Kamis, 20 Juni 2019

GUSDURIAN KALSEL GELAR KONGKOW DI KAMPUS HIJAU

Senin, 02 Mei 2016
diunggah oleh : Admin
GUSDURian Kalimantan Selatan mengadakan kegiatan screening dan diskusi film kemajemukan Kamis, 28 April 2016 mulai pukul 09.00 sampai pukul 12.00 WITA di UPT Perpustakaan IAIN Antasari. Menindaklanjuti GUSDURian Corner di Kampus-kampus, Perpustakaan IAIN Antasari menjadi salah satu afiliasi bagian kampus jejaring GUSDURian Kaliamantan Selatan. Dr. Juhaidi, selaku Kepala UPT Perpustakaan IAIN Antasari Banjarmasin menyambut baik kegiatan dan mengapresiasi atas terselenggaranya kongkow GUSDURian di Kampus Hijau. Kegiatan edukasi kemajemukan GUSDURian ini sejalan dengan filosofi keilmuan kampus IAIN Antasari “Sungai Keilmuan” yang bercirikan integrasi dinamis, integrasi Islam dan kebangsaan, berbasis lokal dan berwawasan global.

 

 

 

Siti Tarawiyah selaku koordinator GUSDURian Kalimantan Selatan menyebutkan bahwa Jaringan GUSDURian Kalimantan Selatan merupakan komunitas penerus pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Komunitas kultural dan non politik praktis ini di Kalimantan Selatan bergerak sesuai nilai-nilai 9 utama Gus Dur, yaitu ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, keksatriaan, dan kearifan lokal. Film-film kemajemukan bisa dijadikan salah satu mediasi forum berkumpul dan berdiskusi seluruh jejaring GUSDURian Kalimantan Selatan dalam menyuarakan dan aksi edukasi isu strategis agar bumi lambung mangkurat khususnya, maupun Borneo pada umumnya selalu bisa menjaga perdamaian dan kerukunan antar etnis-suku maupun antar agama.  Kongkow bertemakan kemajemukan di Kampus IAIN Antasari ini menjadi salah satu agenda membuka ruang diskusi aktif dan berkesesuaian dengan budaya kegiatan ilmiah yang dijalankan kampus.

Screening dan diskusi film ini mengambil setting kongkow di café. Kegiatan ini diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan, Indonesia Raya.  Setelah menonton film di ruang multimedia UPT dilanjutkan dengan diskusi film di Library Café. Gelaran ini menjadi agenda akhir April GUSDURian Kalimantan Selatan mengawali peringatan Mei kelabu. Adapun film yang diangkat berjudul “Saputangan Fang Yin”. Kisah tragedy gadis Tionghoa dalam Mei tahun 1998 kelam. Film yang merupakan garapan Sutradara Karin Binanto  ini mengangkat cerita kisah cinta yang terselip dalam huru hara Mei 1998. Mei 1998 membawa perubahan politik di Indonesia, namun juga tak sedikit membawa tragedi. Fang Yin, yang keturunan Tionghoa, direnggut mahkota kewanitaannya secara masal. Ini menjadi trauma yang mendalam bagi Fang Yin, akhirnya ia dan keluarganya mengungsi ke Amerika Serikat. Terpisah dari kekasihnya dan tanah air yang “sengaja dilupakannya” menjadikan ia pribadi yang benci Indonesia. Namun perlahan tapi pasti akhirnya dia sadar bahwa dia sebenarnya cinta Indonesia dan ingin kembali memulai hidup baru sebagai pribadi Fang Yin yang dulu, pemudi Indonesia yang bercita-cita membangun rumah singgah dan pemberi motivasi bagi anak-anak jalanan.

Pemutaram film yang diadopsi dari buku puisi esai Denny JA “Atas Nama Cinta”  dan diskusi film ini membawa hanyut peserta akan sejarah kelam 98. Kegiatan ini dihadiri sekitar enam puluhan peserta yang terdiri dari para sivitas akademik (dosen, mahasiswa Strata satu, mahasiswa Pascasarjana, dan karyawan IAIN Antasari) dan beberapa komunitas jejaring GUSDURian Kalimantan Selatan. Narasumber pada diskusi tersebut adalah Imadduddin Parhani dan Sugiharto Hendrata dari GUSDURian Kalimantan Selatan.  

Membuka diskusi, Imad GUSDURian mengungkapkan kaitan film tersebut dengan stereotype  terhadap suatu suku atau etnis di masyarakat. Pola pikir ini akibat dari milieu (lingkungan pergaulan), kekurangan informasi atau edukasi pluralitas, justifikasi opini yang tidak di-crosscheck keabsahannya, dan ini berakibat diskriminasi secara nyata.  Adapun Fang Yin adalah salah satu kasus dari aksi Kekuasaan “diktator-adi kuasa” rezim Orde Baru yang runtuh pada tahun 1998. Kasus-kasus scapegoat terhadap etnis keturunan Tionghoa adalah bagian kelam supremasi hukum dan sosial masyarakat Indonesia pada masa itu, dan ini menjadi bagian penting alterasi politik Indonesia.

Pada uraian lain, Sugie GUSDURian yang merupakan keturunan Tionghoa menganalisa  bahwa film ini adalah bagian sejarah yang divisualisasikan, meskipun dibumbui cerita fiksi namun data dari kejadian film ini benar adanya. Jika dikorelasikan dengan etnis Tionghoa  (yang dijadikan sebagai kambing hitam politik) sebenarnya ini bagian dari serangkaian sisipan doktrin strata masyarakat pada masa kompeni atau colonial belanda. Pada masa itu masyarakat dibagi menjadi tiga kelas, yang mana pada kelas tengah adalah kumpulan para pengusaha  dan sering menjadi alat “terdakwa” dan bahan propaganda oleh kelas atas (pemerintah belanda). Doktrin strata ini pada masa orde baru membudaya, saat itu etnis Tionghoa yang mayoritas adalah pengusaha dan pedagang menjadi korbannya. Namun setelah masa Reformasi—kabinet Persatuan Indonesia—politik Indonesia sudah berubah drastis. Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika diwujudkan secara nyata dalam pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) . Kebijakan masa Reformasi telah menunjukkan makna Nusantara itu sendiri, dan mengayomi yang tertindas, terdiskriminasi ataupun yang terzalimi, salah satunya kebijakan untuk etnis Tionghoa. Etnis Tionghoa bisa ikut andil dalam pemerintahan,  tahun baru imlek menjadi hari libur nasional, dan bahkan pertunjukan tarian Barongsai  pun sudah menjadi pemandangan yang umum di masyarakat.

Etnis Tionghoa di Indonesia memiliki cerita sejarah yang cukup panjang dengan marga yang juga berwarna, dan bahkan seperti diketahui tidak sedikit sebenarnya orang-orang  keturunanTionghoa menjadi bagian sejarah Indonesia. Laksmana  Cheng Ho tidak asing ditelinga orang Indonesia, dalam sejarah anggota BPUPKI ada tokoh yang bernama Liem Koen Hian, bahkan ulama Maulana Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari memiliki istri yang keturunan Tionghoa. Artinya, keturunan Tionghoa sudah membaur dan menjadi bagian di masyarakat.  Oleh karenanya diksi “orang pribumi” tidak bisa dilihat hanya dari segi hereditas jawa asli dan suku-suku asli pribumi yang ada, namun juga dilihat dari segi antropologis dan historis.

Peserta banyak juga yang memberikan perspektif dari film tersebut serta integrasinya dengan Tionghoa dan Gus Dur. Misalnya Eko Wahyu  menyebutkan bahwa Gus Dur bisa membuka mata orang Indonesia akan makna perbedaan sebagai rahmat. Asti Wulandari dari Psikologi Islam menilai bahwa Film ini mengisyaratkan makna agar tidak ada lagi stereotip dan salah dalam menilai etnis lain khususnya bagi masyarakat Muslim. Peserta lainnya  banyak juga yang memberikan  respon dan kisah interaksinya langsung dengan orang keturunan Tionghoa, bagaimana cara kejujuran orang Tionghoa dalam berdagang dan bagaimana tradisi pernikahan orang Tionghoa.  Seorang peserta juga berharap kegiatan ini tidak hanya menyentuh di daerah perkotaan bahkan melakukan aksi edukasi kemajemukan semacam ini di daerah yang terisolir di Kalimantan Selatan.

Imad GUSDURian menggambarkan Gus Dur adalah sosok pemimpin Indonesia yang visioner, yang dalam kalangan Islam menyebutkan istilahnya sebagai wali.  Gus Dur bisa melihat hal-hal kedepan, sehingga untuk menghadapinya tahu tindakan seperti apa yang seharusnya dilakukan untuk Indonesia. Tindakan-tindakan kontroversi Gus Dur di mata orang awam sebenarnya mengandung hikmah yang sangat besar di dalamnya, hal ini seperti kisah Nabi Khidir a.s bersama Nabi Musa a.s.

Gus Dur adalah Bapak Bangsa, Tokoh Pancasilais yang sangat visioner. Dan Indonesia bersyukur memiliki panutan seperti Gus Dur. Gus Dur telah mengajarkan makna dari kemajemukan di Nusantara dan esensi warga pluralitas Indonesia yang sudah seharusnya selalu menjaga dan merawat kerukunan, perdamaian dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari. Itu artinya etnosentrisme, prejudis, stereotip,  permusuhan, intoleransi, pelanggaran HAM, diskriminasi, marginalisasi, terorisme, anarkisme dan tindakan destruktif lainnya bukanlah sikap orang Indonesia.

Adapun nilai filosofis dari film ini ada pada saputangan. Saputangan itu sebagai simbol kenangan pahit trauma yang sulit dilupakan oleh Fang Yin. Namun ketika saputangan itu dibakarnya, secara psikologis itu merupakan bentuk perlawanan Fang Yin akan kenangan kelam tersebut. Ini juga menjadi analogi bagi Indonesia, sejarah pahit memang ada dan tak bisa dihapus, namun perubahan konstruktif  mampu menjadikan tragedi  Mei ini sebagai pelajaran agar jangan terulang, menjadi salah satu momentum agar  warga Indonesia bersatu dalam perbedaan dan mencintai Indonesia. Sebagaimana Fang Yin yang akhirnya cinta akan jati dirinya sebagai orang Indonesia.

Kegiatan diakhiri dengan pembagian doorprize buku bagi peserta yang hadir dan penyerahan kenang-kenangan secara simbolis dari GUSDURian Kalimantan Selatan untuk UPT Perpustakaan IAIN Antasari atas dukungannya dalam aksi turut serta menjaga kebhinekaan Indonesia. (MSK/GUSDURian Kalsel)