Sabtu, 16 November 2019

BINCANG RELASI KEBUDAYAAN DAN AGAMA, GUSDURIAN GORONTALO HADIRKAN PENULIS BUKU AGAMA JAWA

Sabtu, 02 November 2019
diunggah oleh : Djemi
Gorontalo-Diskusi “Merajut Tali Kebudayaan dan Agama Sebagai Kearifan Lokal” dihelat Gusdurian Gorontalo kerjasama dengan Riden Baruadi Gallery dan The Wave Coffe Roastery menghadirkan Dr. Amanah Nurish, Dosen dan Peneliti di Bidang Antropologi Agama, Jumat I November 20I9 bertempat di Gallery Riden Baruady.
 
 
Djufry Hard selaku pemandu diskusi mengatakan, bahwa diskusi ini merupakan ruang memperkaya pengetahuan terkait kebudayaan dan agama dalam konteks keIndonesiaan saat ini. Selain itu juga, Djufri mengatakan bahwa tema diskusi ini tak jauh beda dengan topik yang wacanakan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tentang Pribumisasi Islam.
 
“Kami sengaja mengangkat tema ini untuk melihat sejauhmana relasi antara kebudayaan dan agama. Dan diskusi ini sebagai ruang berbagi pengetahuan bagi semua kalangan,” katanya
 
Penjelasan terkait Kebudayaan dan Agama, Amanah Nurish memaparkan bahwa sebagai negara pasca kolonial, Indonesia punya kesamaan cita-cita yang ingin diwujudkan melalui pengetahuan. Namun disisi lain, penulis buka ‘Agama Jawa’ ini justru gelisah mengenai narasi kebudayaan dan relasinya terhadap agama di Nusantara yang belum selesai.
 
“Agama dan Budaya mestinya dirajut menjadi sebuah instrumen untuk menjawab berbagai persolan. Agama apapun itu mestinya merangkul, namun faktanya agama justru menggerus identitas kebudayaan” katanya
 
Selain itu, pengajar  di Program S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengatakan bahwa kebudayaan di Nusantara mengalami sebuah krisis. Dan hal itu kita bisa dilihat bagaimana identitas kebudayaan Nusantara itu telah ‘begeser’ dari ‘Selamatan’ berubah menjadi ‘Syukuran’.
 
Masyarakat Nusantara bisa kita lihat dari dua sudut pandang, pertama bahwa masyarakat di Nusantara ini mampu mengadopsi budaya dan agama dari luar. Kedua, masyarakat kita sangat adaptif dalam menyesuaikan agama dengan kebudayaan setempat. 
 
“Contoh, bahwa agama Islam tidak sama corek kebudayaannya dengan Timur Tengah, begitupun agama Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha berbeda dengan agama-agama yang ada diluar Nusantara. Karena setiap daerah maupun negera berbeda kebudayaannya,” papar alumni ICRS Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.
 
Diskusi yang dimulai pukul I8 :30 wita tersebut dihadiri puluhan peserta dari bebagai komunitas dan organisasi di Gorontalo. (Djemi)