Rabu, 20 Juni 2018

PERNYATAAN SIKAP JARINGAN GUSDURIAN ATAS KEKERASAN TERHADAP WARGA AHMADIYAH LOMBOK TIMUR

Minggu, 20 Mei 2018
Dibaca sebanyak 1236 kali
Aksi intoleransi kembali terjadi. Sejumlah rumah milik jamaah Ahmadiyah, di Dusun Grepek Tanak Eat, Desa Greneng, Kec. Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) diserang dan dirusak oleh sekelompok massa. Serangan dan perusakan terjadi sebanyak tiga kali, sabtu siang dan malam (19/5), serta Minggu pagi (20/5) sekitar pukul 06.30 WITA.

Akibatnya 24 penduduk dari tujuh kepala keluarga dievakuasi oleh polisi dan terpaksa menginap di Kantor Polres Lombok Timur. Sejumlah rumah dan kendaraan bermotor juga dirusak massa.

Aksi kekerasan terhadap jamaah Ahmadiyah ini bukan yang pertama terjadi di negeri ini.

Di Lombok, kekerasan terhadap warga Ahmadiyah sudah muncul sejak tahjn 1999 ketika Mesjid Ahmadiyah di Bayan, Lombok Barat dibakar orang-orang yang menginginkan mereka keluar dari keyakinannya. Insiden ini memicu pengusiran paksa semua orang Ahmadiyah di Bayan. Tahun 2001 jamaah Ahmadiyah di Pancor, Lombok Timur diserang dan diusir dari kampungnya.

Pada tahun 2011 jamaah Ahmadiyah di Makassar diserbu massa. Di tahun yang sama, warga Ahmadiyah Cikeusik, Pandeglang dibunuh massa. Tiga anggota Ahmadiyah meninggal, sementara rumah milik Ahmadiyah hancur dirusak massa. April 2011, Masjid Al-Mubarok milik Ahmadiyah di Kampung Sindang Barang, Kelurahan Sindang Barang, Kecamatan Bogor Barat, disegel oleh Pemerintah Kota Bogor sebagai ujung dari tuntutan massa yang memprotes keberadaan masjid Ahmadiyah. Pada Februrari 2012 terjadi perusakan Masjid Nurhidayah milik jemaah Ahmadiyah di Kabupaten Cianjur.

Kekerasan yang dialami warga ahmadiyah Lombok Timur ini menambah daftar panjang aksi intoleransi yang diderita jamaah Ahmadiyah di Lombok pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

Dilihat dari deretan kasus tersebut, problem yang kini dihadapi oleh warga Ahmadiyah di Lombok tidaklah berdiri sendiri. Peristiwa tersebut muncul dalam konteks semakin menguatnya sikap intoleran terhadap warga Ahmadiyah serta menurunnya perlindungan kebebasan menjalankan keyakinan, terutama bagi kelompok minorotas seperti Ahmadiyah.

Berkaitan dengan hal tersebut, Jaringan Gusdurian Indonesia menyatakan:

1. Mengecam keras tindakan perusakan dan pengusiran warga Ahmadiyah di Dusun Grepek Tanak Eat, Desa Greneng, Kec. Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

2. Menuntut pemerintah khususnya aparat kepolisian untuk memberikan jaminan keamanan bagi penganut Ahmadiyah sebagaimana diamanatkan konstitusi.

3. Menuntut Pemerintah Pusat maupun Daerah untuk memberikan jaminan kebebasan menjalankan keyakinan agama bagi warga Ahmadiyah di Lombok pada khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya.

4. Mendesak aparat kepolisian untuk menindak tegas para pelaku perusakan dan pengusiran warga.

5. Mengajak seluruh warga bangsa untuk bersama-samda memperkuat kehidupan bermasyarakat yang damai dan mengutamakan dialog untuk memecahkan masalah bersama.

Konstitusi Republik Indonesia dengan tegas menyatakan bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali. Pemerintah harus menjamin semua warga negara menikmati hak-hak tersebut.

Sementara setiap warga bangsa kita harus selalu memperjuangkan kehidupan berbangsa yang damai, toleran, dan saling menghargai.

Alissa Wahid

Jaringan GUSDURian Indonesia

Hotline 082141232345