Senin, 11 Desember 2017

PILIHAN REDAKSI

Artikel-artikel pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Puisi – “Rindu Gus Dur”

oleh : SUDARMAN PUSI, 0 Komentar
Gus… Kami rindu Njenengan, Gus… Sepeninggal Njenengan semua urusan jadi repot Kian hari sikap keberagamaan kami kian peot Nilai dan pemahaman Islam kami tambah reot
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Romo Katolik di Masjid Kedung Ombo

oleh : MUHAMMAD AZIZ DHARMA, 0 Komentar
BAGI WARGA Kedungpring, banjir bukan hal asing. Hidup di pinggir Waduk Kedung Ombo membuat mereka akrab dengan banjir. Saking seringnya terjadi, mereka tak akan panik sekalipun air sudah menggenangi lantai rumah. Kalau malam air naik, paling-paling esok harinya sudah surut kembali. Paling lama dua malam. Namun, hari itu berbeda. 12 Februari 1989, tepatnya pukul 9 malam, hujan lebat mengguyur Kedungpring. Air waduk mulai naik dan sampai ke kampung. Bukannya surut, air ternyata semakin tinggi saja hingga keesokan harinya. Warga salah perhitungan. Air naik bukan saja karena hujan, namun saluran air di hulu memang sengaja dibuka. Mereka panik dan lekas bergegas mencari tempat yang lebih tinggi.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Visi Toleransi Merawat NKRI

Dalam buku “Mata Air Peradaban; Dua Millenium Wonosobo”, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberi sebuah pengantar yang menarik, ia mengulas secara singkat bagaimana sejarah pertemuan antara komunitas Hindu dan Budha di tanah Jawa. Pada abad ke-8 diceritakan orang-orang Sriwijaya yang beragama Budha datang ke pulau Jawa, di daerah pegunungan Dieng-Wonosobo kini, mereka menemukan kerajaan Kalingga Hindu.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Memandang Cara Pandang Gus Dur

oleh : HERU HARJO HUTOMO, 0 Komentar
Tumbuh dengan tubuh yang tambun. Kadang bersongkok. Kadang tidak. Hingga rambutnya yang tersisir rapi kelihatan. Wajahnya, meski di saat marah pun, tak tampak menakutkan. Tak pernah, dan tak ada yang takut dengannya. Hanya, barangkali, rikuh. Sesekali tawacanya pecah, lepas tanpa beban. Adakalanya ia biarkan airmatanya berderai di tepi sebuah makam. Satu waktu, ia begitu tajam dan wijang dalam membedah Das Kapital. Di lain waktu, begitu “halus” dalam memaknai al-Hikam. Acap ia berbicara apa adanya, ceplas-ceplos. Tapi kerap pula ia memainkan jari telunjuknya: tenggelam dalam naungan keabadian (daim).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Antara Gus Dur dan Nahdlatul Ulama

oleh : MOHAMMAD YAJID FAUZI, 0 Komentar
Nahdlatul Ulama yang berdiri sejak tahun 1926 merupakan Organisasi Islam terbesar di Indonesia yang sangat digandrungi oleh masyarakat. Hal ini karena Nahdlatul Ulama dalam pengajarannya menghargai budaya lokal dan tidak membuang tradisi yang telah ada dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat. sehingga sangat cocok di Indonesia yang masyarakatnya mayoritas memeluk agama islam dan masih memegang teguh adat dan budaya yang di wariskan oleh para leluhur.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Teladan Kebangsaan Gus Dur

Tiga hari setelah dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia, Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sowan ke kiai sepuh di Kajen, Pati, Jawa Tengah. Meski mendapat fasilitas pengawalan ketat, dengan barisan Pasukan Pengamanan Presiden dan aparat keamanan yang rapi, Gus Dur memilih menanggalkan kawalan. Ia berjalan sendirian, masuk ke rumah kiai sepuh itu dari pintu belakang.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Gagasan Pemberdayaan

Tanggal 4 agustus, tepat 77 tahun hari kelahiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Semasa hidup, beliau dikenal sebagai seorang kiyai, intelektual, budayawan, politisi sekaligus sufi, sesuatu yang begitu kompleks hadir dalam diri seorang manusia yang lahir dan tumbuh besar dalam kultur keagamaan pesantren dan sekian tahun hidup dalam tradisi dua kutub peradaban; Timur Tengah dan Eropa. Perjalanan panjang Gus Dur dalam mengarungi samudera intelektualitas dengan bacaan yang begitu luas dan keragaman realitas yang dijumpainya, kiranya turut membentuk pemikiran dan cara pandangnya terhadap banyak hal yang kemudian ia perjuangkan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dalam Cakrawala Seni

oleh : ANDRE TANAMA, 0 Komentar
Berbicara ikhwal kerinduan terkadang menggiring saya pada sebuah kenangan. Dalam pengalaman masa lalu yang pernah saya alami, kenangan terhadap peristiwa, rasa kehidupan, perasaan yang meninggalkan jejak, semuanya mendorong kita untuk memunculkannya kembali. Dalam perkataan lain, ada semacam romantisme terhadap suatu peristiwa maupun seseorang, sosok, tokoh yang memberi inspirasi. Gus Dur sebagai sosok multidimensional dan tokoh yang ‘low profile’ sekaligus, ia pun menjelma menjadi wajah kerinduan. Kerinduan bagi banyak orang, lintas agama dan lintas etnis. Kerinduan di sini memiliki objek kerinduan yang tak tunggal, maka Gus Dur merupakan wajah semua kerinduan (seperti tema pameran seni rupa dalam Muktamar NU ke-33 tahun 2015).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Menghadang Arus Ekstremisme

Ekstremisme, istilah yang lebih senang saya pakai daripada radikalisme, kini telah menjadi problem nasional, bahkan internasional. Orang-orang mencemaskan banyak anak muda yang terpengaruh pemikiran ekstremisme dalam keagamaan. Bahkan sebagian telah menjurus ke praktik kekerasan untuk memenuhi harapan dan tujuannya: ekstremisme kekerasan. Sudah banyak riset yang menunjukkan bagaimana sekolah umum kini telah menjadi wahana persebaran ekstremisme ini. Melalui kegiatan-kegiatan yang terbuka –bahkan didukung sekolah—maupun klandestin, para siswa menjadi subjek sekaligus objek penyebaran ekstremisme ini. Angka mereka yang terpapar paham ekstremisme ini bisa diperdebatkan, dan dalam banyak hal sulit dideteksi karena sifatnya yang dinamis dan fluktuatif, tapi diyakini jumlahnya sudah pada level yang mengkhawatirkan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi