Sabtu, 24 Agustus 2019

PILIHAN REDAKSI

Artikel-artikel pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

RUU P-KS Harus Segera Diundangkan

oleh : KH HUSEIN MUHAMAD, 0 Komentar
Pagi ini, 14.03.19, saya bicara tentang RUU PKS atas undangan KPPA, bersama sahabat Nur Herawati, Komis ioner Komnas Perempuan dan Prof. Dr. Topo Santoso, SH, (FH-UI). Moderator sahabat Ninik Rahayu. Saya menyampaikan : Respon Islam atas RUU P-KS. Intinya ini: RUU P-KS harus segera Diundangkan
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Europa dan Islamophobia: Catatan untuk Serangan Teroris di Selandia Baru

oleh : HARIS EL MAHDI, 0 Komentar
Europa, sebagaimana tertuang dalam Iliad karya Homer, merujuk pada nama seorang perempuan cantik, putri dari Phoenix (anak Agenor). Kisah tentang Europa berkait-paut dengan Dewa Zeus. Kala Europa sedang mandi di sungai, Dewa Zeus terpikat dengan kemolekan dan paras ayunya. Kemudian, Zeus mengubah dirinya menjadi seekor sapi jantan, perlahan mendekati Europa, dan dari bibirnya, ia meniupkan "safron crocus", semacam bisa yang membuat seseorang pingsan. Zeus, kemudian, membawa Europa lari, membawanya ke Crete dan menyatakan cinta sekaligus memperistrinya. Ada beberapa varian mitos yang menyebut Zeus memperkosanya, tapi tidak terlalu familier dalam khazanah folklor Europa.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Bersumber dari Pendangkalan

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Pada sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr. Yusril Ihza Mahendra. Kata Bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat dengan umat Yahudi dan Nasrani. Bukankah kitab suci al-Qur’ân menyatakan salah satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah “bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (asyiddâ’u ‘alâl-kuffâr ruhamâ baynahum)” (QS al-Fath [48]:29). Menanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya Bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud al-Qur’ân dalam kata “kafir” atau “kuffar” adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja Bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia berani menjadi mubaligh?
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Merayakan Keberagaman melalui Dialog Generasi Muda Lintas Iman...

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Siang itu, Minggu (10/3/2019), beberapa umat tengah sibuk berbenah ketika kami tiba di Pura Eka Wira Anantha, Kompleks Grup 1 Kopassus, Serang, Banten. Sebagian umat tampak sedang membersihkan perlengkapan yang digunakan saat perayaan Hari Raya Nyepi sehari sebelumnya. Sebagian lagi membersihkan pendopo yang terletak di depan Pura. Pak Ketut, salah seorang umat, menyapa dan mempersilakan kami duduk tak jauh dari pendopo. Mungkin gerak dan langkah kami yang canggung menarik perhatiannya. "Adik-adik ini dari mana?" ujar Ketut sambil mempersilakan kami duduk. "Kami dari komunitas Jaringan Gusdurian Banten, Pak. Kami bermaksud ingin silaturahim dengan anak-anak muda Hindu di sini," jawab Ferdinand Bernadh Heumasse, salah seorang penggerak Jaringan Gusdurian Banten.
Kategori : Peristiwa , Pilihan Redaksi

Kafirku, Kafir Anda, Kafir Kita

oleh : MUHAMMAD AUTAD AN NASHER, 0 Komentar
Ribut ramai soal istilah kafir dan pemaknaan kata kafir yang sampai detik ini mewarnai temlen media sosial penulis, bukanlah barang baru. Ulama dan kaum agamawan sejak dulu kala sudah mendiskusikan ini dengan sangat cermat dan teliti. Bahkan, Nabi Muhammad Saw sendiri dalam hadisnya melarang umatnya saling mengafirkan. “Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kata fasiq, dan menuduhnya dengan kata kafir, kecuali tuduhan itu akan kembali kepada si penuduh jika orang yang tertuduh tidak seperti yang dituduhkan”. [HR Bukhari]
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Tentang Non-Muslim Bukan Kafir

oleh : KHOLID SYEIRAZI, 0 Komentar
Hasil Bahtsul Masâil Maudlū’iyah dalam Munas dan Konbes NU 2019 di Banjar Patroman, Jawa Barat, memicu polemik. Dari sekian isu penting, yang paling menyengat publik adalah hasil bahasan di tema “Negara, Kewarganegaraan, Hukum Negara, dan Perdamaian.” Bagi saya, ini bukan tema baru, tetapi kelanjutan dari visi kebangsaan NU yang telah ditanamkan sejak tahun 1936, 1945, 1953, 1984, dan 1987. Tahun 1936, NU menyebut kawasan Nusantara sebagai Dârus Salâm. Tahun 1945, NU setuju NKRI berdasarkan Pancasila dan kemudian menggalang Resolusi Jihad untuk mempertahankan NKRI dari pendudukan kolonial. Tahun 1953, NU mengakui keabsahan kepemimpinan Soekarno secara fikih dan menggelarinya dengan julukan Waliyyul Amr ad-Dlarūri bis Syaukah. Tahun 1983-84, NU menegaskan NKRI final bagi perjuangan umat Islam. Tahun 1987, NU memperkenalkan trilogi ukhuwwah: Ukhuwwah Islâmiyah, Ukhuwwah Wathaniyah, Ukhuwwah Basyariyah/Insâniyah.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi