Minggu, 22 Oktober 2017

PILIHAN REDAKSI

Artikel-artikel pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Antara Gus Dur dan Nahdlatul Ulama

oleh : MOHAMMAD YAJID FAUZI, 0 Komentar
Nahdlatul Ulama yang berdiri sejak tahun 1926 merupakan Organisasi Islam terbesar di Indonesia yang sangat digandrungi oleh masyarakat. Hal ini karena Nahdlatul Ulama dalam pengajarannya menghargai budaya lokal dan tidak membuang tradisi yang telah ada dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat. sehingga sangat cocok di Indonesia yang masyarakatnya mayoritas memeluk agama islam dan masih memegang teguh adat dan budaya yang di wariskan oleh para leluhur.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Teladan Kebangsaan Gus Dur

Tiga hari setelah dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia, Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sowan ke kiai sepuh di Kajen, Pati, Jawa Tengah. Meski mendapat fasilitas pengawalan ketat, dengan barisan Pasukan Pengamanan Presiden dan aparat keamanan yang rapi, Gus Dur memilih menanggalkan kawalan. Ia berjalan sendirian, masuk ke rumah kiai sepuh itu dari pintu belakang.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Gagasan Pemberdayaan

Tanggal 4 agustus, tepat 77 tahun hari kelahiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Semasa hidup, beliau dikenal sebagai seorang kiyai, intelektual, budayawan, politisi sekaligus sufi, sesuatu yang begitu kompleks hadir dalam diri seorang manusia yang lahir dan tumbuh besar dalam kultur keagamaan pesantren dan sekian tahun hidup dalam tradisi dua kutub peradaban; Timur Tengah dan Eropa. Perjalanan panjang Gus Dur dalam mengarungi samudera intelektualitas dengan bacaan yang begitu luas dan keragaman realitas yang dijumpainya, kiranya turut membentuk pemikiran dan cara pandangnya terhadap banyak hal yang kemudian ia perjuangkan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dalam Cakrawala Seni

oleh : ANDRE TANAMA, 0 Komentar
Berbicara ikhwal kerinduan terkadang menggiring saya pada sebuah kenangan. Dalam pengalaman masa lalu yang pernah saya alami, kenangan terhadap peristiwa, rasa kehidupan, perasaan yang meninggalkan jejak, semuanya mendorong kita untuk memunculkannya kembali. Dalam perkataan lain, ada semacam romantisme terhadap suatu peristiwa maupun seseorang, sosok, tokoh yang memberi inspirasi. Gus Dur sebagai sosok multidimensional dan tokoh yang ‘low profile’ sekaligus, ia pun menjelma menjadi wajah kerinduan. Kerinduan bagi banyak orang, lintas agama dan lintas etnis. Kerinduan di sini memiliki objek kerinduan yang tak tunggal, maka Gus Dur merupakan wajah semua kerinduan (seperti tema pameran seni rupa dalam Muktamar NU ke-33 tahun 2015).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Menghadang Arus Ekstremisme

Ekstremisme, istilah yang lebih senang saya pakai daripada radikalisme, kini telah menjadi problem nasional, bahkan internasional. Orang-orang mencemaskan banyak anak muda yang terpengaruh pemikiran ekstremisme dalam keagamaan. Bahkan sebagian telah menjurus ke praktik kekerasan untuk memenuhi harapan dan tujuannya: ekstremisme kekerasan. Sudah banyak riset yang menunjukkan bagaimana sekolah umum kini telah menjadi wahana persebaran ekstremisme ini. Melalui kegiatan-kegiatan yang terbuka –bahkan didukung sekolah—maupun klandestin, para siswa menjadi subjek sekaligus objek penyebaran ekstremisme ini. Angka mereka yang terpapar paham ekstremisme ini bisa diperdebatkan, dan dalam banyak hal sulit dideteksi karena sifatnya yang dinamis dan fluktuatif, tapi diyakini jumlahnya sudah pada level yang mengkhawatirkan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ketika Pastor Bergotong Royong Membangun Masjid: Kisah Toleransi dari Kedungombo

oleh : SARJOKO, 0 Komentar
Beberapa hari yang lalu penulis baru saja mengunjungi sebuah dusun di bantaran waduk Kedungombo, Boyolali. Warga dusun tersebut merupakan korban ketidakadilan dari pembangunan salah satu waduk terbesar di Jawa Tengah itu. Perjuangan warga untuk menuntut haknya (ganti rugi) saat itu didampingi oleh banyak tokoh kemanusiaan seperti KH Abdurrahman Wahid, Romo Mangunwijaya, KH Mahfudh Ridwan, dan lain-lain.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Gus Dur, HTI, dan Kita

oleh : M. NURKHOIRON, 0 Komentar
Apa yang membedakan Gus Dur dengan generasi muda NU saat ini? Harus diakui banyaknya anak muda NU yang memiliki wawasan terbuka dan inklusif baik di bidang keagamaan dan kebangsaan tidak lain karena pengaruh yang sangat besar dari sang maha guru Gus Dur. Namun menurut saya tetap terbentang perbedaan yang sangat tajam antara pemikiran dan sikap Gus Dur dengan anak anak muda NU saat ini. Gus Dur lahir dan besar di lingkungan NU yang mengalami masa trauma paling kelam dalam menghadapi kelompok komunis. Puncaknya pada tahun 1965 NU dan komunis berhadapan secara diametral sehingga menimbulkan pertumpahan darah yang tidak sedikit.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Perihal Keselamatan Agama di Luar Islam

oleh : M. KHOLID SYEIROZI, 0 Komentar
Sebagaimana ditunjukkan al-Qur’an dan Hadis, Islam dapat dipahami dalam dua pengertian, yaitu semua agama tauhid yang dibawa para Nabi dan Rasul dan nama bagi agama yang dibawa Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an menunjukkan kesatuan umat manusia, anak cucu Adam, yang menyembah Allah (QS. al-Anbiya’/21: 92) dan terikat penjanjian primordial untuk mengesakan-Nya (QS. al-A’râf/7: 172). Manusia kemudian terpecah-belah dan Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menegakkan agama tauhid (QS. al-Baqarah/2: 213). Ibrahim adalah tokoh penting yang diutus Allah untuk memulihkan monoteisme. Ajaran Nabi sesudahnya, termasuk Ismail, Ishak, Yakub dan keturunannya, Musa, ‘Isa, dan Nabi Muhammad adalah kesinambungan dari monoteisme Ibrahim (QS. Ali Imran/3: 84; QS. an-Nisa’/4: 125). Agama itu disebut sebagai Islam, yang arti generiknya adalah pasrah dan tunduk kepada Allah. Pengikutnya, dari dulu hingga sekarang, disebut sebagai Muslim/Muslimin atau امة مسلمة (QS. al-Hajj/22: 78; QS. Ali Imran/3: 85, 52; QS. Al-Baqarah/2: 128; QS. Yusuf/12: 101; QS. An-Naml/27: 31; QS. Yunus/10: 84). Hanya Islam agama di sisi Allah (QS. Ali Imran/3: 19). Siapa yang mencari selain Islam sebagai agamanya, niscaya tertolak (QS. Ali Imran/3: 85). Menimbang konteks dan pertaliannya, dua ayat terakhir berbicara tentang Islam dalam makna generik, yaitu agama tauhid.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Perppu No 2 Tahun 2017 Ancaman Demokrasi?

oleh : RUMADI AHMAD, 0 Komentar
PRESIDEN RI, Joko Widodo, mengambil langkah berani dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-Undang (Perppu) No 2 Tahun 2017 sebagai pengganti UU No 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (UU Ormas). Sebelumnya saya tidak menduga pemerintah akan menempuh jalan perppu. Hal yang saya tunggu justru langkah konkret yang akan dilakukan setelah pemerintah melalui Menko Polhukam, Wiranto, mengumumkan akan mengambil langkah untuk membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada 8 Mei. Namun, hingga dua bulan tidak tampak langkah apa pun yang dilakukan sebelum akhirnya Presiden menandatangani perppu pada 10 Juli. Pemerintah rupanya tidak yakin UU Ormas bisa digunakan untuk menjerat organisasi seperti HTI yang mengusung ideologi khilafah.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi