Selasa, 25 Juni 2019

FORUM JUMAT PERTAMA (FJP) GUSDURIAN JAKARTA: DISKUSI BERSAMA ARSWENDO ATMOWILOTO

Senin, 09 Mei 2016
diunggah oleh : admin
Forum Jumat Pertama (FJP) Jaringan GusDurian kembali digelar Jumat (6/5) malam di Griya Gus Dur, Menteng, Jakarta Pusat. FJP kali ini bertema Gus Dur dan Pembebasan, dengan menghadirkan pembicara Arswendo Atmowiloto. Dalam penampilannya, Arswendo membawakan orasi "Jalan Budaya Ketika Langit Tak Lagi Sama" yang dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama diberi judul Jalan Budaya dan bagian kedua berjudul Langit yang Berubah.
 
 
Pada bagian pertama, Arswendo menyampaikan unsur-unsur kebudayaan, yaitu pertama kreativitas, kedua mengedepankan dialog dan bukan kekerasan, ketiga ada tanpa meniadakan yang lain, keempat daya berkarya, kelima religiusitas atau mungkin soal humor.
 
Arswendo memberi catatan pada unsur keempat daya berkarya, bahwa jalan budaya dibuktikan bukan hanya dengan rencana dan wacana. Dalam berkarya, need for achievement adalah dorongan untuk membuat sesuatu tanpa disuruh, tanpa diminta atau diiming-imingi. Dorongan untuk berbuat yang akhirnya melahirkan suatu larya, suatu bentuk jadi.
 
“Ketika menulis Keluarga Cemara, saya tidak menerima honor khusus, gaji juga tidak naik karenanya. Daya berkarya membuahkan hasil ketika cerita pendek itu dikumpulkan, dibukukan, dan diterbitkan, kemudian diproduksi sebagai sinetron seri,” ujar Arswendo.
 
Kaitannya dengan Gus Dur, Arswendo menyebut dorongan berbuat sesutau ini atau semangat pembebasan bisa diteruskan. Gethok tular (penyebaran berita/cerita dari mulut ke mulut-red) di antara para murid Gus Dur—langsung atau tidak, para santri, cantrik, atau mereka yang terinspirasi, terpesona oleh Gus Dur, melakukan secara bersama-sama atau sendiri-sendiri.
 
Sementara pada bagian kedua Langit yang Berubah, Arswendo menyampaikan, komunikasi pada masa dahulu, komunikasi dimulai dari atas, dari langit atau kejauhan, dalam bentuk inspirasi, perintah, ilham, kepada orang-orang tertentu yang terpilih. Sementara komunikasi saat ini tergantung pada satelit. Langit pun berubah, tak lagi memilih orang-orang tertentu, melainkan siapa saja yang memiliki akses dengan satelit, hingga puncaknya adalah media sosial.
 
Unsur-unsur dalam jalan budaya, bisa dipakai sebagai pendekatan dalam menyoba memahami keberadaan media sosial. Pendekatan humor mungkin saja sebagai andalan menyikapi langit yang berubah. Dengan humor atau lelucon, seperti kata Gus Dur, kita melupakan kesulitan hidup, walau sejenak.
 
Dalam pola komunikasi ‘langit yang telah berubah’, akan lebih tepat bila semangat Gus Dur tidak menjadi luntur karenanya. Arswendo mengajak justru melalui media sosial, kita mampu menyebarkan kabar dan pesona segala hal yang baik.
 
Arswendo lalu menceritakan pengalamannya saat pergi menghadiri diskusi di daerah Puncak Bogor bersama Gus Dur. Saat itu Gus Dur mengutarakan gagasannya bahwa pengguna jalan tol yang membayar mestinya mendapat diskon setelah masuk tol beberapa kali. 
 
Gagasan sederhana terlontar dan berkat pemberitaan media, terwujud. Kisah ini, kata Arswendo, barangkali tak banyak didengar. Tetapi pasti inilah kisah yang pantas didengarkan, ditularkan karena membawa kebaikan tanpa merugikan salah satu pihak. Yang menerima kebaikan bisa saja tak mengenal Gus Dur, namun merasakan manfaatnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)
 
Gusdurian Bahas Perubahan Pola Komunikasi dan Budaya
Jakarta, NU Online
Forum Jumat Pertama (FJP) Jaringan GusDurian kembali digelar Jumat (6/5) malam di Griya Gus Dur, Menteng, Jakarta Pusat. FJP kali ini bertema Gus Dur dan Pembebasan, dengan menghadirkan pembicara Arswendo Atmowiloto.
 
Dalam penampilannya, Arswendo membawakan orasi "Jalan Budaya Ketika Langit Tak Lagi Sama" yang dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama diberi judul Jalan Budaya dan bagian kedua berjudul Langit yang Berubah.
 
Pada bagian pertama, Arswendo menyampaikan unsur-unsur kebudayaan, yaitu pertama kreativitas, kedua mengedepankan dialog dan bukan kekerasan, ketiga ada tanpa meniadakan yang lain, keempat daya berkarya, kelima religiusitas atau mungkin soal humor.
 
Arswendo memberi catatan pada unsur keempat daya berkarya, bahwa jalan budaya dibuktikan bukan hanya dengan rencana dan wacana. Dalam berkarya, need for achievement adalah dorongan untuk membuat sesuatu tanpa disuruh, tanpa diminta atau diiming-imingi. Dorongan untuk berbuat yang akhirnya melahirkan suatu larya, suatu bentuk jadi.
 
“Ketika menulis Keluarga Cemara, saya tidak menerima honor khusus, gaji juga tidak naik karenanya. Daya berkarya membuahkan hasil ketika cerita pendek itu dikumpulkan, dibukukan, dan diterbitkan, kemudian diproduksi sebagai sinetron seri,” ujar Arswendo.
 
Kaitannya dengan Gus Dur, Arswendo menyebut dorongan berbuat sesutau ini atau semangat pembebasan bisa diteruskan. Gethok tular (penyebaran berita/cerita dari mulut ke mulut-red) di antara para murid Gus Dur—langsung atau tidak, para santri, cantrik, atau mereka yang terinspirasi, terpesona oleh Gus Dur, melakukan secara bersama-sama atau sendiri-sendiri.
 
Sementara pada bagian kedua Langit yang Berubah, Arswendo menyampaikan, komunikasi pada masa dahulu, komunikasi dimulai dari atas, dari langit atau kejauhan, dalam bentuk inspirasi, perintah, ilham, kepada orang-orang tertentu yang terpilih. Sementara komunikasi saat ini tergantung pada satelit. Langit pun berubah, tak lagi memilih orang-orang tertentu, melainkan siapa saja yang memiliki akses dengan satelit, hingga puncaknya adalah media sosial.
 
Unsur-unsur dalam jalan budaya, bisa dipakai sebagai pendekatan dalam menyoba memahami keberadaan media sosial. Pendekatan humor mungkin saja sebagai andalan menyikapi langit yang berubah. Dengan humor atau lelucon, seperti kata Gus Dur, kita melupakan kesulitan hidup, walau sejenak.
 
Dalam pola komunikasi ‘langit yang telah berubah’, akan lebih tepat bila semangat Gus Dur tidak menjadi luntur karenanya. Arswendo mengajak justru melalui media sosial, kita mampu menyebarkan kabar dan pesona segala hal yang baik.
 
Arswendo lalu menceritakan pengalamannya saat pergi menghadiri diskusi di daerah Puncak Bogor bersama Gus Dur. Saat itu Gus Dur mengutarakan gagasannya bahwa pengguna jalan tol yang membayar mestinya mendapat diskon setelah masuk tol beberapa kali. 
 
Gagasan sederhana terlontar dan berkat pemberitaan media, terwujud. Kisah ini, kata Arswendo, barangkali tak banyak didengar. Tetapi pasti inilah kisah yang pantas didengarkan, ditularkan karena membawa kebaikan tanpa merugikan salah satu pihak. Yang menerima kebaikan bisa saja tak mengenal Gus Dur, namun merasakan manfaatnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)