Kamis, 13 Desember 2018

PILIHAN REDAKSI

Artikel-artikel pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Intoleransi: Tantangan Demokrasi di Indonesia

oleh : AFIFAH AHMAD, 0 Komentar
“Indonesia sudah membuat kemajuan yang luar biasa untuk mengkonsolidasi demokrasi” “Indonesia dapat menjadi model seluruh dunia” Suara lantang Profesor Syafaatun Almirzanah memecah keheningan ruang pertemuan di University of Islamic Sect, Teheran. Narasi Hefner dalam buku Islam Sipil ini seolah mampu memberikan angin segar kepada para peserta yang hadir di acara dialog kebangsaan bertajuk “Masa Depan Demokrasi Indonesia dan Tantangan Zaman”.
Kategori : Peristiwa , Pilihan Redaksi

Maaf, GUSDURian Tidak Berpolitik Praktis

oleh : M. BAKHRU THOHIR, 0 Komentar
“Ini berasal dari spektrum gerakan Gus Dur yang sangat luas. Gus Dur itu kan membela petani di pegunungan kendeng dari industri yang ingin menghancurkan kehidupan mereka tapi juga mendampingi TKI yang sedang mengalami tuntutan hukuman mati, jadi banyak. Karena itu, kemudian ketika Gus Dur wafat, kita kebingungan bagaimana caranya merawat pemikiran Gus Dur, akhirnya kita pisahkan antara Gus Dur sebagai politisi dan Gus Dur sebagai pejuang demokrasi dan rakyat. Nah, Gus Dur sebagai pejuang rakyat dijaga oleh Jaringan GUSDURian oleh para GUSDURian, Gus Dur sebagai politisi ini diikuti oleh para kader politik Gus Dur. Yang hari ini membuat pernyataan adalah konsorsium kader politik Gus Dur yang ada di berbagai kelompok. Sementara Jaringan GUSDURian tetap pada jalur politik kebangsaan, tidak akan masuk pada isu-isu politik praktis/politik elektoral, tapi fokus pada nilai-nilai” kurang lebih seperti itu kalimat yang diucapkan Alissa Wahid saat diwawancarai oleh Metro TV dalam merespon deklarasi dukungan Barisan Kader Gus Dur (Barikade Gus Dur) dalam menghadapi pemilihan presiden 2019 sekaligus menjelaskan posisi GUSDURian di kancah perpolitikan Indonesia saat ini.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Menegaskan Netralitas: Menyanggah Framing Media Terhadap Sikap Politik GUSDURian

oleh : WAHYU EKA SETYAWAN, 0 Komentar
Beberapa hari ini masyarakat dibuat gemuruh oleh berbagai pewartaan oleh media mainstream, silahkan di googling dengan kata kunci GUSDURian, maka akan muncul pemberitaan yang sangat tendensius. Seperti "GUSDURian mendukung Jokowi" atau "GUSDURian memberi restu kepada Abah Kyai Ma'ruf." Dan, barang tentu bak jamur di musim hujan, berita-berita serupa bermunculan dengan judul yang beragam, namun masih dalam substansi yang sama. Yakni, GUSDURian secara aklamatif mendukung Jokowi dan Kyai Ma'ruf. Bahkan terakhir di beranda google jika kita memakai kata kunci GUSDURian, maka akan direlasikan dengan klaim Prabowo bahwa GUSDURian akan mendukung mereka.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Keadilan dan Rekonsiliasi

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Minggu lalu, di bilangan Kramat V, Jakarta penulis meresmikan sebuah panti jompo milik sebuah yayasan yang dipimpin orang-orang eks tapol dan napol, kasarnya orang-orang PKI (Partai Komunis Indonesia) yang sudah dibubarkan. Mereka mendirikan sebuah panti jompo di gedung bekas kantor Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), yang dianggap sebagai perempuan PKI. Peresmian yang diminta mereka secara apa adanya pada pagi yang cerah itu, disaksikan antara lain oleh SK Trimurti, salah seorang pejuang kemerdekaan kita. Ini penulis lakukan karena solidaritas terhadap nasib mereka, yang sampai sekarangpun masih mengalami tekanan-tekanan dan kehilangan segala-galanya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Politik Gusdurian

oleh : SARJOKO WAHID, 0 Komentar
Sore ini muncul berita yang dinanti-nantikan sebagian orang: konferensi pers mengenai arah politik keluarga Gus Dur. Mbak Yenni Wahid, seusai meminta masukan kepada para sesepuh dan berdiskusi dengan berbagai pihak kemudian menyatakan mendukung Jokowi-Yai Ma’ruf untuk pemilihan presiden 17 April 2019 mendatang. Sebagian senang. Sebagian biasa saja. Sebagian kecewa.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Museum Perdamaian di Iran: Make Art, Not War

oleh : AFIFAH AHMAD, 0 Komentar
“Seandainya kita tak saling mengerti bahasa masing-masing, kita masih bisa menyampaikan pesan perdamaian lewat senyum”. Itulah kata-kata terakhir yang saya ingat dari Pak Moghadam, salah seorang relawan di museum perdamaian, Teheran. Sungguh beruntung kami bisa mendapat banyak penjelasan darinya. Dia sendiri adalah korban kekerasan perang Iran-Irak Tahun 1980-1988. Jari tangannya tak lengkap, kedua kakinya hilang. Namun, semangatnya tetap menggebu untuk menyuarakan perdamaian. Seperti pagi itu, ia begitu antusias mengantar kami menyusuri Museum.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Politik “Pemuda” di Tengah Derasnya Arus Perubahan Sosial

oleh : MUHAMMAD N. HASSAN, 0 Komentar
"Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.”Demikian nasihat Gus Dur kepada siapapun yang sedang berkuasa dan akan berebut kekuasaan di tahun politik dewasa ini. Jika tidak demikian, sikap sinisme politik akan semakin pekat menyelimuti kehidupan perpolitikan. Dinamika telah berkembang amat pesat menyebabkan pro kontra yang sangat signifikan. Hal ini menyebabkan sikap anti-politik dan cinta akan politik menjadi rivalitas yang begitu menohok dalam dunia perpolitikan. Kehidupan politik sebenarnya sebagai proses perwujudan perubahan yang cepat. Bagaimana tidak, politik adalah senjata yang tepat untuk menghancurkan kemiskinan dan ketimpangan. Seperti pernyataan Ambrose Bierce (2002), politik sendiri melibatkan suatu pertemuan antara kepentingan-kepentingan dan asas-asas yang berkonflik.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Informasi Hatespeech di situs Kabarkan!

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Sejak bulan Mei 2018 lalu, Jaringan Gusdurian meluncurkan situs kabarkan.org. Situs ini bertujuan untuk menampung informasi dari masyarakat mengenai diskriminasi dan ujaran kebencian belakangan ini marak terjadi . Melalui media sosial, ujaran kebencian, provokasi, dan narasi ekstremisme sangat mudah ditemui. Begitu juga dengan diskriminasi, terutama di lembaga pendidikan, sampai saat ini masih terjadi.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Belajar Pada Gus Dur

oleh : AHMAD ROHIMAN, 0 Komentar
Berbicara Gus Dur, sungguh abstrak untuk digambarkan. Karena bagi saya, semuanya ada pada Gus Dur. Mulai dari tokoh politik, toleransi, pluralis, santri, humoris, dll. Jika kita menyebut Gus Dur merupakan tokoh politik, Gus Dur pernah menjadi Presiden. Jika menyebut Gus Dur merupakan seorang santri, Gus Dur adalah cucu dari tokoh pendiri NU. Jika bicara Gus Dur merupakan seorang pluralis, Gus Dur bahkan banyak membela kaum minoritas di negeri ini. Gus Dur, sangat sulit digambarkan. Namun, pemikirannya sangat bermanfaat untuk kita ikuti dalam kehidupan bermasyarakat di negeri ini.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Tentang 1965 dan Jalan Terjal Rekonsiliasi

oleh : HARIS EL MAHDI , 0 Komentar
Minggu kedua Agustus di tahun 1945, dua bom berhulu nuklir menghantam dua kota strategis yang menjadi lumbung logistik pasukan Dai Nippon, Hiroshima dan Nagasaki. Inilah untuk pertama kali dan satu-satunya, setidaknya sampai saat ini, senjata nuklir digunakan dalam sebuah perang. Hancurnya Hiroshima dan Nagasaki mereduksi sangat drastis kekuatan Dai Nippon dan menjadi tanda awal berakhirnya Perang Dunia ke-2. Perang ini dimenangkan secara gemilang oleh pihak sekutu yang dipimpin aliansi Amerika Serikat dan Uni Soviet. Di daratan Eropa, pasukan NAZI juga mengalami kekalahan besar dan terjepit. Di Penghujung cerita, Hitler dan Istrinya, Eva mati bunuh diri, meski jasadnya hilang misterius. Perang Dunia ke-2 berakhir anti-klimaks. Namun, bukan berarti dunia menemukan kedamaian. Paska PD Ke-2, dunia dibagi dalam dua kubu besar, yang merefleksikan pemenang PD ke-2. Bagi-bagi rampasan perang. Dua kubu itu adalah kubu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Bernard Russel menyebutnya sebagai Blok Declaration of Independence dan Blok Manifesto Communist.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi