Sabtu, 24 Agustus 2019

PILIHAN REDAKSI

Artikel-artikel pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Anti-Semitisme dan Kekalahan Telak Kemanusiaan

oleh : MOHAMMAD PANDU, 0 Komentar
Kebetulan, saya sedang membaca Penghancuran Buku dari Masa ke Masa (2017) karya Fernando Báez. Di sana diceritakan, saat kecamuk Perang Dunia II, Joseph Goebbels selaku kepala Kementerian Penerangan dan Propaganda Jerman telah membumihanguskan hampir semua produk budaya bangsa Yahudi, terutama buku dan kitab suci.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Simponi ke-9

oleh : M MUHAMMAD PUTRA, 0 Komentar
Kematian adalah tragedi kehidupan yang memilukan bagi manusia. Sebisa mungkin manusia menghindarinya. Namun, kematian adalah keniscayaan bagi makhluk yang bernyawa. Tak pandang bulu; tua-muda, kaya-miskin, kuasa-lemah, pandai-bodoh, tak luput dari yang namanya kematian.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Tafsir Muslimah Progresif dan Harapan untuk Asama

oleh : KALIS MARDIASIH, 0 Komentar
Kami berangkat ke Kuala Lumpur International Airport (KLIA) dengan taksi yang sama. Penerbangan masih dua jam lagi. Asama, perempuan yang bersama saya, akan pulang ke Thailand dan saya ke Yogyakarta. Selama delapan hari, kami baru saja mengikuti sebuah lokalatih bertema keadilan gender di Cyberjaya, Malaysia bersama perempuan aktivis muslim Asia Tenggara. Saya mengajak Asama makan sambil menunggu waktu check in. Akhirnya, kami duduk di sebuah restoran fast food KLIA.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Paska 17 April 2019

oleh : HARIS EL MAHDI, 0 Komentar
Lima tahun yang lalu, di tahun 2014, ketika KPU telah menetapkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla sebagai pemenang Pilpres mengalahkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa, serta-merta publik terbelah menjadi dua kubu secara ekstrim. Kubu yang pro Prabowo dan kubu yang Pro Jokowi. Pembelahan dukungan selama kampanye yang sangat keras diteruskan paska penetapan KPU. Praktis, selama lima tahun, narasi politik Indonesia penuh sesak dengan saling caci masing-masing kubu.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Apakah Demokrasi adalah Ilusi?

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Meningkatnya kesadaran politik di Indonesia pasca Orde Baru tidak dibarengi dengan pemahaman yang mendalam terhadap demokrasi. Demokrasi yang menjadi jalan untuk menempuh cita-cita bangsa dalam mengantarkan keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan tidak banyak disadari oleh kalangan elit sehingga demokrasi hanya sebatas tujuan bukan menjadi jalan. Kehidupan demokrasi akan berhasil manakala diskursus di ruang publik juga disertai dengan kedewasaan.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Sepenggal Perjalanan Saya di Kota Roma: Yesus, Islam, dan Cinta

oleh : DEWI PRASWIDA, 0 Komentar
Mendengar kata Roma yang terbesit dibenak saya adalah “koloseum” dan tentunya keindahan karya para arsitektur luar biasa berupa gereja di setiap sudutnya. Wajar apabila di Roma banyak sekali gereja dengan berbagai kekhasannya karena di tengah Kota Roma pula sang Bapa Suci bertakhta yaitu di negara Kota Vatikan. Pastor, suster hingga bruder banyak sekali akan kita jumpai di Roma khususnya di Vatikan mulai dari yang berjubah hingga yang berpakaian biasa.
Kategori : Pilihan Redaksi

Humor Gus Dur: Masuk Akal Faksimili

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Kantor PBNU baru saja melengkapi fasilitasnya dengan mesin faksimili. Hari itu juga Gus Dur sedang kedatangan rekannya, Saifullah Yusuf (kini anggota Fraksi PDIP). Arifin Junaidi (Wakil Sekjen PBNU saat itu) mempraktekkan cara mengirim faksimili di depan Gus Dur dan rekannya itu.
Kategori : Pilihan Redaksi , Sosok

Islam Kebudayaan

oleh : SYAIFUL ARIF, 0 Komentar
Dalam perkembangan selanjutnya, keselarasan Islam dan Pancasila terjadi di dalam pemikiran keislaman yang belakangan hari telah mencetuskan istilah “Islam Indonesia”. Gagasan “Islam Indonesia” sendiri dilontarkan salah satunya oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sejak tahun 1987. Gagasan ini ia lontarkan untuk mengimbangi kecenderungan Arabisasi di sebagian gerakan Islam.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Kebencian

oleh : ALISSA WAHID, 0 Komentar
Di pojok dunia yang terkenal damai, bahkan pernah didapuk menjadi salah satu negeri Islami, mendadak seseorang bersenjata menghamburkan peluru membantai puluhan orang di sebuah masjid saat ibadah shalat Jumat. Akibatnya, 49 Muslim meregang nyawa di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru, menambah jumlah korban jiwa berbagai aksi terorisme lone-wolf dari seluruh dunia. Aksi para serigala penyendiri diumbar dalam berbagai metode: bom bunuh diri, penembakan bersenjata, penyerangan pisau, sampai menabrakkan mobil ke kerumunan warga tak berdosa.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi