Rabu, 20 Juni 2018

SOROT

Sorot adalah ruang khusus untuk menyuarakan sikap Jaringan Gusdurian Indonesia dan Redaksi kampung Gusdurian. Rubrik ini akan memuat pernyataan sikap, pengumuman, dan ulasan khusus dari Seknas Jaringan Gusdurian dan redaksi Kampung Gusdurian.

Ikhtiar Komunitas-Komunitas Gusdurian Memaknai Bulan Ramadan

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Bagi umat Islam, ramadan adalah bulan suci yang mulia. Bulan ramadan menjadi ajang untuk meningkatkan kesalehan dengan memperbanyak ibadah. Lebih dari itu, bulan ini juga menjadadi momen yang tepat untuk mengasah kepekaan kita terhadap realitas sosial. Digerakkan oleh semangat seperti itu, selama bulan suci Ramadhan, tanpa komando komunitas-komunitas Gusdurian di berbagai kota, seperti Jogja, Malang, Temanggung, Sidoarjo, Banyumas, Makassar, Maluku, Bojonegoro, Kebumen, dan Pati, melakukan berbagai kegiatan yang bersifat lokal dan berbasis kultural. Beragam kegiatan itu dibangun atas kesadaran dan semangat yag sama, yakni pentingnya membangun persaudaraan dan kebersamaan.
Kategori : Sorot

Pernyataan Jaringan Gusdurian Indonesia Terhadap Pelarangan Diskusi, Buku, dan Pemutaran Film

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Semenjak pemerintahan Orde Baru tumbang, kita sudah bekerja keras membangun demokrasi dan pemerintahan sipil demi menjamin hak-hak dasar warga negara, yaitu kemerdekaan berpikir, berserikat, berkumpul, dan mengemukakan pendapat. Gus Dur adalah salah satu penggerak masyarakat yang memperjuangkan supremasi sipil, karena Gus Dur meyakini pembebasan dari segala jenis penindasan adalah prasyarat untuk menjamin kemanusiaan. Dewasa ini di berbagai daerah marak terjadi kasus pembubaran diskusi, razia buku, serta penolakan pemutaran film. Umumnya pelarangan-pelarangan tersebut dilakukan dengan tuduhan dan ancaman. Muaranya adalah membuat warga ketakutan terhadap ide dan gagasan tertentu. Ketakutan yang berlebihan itu akan berujung pada penindasan. Hal ini sangat bertentangan dengan konstitusi yang menjamin kebebasan berkumpul dan mengemukakan pendapat sehingga pelarangan buku/film dan diskusi tersebut adalah suatu pelanggaran hak konstitusional.
Kategori : Sorot

Seruan JGD: Terorisme Adalah Musuh Bersama

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Serangan teror kembali terjadi di tanah air. Kali ini di jakarta. Hari Kamis 14 Januari 2016 terjadi serangan teror yang menewaskan dua warga dan lima pelaku. Apapun motif dan tujuannya, semua tindakan teror adalah musuh kemanusiaan. Karena itu segala bentuk teror harus dilawan dan tidak boleh dibiarkan mengangganggu sendi-sendi kehidupan masyarakat yang damai dan toleran. Terorisme adalah musuh bersama.
Kategori : Sorot

Peringatan Hari Toleransi Internasional 2015 Jaringan Gusdurian Indonesia

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Tanggal 16 November adalah hari ketika umat manusia di seluruh dunia memperingati Hari Toleransi. Pada kesempatan Hari Toleransi Internasional ini Jaringan Gusdurian Indonesia kembali mengajak sekaligus mengingatkan semua pihak bahwa toleransi adalah sikap aktif untuk mewujudkan kesetaraan dalam perbedaan. Toleransi bukan semata-mata membiarkan dan mengabaikan perbedaan begitu saja. Kesetaraan dalam perbedaan baik suku, agama, bahasa, maupun etnisitias itu hanya bisa terwujud jika hukum ditegakkan secara benar. Karena itu perjuangan mewujudkan toleransi tidak bisa dilepaskan dari perjuangan untuk menegakkan hukum yang menjamin semua orang setara tanpa diskriminasi. Itulah yang akan menopang kehidupan damai di antara berbagai kelompok sosial yang ada.
Kategori : Sorot

Pernyataan Jaringan Gusdurian terhadap Aksi Kekerasan di Aceh Singkil

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Tanggal 13 Oktober 2015 kembali terjadi peristiwa berdarah yang menodai persatuan, perdamaian, dan toleransi yang selama ini telah dengan keras diperjuangkan. Peristiwa kekerasan ini terjadi di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh. Ratusan orang bersenjata tajam mengamuk dan menyerang sejumlah gereja. Terjadi bentrokan dan setidaknya dua buah gereja dibakar oleh massa. Sebelumnya, beredar seruan gelap melalui teks pesan pendek yang menyerukan permusuhan kepada gereja di Aceh Singkil. Selain rusaknya tempat ibadah, korban dari kedua belah pihak yang bertikai pun berjatuhan. Sejumlah orang mengalami luka-luka, dan terdapat korban jiwa akibat terkena tembakan. Salah seorang yang menjadi korban tewas adalah seorang warga muslim. Kekerasan ini, sekali lagi, menambah catatan aksi intoleransi, pelanggaran hak warga negara yang dijamin konstitusi yakni hak untuk menjalankan ibadah, termasuk hak untuk mendirikan tempat ibadah, di negeri ini. Aksi kekerasan yang melibatkan banyak orang ini juga menandai bahwa dalam isu-isu kegamaan, kekerasan masih menjadi bahasa utama. Kekerasan ini juga menunjukkan masih terlalu banyak kebencian dan ketidakmampuan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Berkaitan dengan peristiwa menyedihkan tersebut, Jaringan GUSDURian Indonesia menyatakan:
Kategori : Sorot

Pesan JGD di Hari Perdamaian Dunia: Perdamaian Tanpa Keadilan Adalah Ilusi

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Tanggal 21 September setiap tahun diperingati sebagai Hari Perdamaian Internasional atau yang secara tidak resmi disebut hari perdamaian dunia (World Peace Day). Tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari perdamaian internasional oleh PBB dengan tujuan memperkuat gagasan perdamaian baik antar bangsa maupun di dalam sebuah bangsa. Di setiap tanggal itu pula perdaimaian selalu dikumandangkan. Tahun ini misalnya, PBB mengusung tema “Partnerships for Peace – Dignity for All” yang bertujuan untuk menekankan pentingnya semua segmen masyarakat bekerja bersama mewujudkan perdamaiaman.
Kategori : Sorot

Pernyataan Sikap JGD terkait Kekerasan TNI kepada Petani Urutsewu

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Hari Sabtu 22 Agustus 2015 di Desa Wiromartan Kecamatan Mirit, Kebumen Jawa Tengah terjadi tindak kekerasan yang dilakukan aparat TNI terhadap para petani. Kekerasan tersebut mengakibatkan sejumlah petani mengalami luka parah. Peristiwa ini merupakan rentetan konflik yang terjadi di Urutsewu terkait penguasaan tanah yang selama ini dikelola oleh para petani namun kemudian dipagari pihak TNI. Konflik tanah Urutsewu terjadi di sejumlah desa di pantai Kebumen Selatan, yaitu: Desa Ayamputih, Setrojenar, Bercong (Kecamatan Buluspesantren); Desa Entak, Kenoyojayan Ambal Resmi, Kaibon Petangkuran, Kaibon, Sumberjati, (Kecamatan Ambal); Mirit Petikusan, Mirit, Tlogodepok, Tlogopragoto, Lembupurwo, dan Wiromartan (Kecamatan Mirit).
Kategori : Sorot

Gus Dur dan Muktamar NU

Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi massa Islam terbesar di negeri ini, mempunyai peran yang sangat penting dalam memberi arah pergerakan bangsa. Sepanjang sejarahnya, organisasi Nadhlatul Ulama bersama warganya menjadi batang tubuh utama umat islam Indonesia yang mewakili wajah Islam Indonesia. Muktamar, sebagai forum tertinggi organisasi, menjadi ajang yang sangat penting terutama untuk melhat sauh mana dinamika organisasi dan warga nahdliyin menghadapi tantangan di masa kini dan masa depan. Hampir di sepanjang hayatnya, Gus Dur mendedikasikan hidupya untuk membangun NU. Hampir tidak mungkin memisahkan hidup, kiprah, dan gagasan Gus Dur dengan NU. Kiprah dan gagasan Gus Dur tersebut selalu bisa ditandai dalam setiap muktamar yang diikutinya. Dari muktamar ke muktamar kita bisa melihat jejak-jejak pemikiran dan gagasan besar Gus Dur mewarnai dinamika NU.
Kategori : Sorot

Pernyataan Jaringan Gusdurian Indonesia tentang Kekerasan dan Intoleransi di Tolikara, Papua

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Hari Idul Fitri 1436 H diwarnai dengan peristiwa yang menyedihkan. Sebuah masjid di Tolikara, Papua dibakar massa yang menentang pelaksanaan ibadah sholat Ied. Pada prinsipnya, di semua penjuru negeri ini, semua orang bebas dan berhak untuk menajalankan ibadah. Tidak ada orang atau kelompok yang boleh menghalangi dan melanggar hak orang untuk beribadah sesuai dengan ajaran agamanya. Hak beragama dan menjalankan ibadah tersebut adalah hak asasi yang termaktub di dalam konstitusi Republik Indonesia. Karena merupakan hak konstitusional warga, maka hak beribadah tidak terkait dengan persoalan jumlah, baik mayoritas atau minoritas mempunyai hak yang sama yang harus dilindungi. Mengingat pentingnya peristiwa tersebut dalam konteks kebersamaan sebagai bangsa, Jaringan Gusdurian menyatakan:
Kategori : Sorot

Pribumisasi Islam dan Islam Nusantara

Sebagai bagian dari proses kebudayaan, masuknya agama Islam ke suatu wilayah akan selalu menjalani proses perjumpaan dengan kebudayaan-kebudayaan lokal. Tidak terkecuali di nusantara. Berbagai ekpresi kebudayaan dan keislaman di nusantara adalah buah dari perjumpaan antara islam dan budaya lokal setempat. Abdurrahman Wahid pernah menelurkan konsepsi “pribumisasi islam” untuk menjelaskan proses tak terelakkan ketika agama bertemu dengan budaya lokal tersebut. Pribumisasi ini dilakukan agar kita tidak tercerabut dari akar budaya.Islam, dalam proses pribumisasi ini, mengakomodasi perjumpaan agama dan budaya yang bersifat alami ini. Akomodasi ini yang pada giliran berikutnya melahirkan pribumisasi. Contoh kasusnya di antaranya adalah adat pamantangan di Banjar, gono gini di Jawa, dan berbagai ekspresi kebududayan islam lokal di sekujur nusantara.
Kategori : Sorot