Sabtu, 18 Agustus 2018

PILIHAN REDAKSI

Artikel-artikel pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Temu Mahasiswa yang Bukan Sekedar Bertemu

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Bersatu Indonesia Merdeka merupakan tema dari Temu Mahasiswa PMKAJ (Pastoral Mahasiwa Keuskupan Agung Jakarta (PMKAJ) 2018 yang dilangsungkan di Gunung Putri, 1-3 Agustus 2018. Kegiatan ini merupakan ajang perjumpaan Orang Muda Katolik se-universitas di Jakarta untuk bertemu, berdinamika, menerima informasi dan bertindak lanjut dalam membuat project social. Kegiatan hari pertama diawali dengan Parade Kebhinekaan, kemudian mahasiswa diajak untuk mendengarkan sesi “Panggilan Gereja Dalam Hidup Berbangsa dan Bernegara” oleh Romo Ignatius Swasono, SJ selaku Romo Moderator. Beliau menjelaskan panggilan Gereja dalam hidup berbangsa dan bernegara sesuai Nota Pastoral KWI 2018.
Kategori : Peristiwa , Pilihan Redaksi

Mengatasi Radikalisme ala Gus Dur

oleh : KH. HUSEIN MUHAMMAD, 0 Komentar
Andaikata Gus Dur masih ada hari ini dan menyaksikan hiruk-pikuk aksi-aksi radikalisme dan kekerasan atas nama agama, apakah yang akan beliau lakukan?. Ini pertanyaan yang diajukan seorang pemuda pada acara bedah buku “Gus Dur dalam Obrolon Gus Mus”, pada peresmian Pergerakan Griya Gus Dur, 24/01/16 lalu. Aku mengira-ngira saja atau berimajinasi. Membaca dan mempelajari paradigma, world view dan karakter spiritualisme Gus Dur, pertama-tama kita akan mengatakan bahwa Gus Dur tidak akan melakukan perlawanan terhadap para pelaku kekerasan dan kaum radikal melalui cara yang sama. Dengan kata lain Gus Dur tidak akan mengatasi kelompok garis keras dan kaum radikal tersebut dengan jalan kekerasan serupa dan militeristik.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Islam, dan Bhinneka Tunggal Ika

oleh : AHMAD INUNG, 0 Komentar
Alkisah.... Suatu malam yang hening di sebuah sanggar Hindu, di sisi utara Pulau Bali yang indah, tiga orang sahabat lintas-iman, dengan balutan rasa hormat dan ikatan persahabatan yang erat, berdiksusi tentang konsep wali atau santo atau orang suci. Diskusi itu mengantarkan ketiganya pada sebuah titik pertemuan spiritualitas tertinggi, rasa keagamaan yang mendalam. Ketiga orang itu adalah Gus Dur, Ibu Gedong Bagus Oka, dan Romo Mangun Wijaya. Peristiwa ini diceritakan sendiri oleh Gus Dur dalam salah satu tulisannya. Kedalaman peristiwa itu terrekam jelas dalam tulisan Gus Dur yang mengisahkan peristiwa tersebut. "Baik agama Hindu, Katolik maupun Islam, memandang...orang suci...memiliki beberapa sifat yang membedakan dari orang lain...ciri-ciri istimewa yang diberikan Tuhan...ataupun pengorbanan mereka pada kepentingan manusia. Persamaan pandangan inilah yang membuat kami...saling menghormati dengan sepenuh hati.... Saya tidak pernah memikirkan perbedaan...melainkan justru persamaan...yang selalu kami jadikan sebagai titik pandang untuk melakukan pengabdian kemanusiaan." (Wahid, Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman, 83-84).
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Anatomi Radikalisme di Indonesia

oleh : M KHOLID SYEIRAZI, 0 Komentar
Radikalisme ada pada semua agama, tetapi dalam Islam, radikalisme atau fundamentalisme terbukti memainkan peran politik terpenting sejak abad ke-18 (Barber, 1995: 206). Radikalisme dan fundamentalisme, sebagai istilah, sering bertukar tempat karena bermuara pada satu ide: menjalankan agama sampai ke akar-akarnya, mendasarkan seluruh aspek kehidupan kepada agama. Kaum fundamentalis Islam umumnya menganggap Islam adalah agama sempurna yang mencakup kerangka acuan semua aspek kehidupan— duniawi dan ukhrawi—mengatur manusia sejak dari cara makan, tidur, bersuci, beribadah, berniaga, hingga bernegara. Mereka menganggap aturan bernegara sama bakunya dengan ketentuan syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji. Ketentuan ibâdah dan siyâsah sama-sama tawqîfî (doktriner).
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Bulan Agustus, Jaringan GUSDURian Indonesia Selenggarakan Pertemuan Nasional Penggerak 2018

oleh : REDAKSI, 0 Komentar
Jaringan GUSDURian Indonesia pada tahun 2018 ini akan menyelenggarakan Pertemuan Nasional Penggerak GUSDURian (TUNAS 2018). Pertemuan dua tahunan ini akan diselenggarakan di Asrama Haji Yogyakarta. Selain buat para penggerak komunitas GUSDURian, pertemuan ini juga dibuka untuk umum. Demikian ini kami berikan tanya jawab (Q'nA) tentang Tunas Penggerak GUSDURian 2018.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Pribumisasi Islam sebagai Dakwah yang Rahmatan Lil Alamin

oleh : RIZAL MUBIT , 0 Komentar
Hukum Islam sementara ini hanya mampu menolak kemungkaran, kebatilan dan kemaksiatan, namum belum mampu menjadi solusi kebaikan dalam arti luas. Sejak pertama kali dibawa oleh Nabi Muhammad Saw dan dilanjutkan oleh para sahabat, Islam tidak serta merta menolak semua tradisi pra-Islam (tradisi masyarakat Arab pra-Islam). Juga tidak menghapus budaya, tradisi dan adat setempat yang tidak bertentangan secara diamental dengan Islam, sehingga menjadi ciri khas dari fenonema Islam di tempat tertentu. Demikian juga proses pertumbuhan Islam di Indonesia, tidak serta merta menghapus semua tradisi, budaya dan adat masyarakat setempat.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur di Tegalrejo (1957-1959)

Gus Dur pindah dari Yogyakarta ke Magelang, tepatnya di Pesantren Tegalrejo pada tahun 1957. Di pesantren ini Gus Dur nyantri selama sekitar 2 tahun lebih sedikit, di bawah asuhan KH. Chudlori. Greg Barton menyebut demikian: “Gus Dur membuktikan dirinya sebagai siswa yang berbakat dengan menyelesaikan pelajarannya di bawah asuhan KH. Chudlori selama 2 tahun di Tegalrejo. Kebanyakan siswa lain memerlukan waktu 4 tahun untuk menyelesaikan pelajaran ini. Bahkan di Tegalrejo ini Gus Dur menghabiskan sebagian besar waktunya di luar kelas dengan membaca buku-buku Barat (2003: 50). Meski sudah di Tegalrejo, Gus Dur kadang menyempatkan waktunya untuk belajar paruh waktu ke Denanyar-Jombang di bawah asuhan Mbah Bishri (2003: 51). Dan pad saat yang sama, Gus Dur juga mencari peluang menonton wayang kulit, kegemarannya yang sudah dilakoninya ketika di Yogyakarta. Untuk hal itu, menurut Greg, Gus Dur harus berjalan kaki cukup jauh agar dapat menonton wayang kulit.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Membaca Konsep Pribumisasi Islam dan Inkulturasi Iman Kristiani dalam Konteks Indonesia

oleh : PAULUS BAGUS SUGIYONO, 0 Komentar
Relasi antara agama dan budaya selalu menjadi isu yang menarik dalam sejarah peradaban umat manusia. Tidak jarang tegangan-tegangan selalu terjadi dalam dinamika keduanya. Meski demikian, tegangan ini menghidupkan, sebab selalu mengajak kita untuk mampu menempatkan diri dalam posisi yang tepat di antara keduanya. Dalam konteks lokal, Indonesia pernah mengalami adanya stimulus-stimulus agama yang datang dari luar, antara lain Islam dan Kristen. Kedua agama ini tentu mengalami pergulatan yang berbeda-beda dalam perjumpaannya dengan budaya lokal di Indonesia. Dalam perjumpaan dengan keduanya, sejatinya identitas budaya Indonesia terus-menerus dipertajam.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Gus Dur di Tambakberas (1959-1963)

oleh : NUR KHOLIK RIDWAN, 0 Komentar
Pada tahun 1959 Gus Dur pindah ke Jombang dari Magelang, yaitu di Tambakberas. Greg Barton menyebut: “Ia belajar di sini hingga tahun 1963, dan selama kurun itu ia selalu berhubungan dengan Kyai Bishri Syansuri secara teratur. Selama tahun pertamanya, ia mendapat dorongan untuk mulai mengajar. Ia kemudian mengajar di Madrasah Moderen yang didirikan dalam kompleks dan juga menjadi kepala sekolahnya. Selama masa ini, ia tetap berkunjung ke Krapyak secara teratur. Di sini ia tinggal di rumah KH. Ali Maksum (Greg Barton, 2003: 50). Di Tambakberas, Gus Dur menempati Bilik Pangeran Diponegoro, dibawah asuhan KH. Abdul Fattah Hasyim. Kyai Fattah ini memiliki salah satu wirid rutin setelah sholat shubuh dengan ngaji Shohîh al-Bukhôrî dan Ihyâ’ `Ulûmuddîn (Tambakberas, 2017: 215).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

CATENACCIO HANYALAH ALAT BERAT

oleh : ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
SINDHUNATA telah menguraikan pendapatnya mengenai jalannya pemerintahan dalam harian ini, beberapa hari yang lalu. Inti pendapatnya, sistem bertahan (catenaccio) saja di dalam persepakbolaan Italia sulit untuk dikembangkan di Indonesia dalam perkembangan terakhir ini. Ia mengemukakan, pemerintah dengan sadar haruslah menegakkan demokrasi secara menyeluruh, dan untuk itu sistem bertahan saja tidaklah cukup. Haruslah digunakan sistem menyerang dalam persepakbolaan walaupun tidak jelas strategi mana yang digunakan. Total football-kah atau yang lain?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi