Sabtu, 20 Oktober 2018

PILIHAN REDAKSI

Artikel-artikel pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Politik “Pemuda” di Tengah Derasnya Arus Perubahan Sosial

oleh : MUHAMMAD N. HASSAN, 0 Komentar
"Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.”Demikian nasihat Gus Dur kepada siapapun yang sedang berkuasa dan akan berebut kekuasaan di tahun politik dewasa ini. Jika tidak demikian, sikap sinisme politik akan semakin pekat menyelimuti kehidupan perpolitikan. Dinamika telah berkembang amat pesat menyebabkan pro kontra yang sangat signifikan. Hal ini menyebabkan sikap anti-politik dan cinta akan politik menjadi rivalitas yang begitu menohok dalam dunia perpolitikan. Kehidupan politik sebenarnya sebagai proses perwujudan perubahan yang cepat. Bagaimana tidak, politik adalah senjata yang tepat untuk menghancurkan kemiskinan dan ketimpangan. Seperti pernyataan Ambrose Bierce (2002), politik sendiri melibatkan suatu pertemuan antara kepentingan-kepentingan dan asas-asas yang berkonflik.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Informasi Hatespeech di situs Kabarkan!

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Sejak bulan Mei 2018 lalu, Jaringan Gusdurian meluncurkan situs kabarkan.org. Situs ini bertujuan untuk menampung informasi dari masyarakat mengenai diskriminasi dan ujaran kebencian belakangan ini marak terjadi . Melalui media sosial, ujaran kebencian, provokasi, dan narasi ekstremisme sangat mudah ditemui. Begitu juga dengan diskriminasi, terutama di lembaga pendidikan, sampai saat ini masih terjadi.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Belajar Pada Gus Dur

oleh : AHMAD ROHIMAN, 0 Komentar
Berbicara Gus Dur, sungguh abstrak untuk digambarkan. Karena bagi saya, semuanya ada pada Gus Dur. Mulai dari tokoh politik, toleransi, pluralis, santri, humoris, dll. Jika kita menyebut Gus Dur merupakan tokoh politik, Gus Dur pernah menjadi Presiden. Jika menyebut Gus Dur merupakan seorang santri, Gus Dur adalah cucu dari tokoh pendiri NU. Jika bicara Gus Dur merupakan seorang pluralis, Gus Dur bahkan banyak membela kaum minoritas di negeri ini. Gus Dur, sangat sulit digambarkan. Namun, pemikirannya sangat bermanfaat untuk kita ikuti dalam kehidupan bermasyarakat di negeri ini.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Tentang 1965 dan Jalan Terjal Rekonsiliasi

oleh : HARIS EL MAHDI , 0 Komentar
Minggu kedua Agustus di tahun 1945, dua bom berhulu nuklir menghantam dua kota strategis yang menjadi lumbung logistik pasukan Dai Nippon, Hiroshima dan Nagasaki. Inilah untuk pertama kali dan satu-satunya, setidaknya sampai saat ini, senjata nuklir digunakan dalam sebuah perang. Hancurnya Hiroshima dan Nagasaki mereduksi sangat drastis kekuatan Dai Nippon dan menjadi tanda awal berakhirnya Perang Dunia ke-2. Perang ini dimenangkan secara gemilang oleh pihak sekutu yang dipimpin aliansi Amerika Serikat dan Uni Soviet. Di daratan Eropa, pasukan NAZI juga mengalami kekalahan besar dan terjepit. Di Penghujung cerita, Hitler dan Istrinya, Eva mati bunuh diri, meski jasadnya hilang misterius. Perang Dunia ke-2 berakhir anti-klimaks. Namun, bukan berarti dunia menemukan kedamaian. Paska PD Ke-2, dunia dibagi dalam dua kubu besar, yang merefleksikan pemenang PD ke-2. Bagi-bagi rampasan perang. Dua kubu itu adalah kubu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Bernard Russel menyebutnya sebagai Blok Declaration of Independence dan Blok Manifesto Communist.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Pemikirannya Tentang Demokrasi

oleh : AHMAD BAHAR, 0 Komentar
Tidak tahu persis kapan Gus Dur mulai tertarik terhadap soal-soal demokrasi. Namun tampaknya beliau memperolehnya dari hasil literatur yang dibacanya ketika Gus Dur duduk di perguruan tinggi. Ia banyak sekali melahap buku-buku sosial politik tulisan para pemikir Barat.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Catatan dari Orasi Alissa Wahid di Tunas Gusdurian 2018: Menjaga Indonesia, Menapaktilasi Gus Dur

oleh : KIAI MARZUKI KURDI, 0 Komentar
Dari sisi teori tata panggung, penampilan Alissa di acara Tunas Gusdurian 2018 lalu tidak tampak sebagai seorang Orator. Di panggung yang cukup luas yang penuh dengan dekorasi wayang dia memilih berdiri di tepi ujung paling depan. Memakai pakaian sederhana, seperti biasanya, tanpa asessoris dan dengan gerak-bahasa tubuh, ekpresi-mimik yang jugabiasa,juga tidak ada diksi atau kalimat bombastis yang keluar dari mulutnya---demi efek penampilan. Semua itu seperti mempertegas, sebagaimana diakuinya sendiri, dirinya tidak berbakat menjadi seorang Orator. Alissa tampil seperti sehari-hari saja. Kekuatan penampilannya yang berbicara sekitar 45 menit siang itu, justru terlihat pada watak yang tergambar dari emosi batinnya saat mengemukakan sesuatu yang terjadi dan melanda bangsa Indonesia terkait kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya dan agama( poleksosbud-gam). Ia, waktu itu, dengan daya kritisnya, merasa perlu mengemukakan cara pandang dirinya, dengan tetap mengambil jarak dengan beberapa kelompok beserta kepentinganya masing-masing sembari menghindari rasa romantisme seorang aktivis. Yakni kesaksian tentang ketidakadilan, pelanggaran HAM, radikalisme, intoleransi, makin mengguritanya korupsi, perampasan hak warga oleh kekuatan tertentu, penguasaan sumberdaya alam oleh asing dan beragam macam bentuk perilaku buruk yang menciderai harkat dan martabat kemanusiaan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kesadaran Relasional Antara “Aku, Kamu, dan Kita”

oleh : AFIF MUHAMMAD, 0 Komentar
“Kepuasan yang terlalu dini akan membuat kita lupa diri dan sombong, padahal tidak satu hal pun di dunia ini yang memiliki satu sisi, semuanya jamak. Mempertahankan suatu sisi dengan mati-matian tanpa kenal sisi lain hanya akan membuat kita tampak bodoh” demikian tutur anonim. Pengetahuan dan pemahaman yang dangkal mengakibatkan kekacauan. Anonim diatas merupakan fatwa klasik agar manusia senantiasa berfikir terbuka, universal, dan luas. Untuk mewujudkannya, tentu semuanya butuh proses panjang melalui kesadaran dan kometmen kuat.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Idul Adha, Empati untuk Meiliana dan Guyonan Gus Dur

oleh : SAIFUL HAQ, 0 Komentar
Empati untuk Meiliana datang saat Idul Adha, saya teringat guyonan Gus Dur. Hari raya Idul Adha atau kita sebut juga sebagai Idul Qurban baru saja kita rayakan. Perayaan keagamaan yang mengingatkan kita kepada hari ketika Nabi Ibrahim, yang bersedia untuk mengorbankan putranya untuk Allah, kemudian sembelihan itu digantikan “stuntman” oleh-Nya dengan domba. Saya tidak akan membahas keseluruhan sejarah Idul Adha, tetapi lebih tertarik momen percakapan nabi Ibrahim dan anaknya Ismail terkait perintah Allah lewat mimpi sang Bapak. Hal ini diabadikan dalam surat Ash-Shaffat ayat 102.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kebencian akan Tumbang, Komedi akan Menang

oleh : AFIF MUHAMMAD, 0 Komentar
Barangkali menjadi suatu yang langka dan aneh jika seorang dengan agama katolik berprofesi sebagai kuli di toko hijab. Lebih mengagetkan kadang, jika seorang non muslim menggunakan kalimat-kalimat dengan bahasa arab, misal. Semacam Alhamdulillah, Subhanallah, Assalamualaikum, dll. Tindakan tersebut kadang mengundang sensitifitas spontan dengan kesimpulan negatif yang asumtif. Implikasinya tidak selesai pada mindset dan sudut pandang saja, tapi berakibat pada prilaku dalam situasi-kondisi sosial.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Ibu Meiliana, Maafkan Aku....

oleh : RUMADI AHMAD, 0 Komentar
Ibu Meiliana, maafkan aku. Ternyata keterangan saya sebagai saksi ahli dalam persidanganmu tak didengarkan hakim. Hakim lebih memilih bisikan lain, daripada bisikanku. Saya sudah berusaha sekuat pengetahuan yang saya miliki untuk membebaskankanmu dari tuduhan melakukan penodaan agama, meskipun saya tahu biasanya hakim tidak akan tahan dengan tekanan massa. Engkau akhirnya tetap divonis melakukan penodaan agama dengan pidana 18 bulan. sebelumnya menduga, jaksa akan terpengaruh dengan argumentasi saya dan menuntutmu bebas. Mengapa? Setelah sidang, salah satu jaksa mendekati saya sambil berkata: "Terima kasih pak atas keterangannya. Banyak yang mencerahkan saya, termasuk posisi fatwa dalam Islam". Ternyata, dugaan saya inipun meleset.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi