Jumat, 17 Agustus 2018

PILIHAN REDAKSI

Artikel-artikel pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Jaringan Gusdurian Luncurkan Situs Penampungan Informasi Ujaran Kebencian dan DIskriminasi

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Jaringan Gusdurian meluncurkan situs pengumpulan informasi mengenai diskriminasi dan ujaran kebencian (hate speech) melalui situs: www.kabarkan.org. Situs ini bertujuan untuk menampung informasi dari masyarakat mengenai diskriminasi dan ujaran kebencian belakangan ini marak terjadi . Melalui media sosial, ujaran kebencian, provokasi, dan narasi ekstremisme sangat mudah ditemui. Begitu juga dengan diskriminasi, terutama di lembaga pendidikan, sampai saat ini masih terjadi. Seperti penutupan sekolah atas dasar isu SARA, pemaksaan identitas dan simbol tertentu, dan sulitnya perizinan mendirikan sekolah karena ideologi masih menjadi perbincangan di tengah negara yang menjunjungi tinggi asas demokrasi.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi , Sorot

Denting Islam dan Peradaban Nusantara Tentang Lingkungan Hidup

oleh : GATOT ARIFIANTO, 0 Komentar
Nusantara adalah peradaban luhur. Kedekatan dengan alam dan sang pencipta selalu dimanifestasikan dalam karya seperti sastra, pitutur luhur, hingga pusaka semisal keris. Tanpa peradaban luhur, masuknya agama-agama ke Nusantara berikut penerimaannya tentu berlangsung dengan paksaan dan kekerasan. Dalam sejumlah literasi, agama Budha, Hindu, Kristen dan Islam masuk ke Nusantara atau Indonesia melalui jalan damai, jalan niaga, yang dihasilkan oleh peran alam (pertanian, perkebunan hingga perikanan) yang berorientasi pada kehidupan manusia.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Mengapa Mereka Marah?

oleh : ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Seorang kawan menanyakan, mengapa banyak pemuka masyarakat Islam marah kalau mendengar sebutan “kaum fundamentalis”, atau tersinggung kalau ada orang membicarakan “issue negara Islam”.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Cara Gus Dur Membaca Al Quran dalam Konteks Realitas Sosial

oleh : WILDAN IMADUDDIN MUHAMMAD, 0 Komentar
Bagi umat Muslim di seluruh Dunia al-Quran adalah sumber pedoman paling otoritatif yang dijadikan sandaran argumentasi hampir di setiap lini kehidupan. Dari al-Quranlah peradaban Islam kemudian lahir, tumbuh dan berkembang menghasilkan beragam sumber ilmu pengetahuan. Berjuta-juta jilid karya para ulama telah diproduksi sebagai bagian dari upaya memahami al-Quran.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Mudik Atau Tetap Mabuk Kuda Lumping

oleh : GATOT ARIFIANTO, 0 Komentar
Pekerjaan rumah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjelang genap 73 tahun merdeka masih banyak. Suara sekaligus gerak positif sebagaimana dilakukan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan sejumlah nama lain yang berani mudik (pulang) terhadap ajaran Islam, amanat negara dan kemanusiaan lebih dibutuhkan daripada mabuk (hilang kesadaran) seperti pemain kuda lumping. 70 persen dari sekitar 250 juta jiwa total jumlah penduduk Indonesia ialah followers Rasulullah SAW, menganut agama Islam, agama perdamaian. Produksi masif ujaran kebencian hingga fitnah yang telah ditegaskan dosanya lebih besar dari membunuh dalam QS Al Baqarah ayat 217, dewasa ini sungguh mencabik hakikat perdamaian. Tidakkah itu memberi kesan, jika ternyata kita telah jauh meninggalkan Islam?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Negara Islam dalam Pengembaraan Gus Dur

oleh : ZAIM AHYA, 0 Komentar
Gus Dur pernah melakukan pengembaraan, mencari arti negara Islam. Baik di Indonesia maupun di Timur Tengah. Hal itu wajar, karena sebagai seorang muslim. Namun mengapa kemudian beliau menolak dari adanya konsep negara Islam? Bagi umat Islam yang meyakini mendirikan Negara Islam adalah sebuah keharusan, terus berusaha mewuwudkannya merupakan konsekuensi logis dari keyakinannya itu. Tidak mendirikan negara Islam adalah berdosa bagi mereka. Mungkin kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah contoh yang terdekat dalam masalah ini. Walaupun sudah dibubarkan dan gugatannya ditolak karena terbukti berkeinginan mendirikan Khilafah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (kompas.com-07/05/2018), namun masih terasa gemanya dari trending topik twitter pada 07/05/2018 kemarin.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Pendekatan Kultural Gus Dur terhadap Konflik Aceh dan Papua

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur telah meletakkasan dasar-dasar penyelesaian konflik Aceh dan Papua dengan Republik Indonesia secara damai pada masa kepresidennya 1999-2001. Presiden Gus Dur melakukannya dengan pendekatan kultural dan personal dengan penghormatan terhadap hak-hak kolektif masyarakat Aceh dan Papua dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan dasar-dasar tersebut, maka penyelesaian damai Aceh dan Papua bersifat permanen. Demikian kesimpulan disertasi Ahmad Suaedy, Anggota Ombudsman RI dan mantan Direktur Eksekutif the Wahid Institute dan Anggota Board Jaringan GusDurian Indonesia, dalam ujian terbuka di paska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan judul VISI KEWARGANEGARAAN KULTURAL ABDURRAHMAN WAHID DALAM PENYELESAIAN KONFLIK ACEH DAN PAPUA, 1999-2001, Senen (14/5) di Kampus Pasca UIN Suka, Yogya.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Kartun Tempo dan Respon Gus Dur

oleh : HAMIDULLOHIBDA , 0 Komentar
Hebohnya kartun Majalah Tempo, edisi 26 Februari 2018 yang mengakibatkan Front Pembela Islam (FPI) demo besar-besaran harus menjadi pembelajaran. Kejadian itu membuktikan masyarakat masih “miskin literasi seni” dalam media massa. Literasi seni di sini meliputi membaca, mengapresiasi, menafsir, bahkan mengritik kartun sebagai produk seni, budaya, dan produk pers.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

SIKAP JARINGAN GUSDURIAN JAWA BAGIAN BARAT TENTANG PEMILIHAN KEPALA DAERAH SERENTAK DI JAWA BARAT

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Pada 27 Juli 2018, masyarakat Jawa Barat akan menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara serentak di 17 kabupaten / kota termasuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Tidak kurang dari 61 Pasangan Calon (Paslon) akan memperebutkan kursi pemimpin di wilayah masing-masing. Hal ini tentu harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak guna memastikan proses Pilkada dapat berjalan secara jujur, adil, bebas dan menghasilkan pemimpin-pemimpin terbaik. Jaringan Gusdurian Jawa Bagian Barat mencermati Jawa Barat merupakan salah satu wilayah dengan tingkat dinamika sosial politik yang paling tinggi di Indonesia, terlebih lagi pada momen-momen politik seperti Pilkada. Bahkan dalam beberapa kasus, Pilkada juga kerap memunculkan tren meningkatkan politik identitas dari pihak-pihak tertentu untuk tujuan meraup suara pemilih. Karena itu, sebagai salah satu elemen masyarakat, Jaringan Gusdurian Jawa Bagian Barat menyampaikan sikap sebagai berikut:
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi