Selasa, 25 Juni 2019

CATATAN DARI WORKSHOP PERUBAHAN SOSIAL JGD

Rabu, 27 Juli 2016
Jaringan Gusdurian Indonesia pada Senin (18/07) mengadakan Workshop bertema “Social Change: Can Prophets of Justice Actually Work Together?” bersama David Elcott, profesor di New York University. Tema yang diangkat adalah tentang kepemimpinan dan strategi dalam melakukan perubahan sosial. Mengingat selama ini, dalam melakukan perubahan, tidak jarang seorang melakukannya dengan aksi kekerasan (violence). Demo, membakar ban, membuat kericuhan dengan pengguna jalan, gambaran itu sering kita lihat bukan? Apakah pendekatan seperti itu masih efektif dilakukan dalam mencapai perubahan? Jika tidak, apakah pendekatan non-violence (tanpa kekeraan) sendiri juga mampu mengatasi permasalahan di dunia yang penuh dengan kekerasan?

 

 

 

 

 

Oleh karenanya, sebelum melakukan perubahan, kita harus ingat terhadap nilai-nilai yang kita bawa. Nilai-nilai yang kita punya tersebut yang dapat memantapkan posisi kita dalam melakukan setiap perubahan. Demikian ungkap David Elcott.

David kemudian memberikan gagasannya tentang perubahan profetik, perubahan yang berbasis wahyu sebagaimana yang dilakukan oleh para nabi ketika melihat ketidakadilan, amuk massa, ketimpangan sosial, dan lain-lain. 

Perubahan profetik ini adalah gagasan buat kita semua untuk tidak melakukan kekerasan, tetapi lebih menggunakan cara-cara damai. Karena ketika manusia melaksanakan teror, lalu kita juga melakukan suatu hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh orang yang melawan kita—teror, kekerasan, dan kemarahan—terus apa bedanya kita dengan mereka? tanya David ke peserta workshop. 

Kemudian, bagaimana mendorong social change for peace itu sendiri? Melakukan perubahan dengan cara-cara damai. Gandhi sendiri pernah mengingatkan, bahwa “tanpa kekerasan adalah senjata milik orang perkasa”. Hal ini dipraktikan oleh Gandhi ketika memperjuangkan hak-hak masyarakat sipil di India, mengorganisir petani dan buruh untuk memprotes lahan pajak dan diskriminasi. Gandhi lebih memilih untuk tidak menggunakan kekerasan dalam melawan pembangkangan. Hal itu juga dilakukan oleh KH. Abdurrahman Wahid  (Gus Dur).

Dalam social change, yang perlu diperhatikan diantaranya, pertama, harus berpikiran sama untuk menggapai perubahan. Perubahan dapat dicapai dengan mendorong orang-orang yang memiliki semangat dan satu visi misi dengan kita. Ketika sudah memiliki kesamaan visi misi, lalu harus ada yang mendrive, sebagai pendorong perubahan.

Kedua, perubahan dicapai dari hal yang kecil dan sederhana. Melakukan perubahan tidak harus seluruh Indonesia. Kebanyakan orang berpikir, bahwa dalam melakukan perubahan itu langsung berubah sekejap mata, sebagaimana yang diinginkan. Seluruh penduduk Indonesia. Hal itu mustahil terjadi, walaupun tidak menutup kemungkinan.

Ketika David bertanya, siapa saja yang punya peran penting dalam menggerakkan massa untuk melakukan perubahan? Mayoritas menjawab tokoh agama dan pemerintah. Keduanya mempunyai peran penting untuk melakukan perubahan. Tetapi mengapa tidak semua tokoh agama dan pemerintah berani melakukan perubahan atau lebih nyaman dengan posisinya ketika melihat ketimpangan sosial dan ketidakadilan. Nah, ketakutan-ketakutan dari tokoh-tokoh itulah yang harus kita jawab. Ada yang menjawab karena ketika melawan arus, banyak masyarakat yang menentang sikapnya sehingga posisinya sebagai pemimpin dan tokoh agama menjadi goyah, kehilangan kepercayaan di tengah masyarakat, dan lain-lain.

Perubahan Transformatif dan Transaksional

Secara umum, ada dua cara dalam mencapai perubahan. Yang pertama adalah transaksional. Yang kedua adalah Transformatif. Perubahan transaksional itu dengan menggunakan hukum dan Undang-undang. Sementara transformatif dengan melakukan perubahan secara perlahan namun hasil yang dicapai dapat dinikmati dalam jangka waktu yang lama. 

Walaupun demikian, yang perlu diingat di dalam melakukan perubahan adalah ketika kita tidak bisa mencapai tujuan besar sebagaimana yang diinginkan, namun kemenangan-kemenangan kecil harus kita raih. “Kalau teman perlu dirangul, sementara musuh perlu dirangkul lebih kuat lagi”. Demikian saran David. 

Dalam melakukan perubahan transformatif, selain nilai bersama yang harus dibawa, kita juga harus memainkan aktor lokal, seperti tokoh agama atau sosok yang berpengaruh di tengah masyarakat. Dengan mendatangi mereka satu persatu, door to door. Hal ini juga seperti yang dilakukan oleh Gus Dur. Beliau memperbanyak silaturrahim, jalan-jalan ke rumah para tokoh, kiai, mengetuk pintu satu persatu demi mencapai perubahan dan kemaslahatan. Memang, perubahan transformatif tidak terasa seketika, tetapi bisa dirasakan jangka panjang oleh anak cucu kita. 

Sementara perubahan transaksional, kita bisa melakukannya dengan cara lobi dan mengisi posisi-posisi penting untuk orang-orang yang punya satu visi misi dengan kita dalam memperjuangkan nilai. 

Strategi Narative

Dalam melakukan perubahan, siapakah yang akan kita ajak bicara? Kira-kira dari gaya bicaranya itu otentik atau omong kosong? Nah itulah cara berkomunikasi kita mulai diuji. Paling tidak, seseorang yang akan kita ajak dalam mengawal perubahan, yang pertama, mempunyai kesamaan nilai. Nilai bersama yang saat ini kita pegang itulah yang menjadikan roda gerak pergerakan bisa bernafas lebih panjang dalam memperjuangkan keadilan.

Di Jaringan Gusdurian sendiri kita punya 9 nilai utama Gus Dur (Ketauhidan, Kemanusiaan hingga Kearifan Tradisi). Nah, nilai-nilai itu yang kita pegang dalam melakukan sesuatu ketika kita melihat ketidakadilan dan hal ihwal yang bertentangan dengan nilai tersebut. Kita tidak hanya bergerak pada isu perdamaian dan toleransi saja, tetapi isu lingkungan, isu anti korupsi, perempuan dan anak juga bisa masuk. 

Kedua, Ruang cerita. Ruang bercerita sangat penting dalam melakukan strategi perubahan. Karena dengan bercerita, seseorang tidak butuh banyak referensi dan lebih banyak memahami realitas yang terjadi. Cara bercerita itu sendiri juga banyak mempengaruhi pola pikir seseorang. Mengapa di dalam kitab suci, mulai dari perjanjian lama sampai al-Qur’an, banyak ayat-ayat yang mengisahkan tentang fenomena dan kejadian sebagaimana yang dialami oleh para nabi-nabi terdahulu melalui cerita.

Ketiga, adalah gema. Gema yang dimaksud disini adalah segala hal yang kita perjuangkan dengan seringnya kita berbicara tentang 9 nilai misalnya, maka masyarakat akan beranggapan dengan hal tersebut, kemudian menggema ke seluruh publik. Bunyinya ada. Misal, Gusdurian Malang, yang kerap melakukan advokasi terhadap isu-isu perdamaian dan toleransi, maka, ketika berbicara Gusdurian Malang, maka tidak jauh-jauh dengan isu yang dibawa. Begitu juga Gusdurian Samarinda, yang sering menyuarakan isu  lingkungan, maka pandangan publik, isu yang dibawa oleh teman-teman Gusdurian Samarinda adalah soal lingkungan dan kelestarian alam. Dan hal ini tentu menjadi beragam, semakin berbeda-beda dengan komunitas Gusdurian di daerah-daerah lain. 

Keempat, narasi yang akan kita kemas. Pengemasan narasi dalam strategi naratif  adalah penting, bagaimana kita membawa sebuah isu yang akan kita lempar ke publik. Ketika pengemasan itu kurang menarik, maka, yang merespon pun akan sedikit. Salah satu contoh pengemasan yang sukses adalah isu Semen di Pegunungan Kendeng, Rembang-Jawa Tengah. Isu dan permasalahan di tingkat lokal tetapi dapat menggema menjadi isu nasional.

Kepemimpinan

Di sesi terakhir, David lebih banyak mengurai bagaimana untuk menjadi pemimpin yang baik. Menurut David, seorang pemimpin dia adalah pendengar yang baik. “Tetaplah mendengar meskipun tidak setuju”. Karena arsitek yang baik adalah orang yang banyak menerima masukan.

Sebagai pemimpin, harus banyak belajar menyembuhkan kemarahan. Jangan keburu memberi tuduhan “saya orang open-minded, mereka close-minded”. Ambil kebaikan dari pemikiran mereka sebagai jalan masuk. Dengan menyentuh masyarakat melalui pendekatan hati, tidak berpikir idealis, tetapi memulainya dari posisi dan kondisi riil yang terjadi di masyarakat. Itulah pemimpin yang baik.

Seorang pemimpin perlu mengundang kesadaran. Harus tahu diri. Tujuan pemimpin itu mengajak banyak masyarakat tidak untuk menjadi apa yang dia mau, tetapi untuk kemasalahatan bersama. Karena pemimpin adalah sumber kepercayaan banyak orang

Di Indonesia sendiri, dari tujuh presiden yang memimpin negeri ini, mereka mempunyai gaya kepemimpinan yang berbeda-beda dan unik. Mulai dari yang keras, diktator, sampai yang woles dan penuh humor. Namun setidaknya, ketika kita menjadi seorang pemimpin ada 5 prinsip yang harus diingat, Pertama, dapat dipercaya (amanah), Kedua, mampu memfilter konflik, Ketiga, komitmen, keempat, tanggung jawab, dan Kelima, fokus -kolektif. Demikian.