Minggu, 17 Desember 2017

PILIHAN REDAKSI

Artikel-artikel pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Lumbung Amal Gusdurian untuk Longsor

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Ribuan rumah telah hancur disapu banjir atau tertimbun longsor yang melanda 16 kabupaten kota akibat hujan lebat yang turun sejak Sabtu (18/6/) siang hingga malam hari di Purworejo, Banjarnegara, Kendal, Sragen, Purbalingga, Banyumas, Sukoharjo, Kebumen, Wonosobo, Pemalang, Klaten, Magelang, Wonogiri, Cilacap, Karanganyar, dan Kota Solo.
Kategori : Peristiwa , Pilihan Redaksi

Membumikan Pemikiran Gus Dur: Kelas Pemikiran Gus Dur Blitar

Dalam upaya menyebarkan pemahaman pemikiran Gus Dur, sekelompok pemuda Blitar yang tergabung dalam Jaringan Gus Durian Blitar mengadakan Kelas Pemikiran Gus Dur. Kegiatan dilaksanakan di PP. Darur Roja' selokajang, srengat kabupaten Blitar. kegiatan berlangsung selama 3 hari ini diikuti oleh berbagai elemen pemuda di Blitar. Tujuan dari Kelas Pemikiran Gus dur untuk mengajak pemuda Blitar memahami nilai pemikiran Gus dur yang terangkum dalam sembilan Nilai utama Gus Dur.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Ignasius Sandy

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Ignasius Sandyawan Sumardi mengatakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah Uskup (dari NU) yang pertama membelanya. Pernyataan itu sangat beralasan bagi Sandy sebab Gus Dur (selain juga Romo Mangunwijaya dan Danuwinata) adalah tokoh yang menjadi pembela Romo Sandy dalam gerakan Suaka Kemanusiaan Kasus 27 Juli 1996. Sandy mengisahkan pengalaman tersebut dalam Forum Jumat Pertama (FJP) Jaringan Gus Durian, Jumat (2/9) malam di Griya Gus Dur, Jl. Taman Amir Hamzah Jakarta Pusat. FJP malam itu bertema ‘Gus Dur dan Rakyat Kecil’, didatangi puluhan hadirin, yang mayoritas kaum muda.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Dialog Tanpa Senjata

oleh : SARJOKO, 0 Komentar
“Maaf, boleh saya minta air putih saja?” kata Felip Karma, saat diberi segelas teh hangat untuk menemani diskusi. “Saya bernazar untuk tidak meminum selain air putih, sampai Papua merdeka,” sambungnya lagi. Sebuah nazar yang menunjukkan betapa kuat dan gigihnya ia dalam berjuang. Sebelum 22 Agustus kemarin, nama Filep Karma sangat asing di telinga saya. Beberapa kali mengikuti berita soal penangkapan pejuang OPM, saya tidak menghafal nama-nama tokohnya. Bahkan saya tidak menyadari bahwa Filep Karma adalah salah satu dari lima tahanan politik yang dibebaskan oleh Jokowi tahun 2015 lalu. Ia ditahan karena turut mengibarkan bendera kejora di Jayapura tahun 2004. “Setelah saya dibebaskan, saya tetap akan berjuang. Selama Papua belum merdeka, berarti perjuangan saya belum selesai!” tegasnya.
Kategori : Headline , Opini , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Filep Karma, Gus Dur, dan Papua

Filep Karma tak pernah surut memperjuangkan hak-hak warga Papua yang kerap mengalami ketidakadilan dan diskriminasi. Menjadi tahanan politik selama 11 tahun adalah bagian dari kisah pejalanan hidupnya. “Saya tidak tahu, kapan Papua akan merdeka, yang tahu hanyalah Tuhan semata. Kita hanya akan terus berusaha, sampai Tuhan memanggil kita.”terang Filep Karma. Senin malam (22/8), ia menjadi tamu kehormatan dalam acara diskusi bersama para aktivis, wartawan, dan anak muda yang tengah menggeluti isu Papua di Griya Gusdurian.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Sama-sama Bermimpi Besar

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Di tengah-tengah momen perayaan kemerdekaan seperti saat ini, tulisan Gus Dur dengan judul “Sama-sama Bermimpi Besar” layak kita renungkan kembali. Di dalamnya, Gus Dur membicarakan sosok Bung Hatta, Sang proklamator kemerdekaan bangsa ini. Gus Dur sangat apik dalam menarasikan sisi lain dari kehidupan Bung Hatta yang tidak banyak orang ketahui. Terutama dari sisi kesantrian dan identitasnya sebagai seorang Muslim. Gus Dur juga tidak lupa mengajak pembaca untuk memiliki impian yang besar sebagaimana Bung Hatta, yang memiliki semangat dalam merumuskan Indonesia merdeka. Sehingga namanya dikenang sampai sekarang. Mengutip pernyataan Gus Dur dalam tulisan di bawah ini: “Mengapa tidak bermimpi besar, tidak berangan-angan jauh: pembebasan bangsa dari kungkungan ketidakadilan, menegakkan demokrasi secara konkret. Kita semua dari generasi, dari masa sebelum Bung Hatta hingga ke anak cucu toh tidak akan kekurangan anggota yang memiliki impian besar.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Damai untuk Papua

oleh : B JOSIE SUSILO HARDIANTO, 0 Komentar
Kebijaksanaan tidaklah diukur dari panjangnya usia.... Anton Sumer tercenung di depan televisi. Pemberitaan tentang wafatnya mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid menyita seluruh perhatiannya. ”Ai, aduh. Kami, orang Papua, layak bersedih. Beliau bapak kami orang Papua. Beliau pula yang mengembalikan lagi nama Papua,” kata Anton sambil memegang kepalanya. Dulu, semasa Orde Baru, tabu jika orang Papua menyebut diri mereka sebagai orang Papua. Namun, oleh Gus Dur tembok-tembok ketakutan itu diruntuhkan. Dulu Papua disebut dengan Irian, demikian juga dengan penduduknya, orang Irian.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Jihadisme Toleran

oleh : YAHYA CHOLIL STAQUF, 0 Komentar
Sebelum naik cetak, Gus Dur meminta saya membacakan naskah buku The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid yang ditulis Greg Barton itu. Pada bagian pendahuluan, Greg sudah mencicil kesimpulan tentang Gus Dur dengan menyebutnya sebagai ’’pemimpin muslim liberal’’. Saat saya membacanya, Gus Dur serta-merta menyela. ’’Greg keliru itu!’’ katanya. ’’Saya ini bukannya liberal. Saya toleran.’’ Apa bedanya? ’’Kalau liberal, tidak perlu jihad. Setiap individu dipersilakan berpikir apa saja dan menjadi apa saja semau-maunya. Toleran itu tidak meninggalkan jihad, tapi tidak memaksakan kehendak.’’ Mungkinkah berjihad secara toleran?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Sekali Lagi Tentang Gus Dur

oleh : NADIRSYAH HOSEN , 0 Komentar
Masih adakah yang tersisa yang belum ditulis tentang Gus Dur? Rasanya sudah dibahas semuanya baik yang fanatik mendukungnya maupun yang fanatik membencinya. Tapi tidak mengapalah saya tuliskan juga catatan ini –ini bukan bid’ah kan. Saya orang yang rasional, bukan gemar dunia mistik. Jadi, saya memahami Gus Dur juga lewat pendekatan yang rasional. Kalau memahami beliau lewat ‘dunia lain’ tentu bukan maqam saya bicara hal seperti itu.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Perempuan dan Perdamaian dalam Tradisi Agama-Agama Ibrahim

oleh : ISNA LATIFA, 0 Komentar
Jika ada anggapan bahwa Yahudi adalah Israel, ISIS adalah Islam, dan Donal Trump adalah Amerika, maka bisa dipastikan anggapan itu salah.”Ujar David Elcot, seorang profesor di New York University disaat sesi diskusi bersama Shira. Sama halnya jika ada pendapat yang mengatakan Yahudi kejam, Yahudi jahat, dan Yahudi biadab. Ini hanyalah pendapat yang sangat sempit. Yahudi sebagaimana dengan Islam atau agama lain memiliki potensi yang sama. Di dalam Islam juga terdapat ISIS yang sama kejamnya dengan Israel yang sampai hari ini terus melakukan penekanan terhadap rakyat Palestina.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi