Sabtu, 25 November 2017

IKHTIAR KOMUNITAS-KOMUNITAS GUSDURIAN MEMAKNAI BULAN RAMADAN

Selasa, 05 Juli 2016
oleh : admin
Dibaca sebanyak 563 kali
Bagi umat Islam, ramadan adalah bulan suci yang mulia. Bulan ramadan menjadi ajang untuk meningkatkan kesalehan dengan memperbanyak ibadah. Lebih dari itu, bulan ini juga menjadadi momen yang tepat untuk mengasah kepekaan kita terhadap realitas sosial. Digerakkan oleh semangat seperti itu, selama bulan suci Ramadhan, tanpa komando komunitas-komunitas Gusdurian di berbagai kota, seperti Jogja, Malang, Temanggung, Sidoarjo, Banyumas, Makassar, Maluku, Bojonegoro, Kebumen, dan Pati, melakukan berbagai kegiatan yang bersifat lokal dan berbasis kultural. Beragam kegiatan itu dibangun atas kesadaran dan semangat yag sama, yakni pentingnya membangun persaudaraan dan kebersamaan.

 

 

Seperti yang dilakukan oleh Komunitas Santri Gus Dur Jogja, mereka mengadakan kegiatan bertajuk Tadarus Gus Dur, keliling ke pesantren-pesantren dan masjid di Yogyakarta serta mengadakan pesantren kilat untuk anak-anak SD dan SMP. Selain mengenalkan figur Gus Dur serta pemikirannya, mereka juga berusaha memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai ajaran Islam yang ramah, damai, dan membawa rahmat.

Di tempat lain, di Maluku, Jaringan Gusdurian Maluku mengadakan safari Ramadhan, dengan buka puasa bersama di sebuah pulau terpencil, di Ohoi Mastur Tenvuk Kei Kecil Timur bersama masyarakat dan warga setempat. Agenda yang terlihat sangat sederhana, keliling dan safari, namun dapat memberikan efek yang luar biasa dalam membangun persaudaraan serta mengikat kebersamaan sebagai warga nusantara. Baik di pesantren, maupun kepada masyarakat awam.

Bahkan, yang lebih gayeng adalah apa yang sudah dilakukan oleh teman-teman Garuda Malang—sebutan komunitas Gusdurian di Malang. Mereka melakukan safari damai dengan berkunjung ke teman-teman non-Muslim, seperti Pemuda Katholik, GKI Tumapel, Klenteng En Ang Kiong (umat Konghucu), Vihara Dhammadipa Arama (umat Budha), Baha’i, Kejawen Boworoso, dan kalangan Muslim yang terpinggirkan, seperti Komunitas Syiah dan Jemaat Ahmadiyah.

Apa yang telah dilakukan Garuda Malang ini menebarkan semangat persaudaraan dan keramahan. Upaya seperti ini membawa angin segar di tengah berbagai kecurigaan dan penolakan terhadap agenda buka puasa bersama di Gereja beberapa waktu lalu. Justru yang dilakukan oleh Komunitas Garuda Malang tidak hanya di Gereja saja yang dikunjungi, tetapi tempat ibadah lainnya. Hal ini semakin meneguhkan bahwa Komunitas Gusdurian sudah selesai tentang halal-haram dan penghakiman yang justru dapat memecah belah umat dan keutuhan bangsa.

Kegiatan seperti takjil, buka bersama dan sahur keliling, hampir dilakukan oleh setiap komunitas di berbagai daerah, seperti Bojonegoro, Jember, dan Lumajang. Bedanya, komunitas Gusdurian melaukan hal-hal itu bersama dengan kelompok terpinggir dan kalangan non-Muslim. Seperti Gusdurian Banyumas yang berbagi keceriaan dengan pengendara sepeda motor berbagi takjil dengan teman-teman  GKJ. Komunitas Gusdurian Pati juga sama, membagi 2500 makanan takjil di jalur pantura..

Adapun yang sifatnya ngaji ala pesantren, dilakukan oleh Komunitas Gusdurian Sulselbar dengan membuka pengajian Nashaihul Ibad dan dialog yang bertema Gus Dur, Iran dan ikhtiyar harmonisasi Sunni-Syiah. Sentuhan kepekaan sosial dilakukan Komunitas Gusdurian Temanggung yang memberikan paket sembako untuk para pemulung. Bahkan, di Kebumen, Komunitas Gusdurian Kebumen membaur bersama dengan kelompok difabel. Mereka melakukan pendampingan, membikin sekolahan setingkat TK dan membuka wirausaha bagi kalangan difabel.

Berbagai kegiatan yang dilakukan komunitas-komunitas Gusdurian di berbagai kota tersebut sekilas memang tampak sederhana dan kecil. Namun jika dilihat lebih jauh, apa yang mereka lakukan adalah langkah untuk memberikan manfaat kepada yang lain. Ramadan mereka maknai secara beragam dengan berbagai kegiatan namun sama-sama bersandar pada nilai dan kesadaran yang sama: nilai ketauhidan untuk diwujudkan dalam persaudaraan dan kemanusiaan.

Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi percik-percikan yang jika dilihat secara utuh tampak seperti mozaik indah. Jika semangat ini terus dipupuk dan dijaga, istiqomah setipa tahun, tidak mustahil akan membawa dampak dan berkah yang lebih besar bagi masyarakat Indonesia.

Semoga apa yang sudah dilakukan oleh teman-teman Komunitas Gusdurian selama bulan suci Ramdan menjadi keberkahan bagi semua dan bisa menjadi teladan bagi lainnya. Amin.

 

Redaksi Gusdurian.net