Senin, 18 November 2019

PILIHAN REDAKSI

Artikel-artikel pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

DAYAK, AMBON DAN AREK SUROBOYO

oleh : AHMAD ZAINUL HAMDI, 0 Komentar
Dibalik kemeriahan peringatan Kemerdekaan RI ke-74, rasa kita sebagai bangsa saat ini sedang terluka. Luka yang kita rasakan itu adalah karena kedukaan yang dirasai saudara-saudara kita Papua. Bermula dari isu patahnya tiang bendera di depan asrama mahasiswa Papua di Surabaya yang terletak di Jl. Kalasan (selanjutnya disebut “Peristiwa Kalasan”). Seperti api yang membakar ranting kering, isu ini merembet menjadi masalah serius karena dibumbui dengan olokan “monyet” yang berbau rasis. Seketika, sentimen ke-Papua-an meledak menjadi protes rakyat. Protes masyarakat Papua membuat Kota Manukwari mencekam. Kantor DPRD terbakar. Aktivitas ekonomi nyaris lumpuh.
Kategori : Pilihan Redaksi

Kesederhanaan Gus Dur Versus Korupsi

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Kesederhanaan Gus Dur versus Korupsi merupakan tema yang diangkat di Majlis Sholawat Gusdurian, pada 25 Februari 2015 lalu. Mau’idzoh hasanah disampaikan oleh al-Ustadz Boy @hifdzilalim dari PUKAT UGM. Demikian hasil kultwitnya.
Kategori : Pilihan Redaksi

Lagi, Tentang Gus Dur dan Teologi Pembebasan

oleh : TEDI KHOLILUDIN, 0 Komentar
Saya membubuhkan kata “Lagi” di judul tulisan ini, karena memang pernah membahas topik serupa. Pada tulisan sebelumnya saya mengaitkan isu ini dengan sosok Dom Helder Camara, tokoh yang pernah juga diulas KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Kategori : Pilihan Redaksi

Merayakan Kemerdekaan dengan Perjumpaan Lintas Iman

oleh : M. FAKHRU RIZA, 0 Komentar
Beberapa hari yang lalu (16 Agustus 2019), saya mengikuti beberapa teman-teman Gusdurian Jogja menerima tamu kunjungan dari teman-teman mahasiswa Kristen dari berbagai penjuru Indonesia di Pendopo LKiS, Jogja. Dalam pertemuan tersebut kita banyak berbagi cerita perihal aktivitas kami masing-masing, tentunya berkaitan dengan keberagaman.
Kategori : Pilihan Redaksi

Agama dan Demokrasi

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Pada saat ini tampak hubungan erat antara agama dan proses demokratisasi. Di mana-mana gerakan agama secara aktif mendorong upaya penegakan demokrasi. Dom Helder Cemara[1], seorang uskup agung di Brasil, menggerakkan kekuatan rakyat untuk memperjuangkan demoknasi selama belasan tahun, dengan menghadapi tuduhan bahwa ia condong kepada komunisme. Ia bahkan dikenal dengan julukan “Uskup Merah” karena pemihakannya kepada gerakan rakyat. Terkenal ucapannya “Kalau saya mengumpulkan makanan untuk orang kecil saya disebut orang suci; tetapi kalau mempertanyakan sebab kemiskinan rakyat kecil itu, dengan segera saya disebut komunis”. Vinoba Bhave[2], orang suci Hindu yang berjalan kaki menjajaki anak benua India di tahun-tahun 1950-an dan 1960-an tanpa alas kaki, meminta kerelaan kaum bertanah luas untuk secara suka rela membagikan sebagian tanah mereka kepada kaum miskin tak bertanah, dengan demikian membangun demokrasi ekonomi. Sulak Sivaraksa[3], pemimpin awam kaum Buddha di Thailand, pemah diancam hukuman mati karena memperjuangkan kebebasan berbicara, termasuk mengkritik dan mempertanyakan kedudukan raja. Hanya berkat campur tangan tokoh-tokoh dunia seperti Margareth Thatcher[4] ia dapat terhindar dari eksekusi hukuman mati.
Kategori : Pilihan Redaksi

Republik Bumi di Surga: Sisi Lain Motif Keagamaan di Kalangan Gerakan Masyarakat

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Reformisme dalam Gerakan Keagamaan Gambaran umum tentang gerakan masyarakat (istilah lain untuk ‘gerakan non pemerintah’, yang di negeri ini mengandung konotasi konflik faktual atau potensial dengan pemerintah) yang didorong oleh motif keagamaan meliputi spektrum yang membentang antara dua titik diametral disatu pihak, kecenderungan untuk mewujudkan sebuah ‘Kerajaan Tuhan’ di muka bumi, dan di pihak lain penolakan sasaran perjuangan seperti itu untuk dicukupkan dengan hanya memperbaiki keadaan masyarakat yang telah diterima bentuk dan bangunannya secara tuntas. Gambaran yang dikotomis seperti itu, mengandaikan bahwa kecenderungan messianistik dan millenarianistik adalah satu-satunya kecenderungan revolusioner di lingkungan gerakan masyarakat yang memiliki motif keagamaan. Selain kecenderungan tersebut, motif keagamaan hanyalah mampu memunculkan apa yang oleh jargon Marxis dikenal sebagai ‘sikap reformis’, sebuah dosa tak berampun bagi ideologi revolusioner seperti komunisme.
Kategori : Pilihan Redaksi

Birokratisasi Gerakan Islam

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Yang dimaksudkan dengan birokratisasi adalah keadaan yang berciri utama kepentingan para birokrat menjadi ukuran. Sama saja halnya dengan militerisme jika kepentingan pihak militer merupakan ukuran utama bagi perkembangan sebuah negeri. Jadi bukannya apabila kaum birokrat turut serta dalam kepemimpinan, seperti halnya jika para pemimpin militer ada dalam pemerintahan. Kata kunci dalam kedua hal ini adalah di tangan siapa kekuasaan itu.
Kategori : Pilihan Redaksi

Memaknai Khittah Kemerdekaan

oleh : ADEN MANSYUR, 0 Komentar
Ketika setiap akan mau memasuki tanggal dan bulan kemerdekaan, ada sebuah pertanyaan yang selalu terdengar di telingga kita, "benarkah bangsa Indonesia ini sudah merdeka?"
Kategori : Pilihan Redaksi

Ras dan Diskriminasi di Negara Ini

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Dalam perjalanan ke gedung TVRI saat subuh awal Feb­ruari 2003, penulis mendengar siaran sebuah radio swasta Jakarta yang menyiarkan dialog tentang masalah ras dan diskriminasi. Karena format siarannya dialog interaktif, maka dapat dimengerti jika para pendengar melalui telepon me­ngemukakan pendapat dan pernyataan berbeda­-beda mengenai kedua hal itu. Ada yang menunjuk kepada keterangan etnografis, yang menyatakan orang­-orang di Asia Tenggara, Jepang, Korea, Tiongkok, Amerika Utara, Amerika Tengah, Amerika Selatan mempunyai penduduk asli dari ras Mongol (Mongoloid). Karena itu narasumber pada dialog itu, menolak perbedaan antara kaum asli dan kaum turunan di Indonesia. Menurutnya kita semua ber­asal dari satu turunan dan tidak ada bedanya satu dari yang lain. Maka pembagian kelompok asli dan keturunan di negeri kita ti­dak dapat diterima dari sudut pemikirannya.
Kategori : Pilihan Redaksi

Islam, Negara dan Rasa Keadilan

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Dalam dua sumber tekstual kitab suci al-Qurân mengenai keadilan, tampak terlihat dengan jelas bagaimana keadilan dapat ditegakkan, baik dari masalah prinsip hingga prosedurnya. Dari sudut prinsip, kitab suci al-Qurân menyatakan; “Wahai orang­orang yang beriman, tegakkan keadilan dan jadilah saksi­saksi bagi Allah, walaupun mengenai diri kalian sendiri (yâ ayyuha alladzîna âmanû kûnû qawwâmîna bi al-qisthi syuhadâ’a li Allâhi walau ‘alâ anfusikum)” (QS al­Nisa [4]:135). Dari ayat ini tampak jelas bahwa, rasa keadilan menjadi titik sentral dalam Islam.
Kategori : Pilihan Redaksi