Jumat, 21 Juni 2019

GUS DUR PEMBELA PERTAMA DALAM SUAKA KEMANUSIAAN IGNASIUS SANDY

Sabtu, 03 September 2016
diunggah oleh : admin
Ignasius Sandyawan Sumardi mengatakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah Uskup (dari NU) yang pertama membelanya. Pernyataan itu sangat beralasan bagi Sandy sebab Gus Dur (selain juga Romo Mangunwijaya dan Danuwinata) adalah tokoh yang menjadi pembela Romo Sandy dalam gerakan Suaka Kemanusiaan Kasus 27 Juli 1996. Sandy mengisahkan pengalaman tersebut dalam Forum Jumat Pertama (FJP) Jaringan Gus Durian, Jumat (2/9) malam di Griya Gus Dur, Jl. Taman Amir Hamzah Jakarta Pusat. FJP malam itu bertema ‘Gus Dur dan Rakyat Kecil’, didatangi puluhan hadirin, yang mayoritas kaum muda.




Menurut Romo Sandy, sejak perjumpaan pertamanya yang terjadi saat Gus Dur masih sebagai intelektual muda NU yang vokal dan cerdas, telah menggunggah inspirasi baginya. Ia menilai pemikiran Gus Dur sangat orisinil dan otentik. 

Hal lainnya yang juga sangat mengesankan dari Gus Dur adalah setiap Sandy datang Gus Dur selalu sudah bersentuhan dengan perkara sehingga Gus Dur menjadi ‘tukang kompor’.

“Kalau sudah ingin melakukan (niat baik), ya sudah. Lakukan dengan sungguh-sungguh, jangan setengah-setengah. Artinya Gus Dur itu sangat total. Dalam hal apa pun selalu begitu,” terang Sandy.

Kesan ketotalan dari Gus Dur itu mengingatkan Sandy kepada salah satu pesan guru silatnya saat mengambil pendidikan di Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyodan Magelang. 

”Kowe nek dadi pendekar, dadio pendekar beneran (kalau  kamu ingin menjadi pendekar, jadilah pendekar sejati atau sungguhan),” kata Sandy mengutip pesan gurunya.

Pesan tersebut, berpadu dengan sosok Gus Dur, menjadikan Sandy semakin bersemangat dan mantap dalam perjuangan membela kemanusiaan. Romo Sandy lalu menyebut beberapa gerakan yang ia lakukan dan menyebabkannya sering berinteraksi dengan Gus Dur.

Dalam perjumpaan-perjumpaan tersebut, Gus Dur, menurut Sandy membaur dengan rakyat kecil, tanpa kesan pencitraan atau dibuat-buat. Hal yang sangat berbeda dengan para politikus lainnya. 

Terhadap dunia politik, Gus Dur menjadikan politik sebagai sesuatu yang substansial, artinya politik sebagai sesuatu yang bersentuhan dengan persoalan-persoalan kehidupan masyarakat sehari-hari. Gus Dur sama sekali jauh dari politik artifisial atau politik dagang sapi, di mana politik hanya menjadi ajang tawar menawar kekuasaan.

“Yang paling ujung di dalam politik adalah kemanusiaan. Oleh karena itu Gus Dur sangat demokratis, tidak pernah menolak berdialog dengan siapa pun,” kenang Sandy.

Sandy meneruskan, Gus Dur juga menjadi semacam pantulan dari setiap orang yang datang, termasuk Sandy. Saat bertemu dengannya, ia tidak akan menceramahi. Hal itu memberi pelajaran bahwa pendidikan yang diberikan Gus Dur seperti model pendidikan dalam filsafat Yunani, di mana ada persentuhan yang kuat. 

Adalah tugas kita dalam mengembangkan pendidikan seseorang, seperti bidan yang membantu melahirkan ilmu yang sudah ada dalam jiwa atau roh orang tersebut. Dan itulah yang dilakukan Gus Dur karena substansi pendidikan adalah fasilitator pembebasan manusia.

Sandy meyayangkan, saat ini sangat sulit menemukan—kalau bukan tidak ada—sosok seperti Gus Dur. Menurut Sandy, anak-anak muda sekarang tidak orisinil. Dalam mencari pendidikan atau pengetahuan, bahkan membentuk dirinya, mereka mendasarkannnya pada apa yang disajikan oleh internet, mendengar dan menonton audio visual yang tersedia di ineternet. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

 

Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/70949/gus-dur-pembela-pertama-dalam-suaka-kemanusiaan-romo-sandy