Sabtu, 21 Oktober 2017

PILIHAN REDAKSI

Artikel-artikel pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Soekarno dan Ketimpangan

Tidak dapat dipungkiri bahwa Soekarno adalah salah satu pemimpin dan pemikir terbesar bangsa ini. Soekarno mampu meramu pengalaman dan pengamatannya terhadap situasi penindasan yang tersebar di berbagai pelosok negeri menjadi pemikiran yang bukan hanya revolusioner tetapi juga visioner. Revolusioner pada jamannya berarti mampu menggerakkan gairah massa untuk berjuang memperbaiki kondisi mereka melalui kemerdekaan, sementara visioner mencitakan kondisi bangsa ini kepada kemakmuran, kesejahteraan berbasis modal yang ada.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kisah Sang Zuhud Gus Dur Kirim Wesel ke Rakyat Jelata

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Dulu, ketika Gus Dur masih memimpin NU, Surahman, tetangga desa saya, pernah bekerja membantu beliau di PBNU. Saban hari menunggu kantor PBNU, sekaligus membersihkan kamar di mana Gus Dur duduk berkantor. Sebelumnya, dia sempat beberapa tahun membantu di rumah Kiai Fuad Amin (alm), pengasuh pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, mertua saya, sambil mengaji. Lalu Kiyai Fuad menugaskannya di PBNU. Surahman pernah bercerita kepada saya mengenai pengalamannya bekerja di PBNU dan menemani dan melayani Gus Dur. Katanya, setiap hari Gus Dur menerima banyak sekali surat dari warga dan umatnya di daerah-daerah. Ada pengurus NU, Kiai, santri, petani, nelayan, tukang kebun, pedagang kelontong, dan lain-lain.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Sejarah Kebangkitan Nasional dan Kebangkitan Islam di Indonesia

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Pada tanggal 20 Mei menjadi awal sejarah baru gerakan nasionalis di Hindia Belanda. Gerakan ini ditandai dengan munculnya organisasi masyarakat baik yang berasal dari agama, media, maupun sosial. Kemunculannya tidak lepas dari pengaruh politik Belanda yang pada saat itu menerapkan sistem politik etis untuk Hindia Belanda. Hal itu dikarenakan sebagai rasa terimakasih yang diberikan oleh Belanda kepada Hindia Belanda karena selama ini sudah membantu perekonomian Belanda. Sejarah telah mencatat bahwa antara tahun 1900 hingga 1916 organisasi di Hindia Belanda mulai muncul secara massif. Media Medan Priyayi, organisasi Budi Utomo, Syarikat Dagang Islam yang diganti menjadi Syarikat Islam (SI), dan masih banyak lagi.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur: Ibu Kota Bagi Kaum yang Teraniaya

oleh : ANGGI AFRIANSYAH, 0 Komentar
Hatimu suaka bagi segala umat yang ingin membangun kembali, puing-puing cinta, ibukota bagi kaum yang teraniaya (Durrahman, Joko Pinurbo) Puisi karya Joko Pinurbo sangat tepat dalam menggambarkan sosok Gus Dur. Gus Dur merupakan suaka bagi segala umat, terutama bagi mereka yang teraniaya, mereka yang patut untuk dibela. Gagasan dan tindakannya untuk kemanusiaan sungguh luar biasa. Tak jarang Gus Dur dicerca karena gagasan dan tindakannya tersebut. Meskipun demikian keteguhannya dalam memperjuangkan setiap apa yang diyakini sebagai kebenaran tak ada duanya. Cerita tentang kesederhanaan hidupnya, penghargaannya terhadap orang lain, pembelaan-pembelaannya terhadap kaum yang terpinggirkan, perjuangannya terhadap keislaman dan keindonesiaan telah banyak diungkapkan dalam beragam tulisan, diceritakan dalam banyak narasi.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Khilafah: Sebuah Kemunduran

Selain faktor geopolitik di Timur Tengah yang memicu lahirnya Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS), persoalan yang tak boleh diabaikan umat Islam ialah ide negara Islam atau khilafah. Sebab, pelarangan ISIS tak otomatis membuat pahamnya mati di negeri ini. Ide tentang khilafah dan pemberlakuan syariah akan terus menjadi perdebatan panas sebelum relasi antara Islam dan negara selesai disepakati oleh semua umat Islam. ISIS, dalam aspek ini, menjadi pelajaran penting.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Haruskah HTI Dibubarkan?

oleh : IQBAL AHNAF, 0 Komentar
Dalam beberapa bulan terakhir wacana pembubaran organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menguat. Atas desakan sejumlah ormas, polisi menghentikan kegiatan HTI di banyak tempat. Merespons tuntutan ini, pada 3 Mei 2017, Mendagri menyatakan pembubaran HTI tinggal menunggu waktu. Sebelumnya Kapolri dan Menko Polhukam memberikan sinyal serupa. Tuntutan pembubaran HTI didasarkan pada tuduhan bahwa organisasi ini ingin mengubah ideologi dan dasar negara yang dianggap sudah final. Tujuan HTI untuk mendirikan sistem pemerintahan alternatif yang disebut “khilafah” dianggap sebagai agenda makar yang tidak boleh dibiarkan bebas di Indonesia.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Sistem Khilafah Tidak Bisa Menunjukkan Perdamaian

oleh : MUHAMMAD MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Negara-negara yang mayoritas memeluk agama Islam sudah semestinya memiliki konsep tentang perpaduan Islam dan Negara. Ini akan terlihat ketika kita membandingkan konsep agama dan negara di Suriah, Iran, Mesir, dan Indonesia. Semua negara ini memiliki ciri khas tertentu dalam merumuskan konsep hubungan tersebut. Indonesia misalnya, sejak dirumuskannya Pancasila dan UUD 1945 banyak menuai perdebatan. Apakah Islam yang akan menjadi dasar negara, atau Islam dan agama lainnya akan menjadi perkakas dalam negara. Meskipun pada awalnya para pejuang sudah menetapkan sila pertama Pancasila disertai dengan tujuh kata (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya), namun pada tanggal 18 Agustus 1945 melalui sidang pertama PPKI tujuh kata itu dihapus dan menjadi Pancasila yang kita tahu saat ini.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Toleransi Sejak Dini

Dulu kala, saya teracuni informasi yang berkeliaran. Informasi itu datang dari mulut ke mulut tanpa tahu benar tidaknya. Meskipun dianggap benar, tetapi kebenaran itu lahir dari sikap keagamaan yang mendasarinya tanpa tahu lebih jauh faktanya seperti apa. Keyakinan tidak ditopang oleh pengetahuan yang benar. Meyakini informasi yang datang, membentuk sikap curiga kepada agama orang lain, dan menimbulkan kesan spesifik yang melahirkan penilaian kebencian. Informasi yang membentuk prasangka tersebut tentang berita-berita misionarisme. Kalau hari ini kita mengenal sejenis informasi hoax.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ketika Massa Muslim Berkumpul

Beberapa bulan, saya sempat terpekur dalam kekhawatiran melihat gelombang massa aksi bela Islam-bela Ulama yang diakui atau tidak diakui, momentum itu terbentuk dari sebuah alasan dan desain peristiwa yang begitu politis. Kekhawatiran itu semakin menjadi setelah membaca beberapa ulasan dalam jurnal Maarif Institute antara lain dari Ahmad Najib Burhani, Mohammad Iqbal Ahnaf dan Airlangga Pribadi Kusman. Dalam jurnal edisi "Pasca Bela Islam" itu, saya menemukan poin-poin yang jika boleh diringkas saya sebut sebagai "Hal-hal berbahaya namun tidak disadari terjadi dalam aksi bela Islam", satu diantaranya adalah soal: Populisme Islam atau Fragmentasi Otoritas Keberagamaan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Tentang Buku Ahmad Wahib dan Gus Dur

oleh : LIES MARCOES, 0 Komentar
Sekitar tahun 1982-1983 Ismed minta mengedit catatan harian Ahmad Wahib. Dia mengerjakannya seperti seorang pertapa. Ia tinggal di daerah Sandratex di Pasar Jumat. Singkat kata, suntingan yang berasal dari “bengkalai catatan harian itu” selesai dan karena telah terikat kontrak dengan LP3ES, Ismed yang ketika itu freelance diminta untuk bertanggung jawab sampai buku itu terbit. Maka resmilah Ismed menjadi editor buku di penerbit LP3ES. Suatu hari Gus Dur datang dan disodori naskah draft buku itu. Seharian ia membacanya sambil duduk di kursi rotan di bagian dalam ruang redaksi. Menjelang sore ketika staf menjelang pulang Gus Dur baru merampungkan bacaannya. Lalu dia menghampiri Ismed, “Dahsyat ini Med, best seller nih, apa judulnya”?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi