Senin, 18 November 2019

PILIHAN REDAKSI

Artikel-artikel pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Esai itu Gaya Menulis “Bukan-Bukan”

oleh : MUHIDIN M DAHLAN, 0 Komentar
Jika Anda mengetik “What is Essay” di bilah mesin pencari, maka si pengumpul informasi ini memberitahu dalam sepesekian detik informasi dasar tentang esai. Jumlahnya ratusan juta item yang meliputi apa itu esai, tipe, jenis, contoh, dan bagaimana menuliskannya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Tuhan Tidak Perlu Dibela

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Banyak orang yang gagal memahami tulisan Gus Dur "Tuhan Tidak Perlu Dibela". Padahal, tulisan yang kemudian dijadikan judul sampul sebuah buku tersebut kalau dipahami dengan baik dan benar justru akan menyadarkan kita untuk tidak merasa paling benar sendiri dan merasa jemawa. Dari tulisan tersebut kita disadarkan untuk menjadi umat beragama yang mampu menghormati satu sama lain dan memanusiakan manusia.
Kategori : Headline , Pilihan Redaksi

Ketika Gus Dur Menulis Tentang Mesir

oleh : M. FAKHRU RIZA, 0 Komentar
Gus Dur menuliskan tentang banyak hal, mulai dari tema-tema yang paling serius hingga tema-tema yang lebih santai, reflektif dan jenaka tentunya. Dari sekian banyak tema-tema yang pernah ditulis Gus Dur, yang masih sering luput untuk diulas oleh banyak orang adalah soal ketika Gus Dur menuliskan tentang Mesir dalam kolom-kolomnya di Tempo.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Tentang Intelektualisme Gus Dur, GusDurian dan Jaringan Gusdurian

oleh : VINANDA FEBRIANI, 0 Komentar
Siapa tak kenal sosok Ulama kharismatik cucu dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang lahir di Jombang pada 14 Desember 1940 dan sangat akrab disapa Gus Dur ini? Hampir semua orang dari penjuru nusantara mengenal sosok Gusdur meski tidak secara langsung. Melalui pemikiran-pemikirannya misal,atau nilai keteladanan, biografi ataupun melalui perantara cerita orang lain terkait kisah hidup beliau.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kampus Sekuler, Kampus Religius?

oleh : ACHMAD MUNJID, 0 Komentar
Sejak 1990an, banyak orang (Islam) di kampus-kampus umum di Indonesia kian sibuk mengurus agama , meski sedikit atau bahkan tidak ada jurusan yang terkait langsung dengan disiplin kajian agama (Islam) di sana. Munculnya kelompok seperti Jamaah Shalahuddin di UGM, Salman di ITB dll sampai berdirinya ICMI bisa disebut sebagai contohnya. Meski belajar ilmu-ilmu sekuler, tidak sedikit mahasiswa di kampus umum yang mungkin malah lebih banyak menghabiskan waktu dan sibuk belajar agama daripada ilmu sekuler yang konon mau ditekuninya. Istilah dalam bahasa Arab pun makin disukai sebagai "bumbu" dalam percapakan sehari-hari. Mungkin menarik untuk mengukur, mana yang lebih sering dikunjungi mahasiswa Muslim sekarang, perpustakaan atau musholla/masjid kampus?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Lima Jalan Esai ala Gus Dur

oleh : MUHIDIN M DAHLAN, 0 Komentar
Diriwayatkan oleh Syu’bah Asa di esai “Gus Dur Mencapai Cita-Citanya” dalam Melawan Melalui Lelucon (2000), tersebutlah bahwa Gus Dur itu orangnya bersahabat, tidak formal, punya empati besar, cepat bereaksi, di samping luas perhatian dan banyak guyon.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Meneladani Gus Dur sebagai Pembaca yang Rakus

oleh : DEDI SAHARA, 0 Komentar
Gus Dur adalah kebudayaan, yang tak akan aus digerus zaman. Ide-idenya masih terus diperdebatkan. Wajahnya pun semakin jamak ditemukan pada poster, selembaran, dan grafiti, di jalanan dan media sosial, di halaman-halaman majalah atau koran nasional. Ia sangat dikagumi, dicintai, oleh sebagian besar orang, dan disalahpahami oleh sebagian kecil lainnya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Pesan Kemanusiaan dalam Bermusik

oleh : ZIKO RIZKY PRABOWO, 0 Komentar
Pada era milenial ini kita dimudahkan dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Hal ini sejalan dengan kemajuan di bidang informasi yang tentunya sangat memudahkan dalam mencari informasi mengenai apa saja. Namun di sisi yang lain kita belum dapat merumuskan bagaimana cara mencounter informasi-informasi yang masuk dalam kategori hoax. Berita-berita hoax itu begitu derasnya mengalir bagaikan tsunami yang tidak ada yang dapat menahannya kecuali bangunan-bangunan yang sangat kokoh.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi