungguhnya ada Wahabisme a la Indonesia yang dalam sejarah, setidaknya sejak tahun belasan abad ke-20 telah lahir, dan berbenturan dengan Wahabisme yang lahir di Arab Saudi. Wahabisme Indonesia dinisbatkan kepada KH. Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) bersama-sama dengan KH. Hasyim Asy’ari. Bisa jadi disebabkan karena kelemahan dalam tradisi intelektual di kalangan santri dan pesantren sendiri bahwa mereka tidak tercatat secara tertulis dalam sejarah sebagai perintis ide nasionalisme di awal-awal abad ke-20. Namun, jika menengok naskah Deklarasi atau Piagam Nahdlatul Wathon kalangan santri yang bertitel 1916 (Munim DZ, 2014) maka kalangan santri telah mendeklarasikan cinta tanah air berhadapan dengan penjajah Belanda untuk menuju kemerdekaan ketika itu. Piagam tersebut tidak lain merupakan reformulasi dan ringkasan dari syair ciptaan KH. Wahab Chasbullah jauh sebelumnya yang berjudul “Ya Lal Wathon”, yang artinya ”Wahai Bangsa (Indonesia).”
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Aksi Melacak Jejak Gus Dur

KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, adalah sosok yang sangat dikenal dekat dengan masyarakat. Selama beliau hidup, baik sebagai kiai, presiden, intelektual, aktivis, maupun politikus, selalu mempunyai kesan tersendiri di hati masyarakat Indonesia akan sosoknya yang nyentrik nan unik. Ia hampir selalu meninggalkan kesan yang bermuara pada pencerahan, gagasan baru, dan peneguhan pada nilai-nilai. Kesan-kesan masyarakat di saat bertemu dengan Gus Dur itulah yang sedang dihimpun oleh Seknas Jaringan Gusdurian Indonesia dengan Aksi Melacak Jejak Gus Dur.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Presiden dan Sastra(wan), dengan Pram di Antaranya

Apa pentingnya sastra(wan) bagi seorang presiden? Saya ingin menyegarkan kembali kenangan, bahwa dalam periodenya yang singkat sebagai presiden, Gus Dur sempat ‘mengunjungi’ tiga orang sastrawan terkemuka Indonesia. Sekali lagi ‘mengunjungi’ dan menemui ketiga sastrawan itu di rumah atau kediaman mereka. Gus Dur tentu bisa saja mengundang mereka ke istana negara dan mungkin mereka bersedia. Tapi ia lebih memilih untuk repot dengan mendatangi mereka secara langsung. Ketiga sastrawan yang ia sambangi itu adalah A. A. Navis, Mochtar Lubis dan Pramoedya Ananta Toer.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Merah Putih dan Reruntuhan

oleh : NURUDDIN HIDAYAT, 0 Komentar
Tak sengaja saya membuka lemari lama di belakang. Ku temukan sebuah kaset lama dari seorang penyanyi balada Frangki S yang menyanyikan lirik lagu Emha Ainun Najib yang sangat menyentuh. Aku pun teringat tragedi itu, di dekade 90 an, di mana ketika aku masih menjadi mahasiswa yang melakukan pendampingan kepada korban penggusuran Waduk Kedung Ombo, sebuah tragedi kemanusiaan yang mengatasnamakan pembangunan. Nilai-nilai kemanusiaan ditiadakan. Ketika itu masih ada lebih kurang 660-an keluarga yang menolak ganti rugi, yang mana ketika proyek itu dicanangkan pada tahun 1985 dengan dana USD 156,2 juta, bantuan dari bank dunia, bank Exim Jepang USD 25,2 juta dan APBN th 1985 hingga 1989. Waduk tersebut menenggelamkan 37 desa, 7 kecamatan di 3 kabupaten. Permasalahannya bukan kita menolak pembangunan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Komunitas Gusdurian Lahirkan Para Penggerak Perdamaian

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Para pengagum Gus Dur di Malang Raya yang tergabung dalam Gusdurian Malang terus mengepakkan sayap mereka. Ini terbukti semakin banyaknya anggota Gusdurian yang menginisiasi lahirnya komunitas baru. Komunitas tersebut diantaranya Gubuk Tulis dan Ngaji Literasi (Ngalit) di UIN Malang. Adanya komunitas yang lahir dari anggota Gusdurian tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Local Meeting di Bale Wiyata, Sukun, Kota Malang, Sabtu (28/5) lalu
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi