Senin, 29 Mei 2017

CIGANJUR DAN JARINGAN GUSDURIAN

Selasa, 07 Maret 2017
oleh : admin
Dibaca sebanyak 262 kali
Sampai saat ini, masih banyak masyarakat awam yang belum tahu apa bedanya Jaringan Gusdurian dengan Wahid Foundation (dulunya Wahid Institute). Sebelum beranjak ke pertanyaan “apa bedanya”, sebaiknya perlu dimengerti dulu apa itu entitas Ciganjur. Keluarga Ciganjur atau keluarga almarhum KH. Abdurrahman Wahid, punya banyak sayap organisasi. Diantaranya Puan Amal Hayati, Wahid Foundation, ada Abdurrahman Wahid (AW) Center – UI, Jaringan Gusdurian dan Positive Movement. Semua sayap keluarga Ciganjur masing-masing memiliki fokus yang berbeda-beda.
 
 
Puan Amal Hayati memiliki fokus di isu perempuan dan program rutinan: Sahur Keliling bersama Bu Sinta Nuriyah di 30-40 kota tiap bulan Ramadan. Sementara NGO (LSM) Wahid Foundation memiliki fokus menggali  dan meneruskan gagasan Gus Dur tentang Islam Ramah, toleransi, pluralisme, kebinekaan, dan lain-lain.
 
Selain itu, Abdurrahman Wahid Center for Interfaith Dialogue & Peace yang terletak di kampus Universitas Indonesia (UI); adalah kerjasama keluarga Ciganjur dengan UI untuk kepentingan riset  dan pengembangan penyelarasan gagasan Gus Dur.
Ada juga Positive Movement yang dikelola oleh Inayah Wulandari Wahid, adalah komunitas anak muda yang fokus pada spiritualitas. Meneruskan sisi lain dari Gus Dur.
 
Terakhir adalah Jaringan Gusdurian Indonesia. Jaringan Gusdurian (JGD) merupakan sayap gerakan sosial dari keluarga Ciganjur. Yakni kumpulan atau himpunan para murid-murid Gus Dur dari berbagai penjuru. Berkarakter gerakan dan tidak berpolitik praktis.
 
Melihat sepak terjang Gus Dur yang sangat luas, maka isu yang dikelola oleh JGD sebagai gerakan sosial juga sangat beragam. Sebagaimana Gus Dur, Komunitas Gusdurian bisa bergerak pada isu lintas iman, demokrasi, anti korupsi, NU dan pesantren, kultur, lingkungan, dan lain-lain.
 
Saat ini sudah ada komunitas Gusdurians di 100 kota lebih. Komunitas ini terbuka untuk para murid Gus Dur dari semua latar belakang. Dikelola oleh komunitas lokal, dengan Sekretariat Nasional sebagai  penghubung. Karena basisnya adalah voluntir, bukan staf, maka komunitas ini saling bersinergi. Tidak berarti semuanya harus dilakukan oleh JGD.  Misalnya NUtizen adalah hasil kerja keras banyak gusdurian. Atau Komunitas Gubuk Tulis di Malang. Atau Koperasi Gusdurian Yogyakarta. Atau PAUD di Tual Maluku Utara.
 
Selain itu, JGD terlibat kerja aliansi seperti inisiasi Temu Kebangsaan dengan anak muda organisasi. lintas iman, Sapu Koruptor, anggota  Gema Demokrasi dan seterusnya. Intinya, JGD meneruskan gagasan Gus Dur di tingkat gerakan, lokal-nasional. Kerja mengurus isu strategis, dan  mengurus kader-kader yang ingin melanjutkan gagasan dan perjuangan Gus Dur.
Tidak ada pendaftaran ataupun seleksi untuk  bergabung di JGD.  Karena seleksi alam akan terjadi: hanya yang selaras dengan nilai-nilai GusDur yang akan bertahan. 
 
Jika ingin mendirikan komunitas Gusdurian, dipersilakan. Tinggal menghubungi hotline Seknas Jaringan Gusdurian. Dengan mendirikan Komunitas Gusdurian lokal berarti bertanggungjawab terhadap komunitas lokal untuk mengelolanya.
 
Lalu, apa bedanya JGD dengan Wahid Foundation? Walapun kakak beradik, namun secara manajemen, pengorganisasian, dan gerakan, keduanya berbeda. Wahid Foundation basisnya adalah NGO (LSM), sementara Jaringan Gusdurian basisnya adalah gerakan dan kaderisasi para penerus gagasan dan perjuangan almarhum KH. Abdurrahman Wahid.
 
Demikian sekilas info tentang keluarga Ciganjur dan upaya menjaga perjuangan Gus Dur. Sekian.
 
 
Alissa Wahid