Sabtu, 16 November 2019

GUSDURIAN BARRU GELAR DISKUSI TENTANG PENDIDIKAN PERDAMAIAN GUS DUR

Selasa, 29 Oktober 2019
diunggah oleh : Suryadi
Barru-Gusdurian Barru menggelar Diskusi Santai IV dengan mengangkat tema Pendidikan & Konsepsi Perdamaian Gus Dur pada Sabtu 29 Oktober 2019 bertempat di Sekretariat PMII Komisariat STAI DDI Mangkoso Barru. Dalam Diksi ke-IV kali ini menghadirkan Zainuddin Karim, M.Pd selaku Wakil Ketua GP Ansor Kabupaten Barru.

Dalam pemaparannya, pertama-pertama pemantik diskusi memulainya dari konsepsi pendidikan bahwa pada intinya  pendidikan adalah cara memanusiakan manusia. Dalam kaitannya dengan Peace Education Gus Dur, Zainuddin Karim mengatakan Gus Dur adalah sosok yang sangat egaliter dan memiliki produktivitas kerja yang sangat tinggi.

Suatu ketika beberapa bulan sebelum pelengserannya dari kursi kepresidenan Mahfud MD, Khofifah dan Alwi Shihab melakukan beberapa lobi politik agar Gus Dur tetap bertahan sebagai Presiden. Lobi politik tersebut menyatakan bahwa Gus Dur masih bisa jadi Presiden dengan catatan itu ditentukan oleh penguasa partai. Tapi Gus Dur dengan tegak menolak, menurutnya, itu tidak boleh, saya tidak mau didikte oleh pemimpin partai, itu inskonstitusional lebih baik saya mengundurkan diri sebagai presiden dari pada harus didikte.

Dalam perjalanannya, Gus Dur selalu mengupayakan perdamaian. Maka dari itu Gus Dur menciptakan rumah perjumpaan dengan para tokoh lintas agama. Hal ini ditempuh sebagai jalan menghindari kekerasan atas nama perbedaan keyakinan. Bahkan yang sering dianggap kontroversi adalah sikap Gus Dur yang menjaga gereja pada saat kegiatan peribadatan. Karena bagi Gus Dur menjaga prbedaan itu penting dalam rangka menjaga persaudaraan sesama manusia. Tegas Zainuddin Karim yang juga Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) DDI Mangkoso ini.

Lebih lanjut, Zainuddin mengutarakan bahwa konsep pendidikan Islam yang dianut Gus Dur itu adalah Neo-modernisme dan Pluralisme. Konsep pendidikan tersebut adalah kombinasi pendidikan klasik dengan pendidikan barat yg kritis dan progressif. Corak pemikiran pendidikan yang didapatkannya itu adalah buah dari perjalanan intelektualnya di Eropa dan Timur tengah. Inilah yang diterapkan Gus Dur dalam melakukan upaya pembelaan manusia yang ditindas dan diperlalukan tidak adil tapi dengan cara-cara dialogis.

Sebagai contoh ketika umat Islam beramai-ramai mengecam keberadaan kelompok Ahmadiyah yang dianggap sebagai kelompok sesat pada saat itu, Gus Dur justru tampil membela. Baginya, perlakuan semena-mena terhadap Ahmadiyah adalah perbuatan melawan kemanusiaan. Gus Dur tidak membela Ahmadiyahnya tapi membela manusianya. Menurut Gus Dur tidak boleh ada tindakan kekerasaan atas nama perbedaan keyakinan tapi yang dikecam adalah penghardikannya kepada mereka yang memiliki perbedaan keyakinan.

Demikian juga yang terjadi pada kasus Arswendo kala menempatkan Nabi Muhammad diurutan ke-10 tokoh yang berpengaruh di dunia. Hal itu mendapatkan kecaman hingga intimidasi kepada Majalah tersebut. Gus Dur kemudian bersikap terbalik, mengecam kelompok-kelompok yang melakukan pengecaman dan intimidasi itu. Gus Dur mengatakan membela kebenaran atau membela agama sekalipun itu tidak harus brutal dan ugal-ugalan, karena itu justru akan melanggengkan kekerasan.  Berikan kesempatan kepada penegak hukum dalam menyelesaikannya.

Terakhir, Gus Dur adalah seorang penganut sufistik. Banyak pemikiran-pemikirannya yang berbau sufistik termasuk prediksi-prediksinya terbukti satu persatu sampai hari ini. Sikap kesederhaan, saling menghormati dan menghargai serta ketenangannya menghadapi persoalan adalah pengaruh dari kesufistikannya itu. Sehingga wajar jika Gus Dur disebut sebagai cendekiawan sekaligus juga ulama. Pungkas Zainuddin.

Diakhir Diskusi, Wahyudi selaku moderator menegas bahwa Gus Dur adalah sosok yang tak memiliki definisi. Betapa banyak predikat yang boleh dilekatkan pada dirinya dan semuanya itu benar. Olehnya itu para Gusdurian senantiasa harus mempelajari dan mengkaji pemikiran dan sepak terjang beliau. Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita dilanjutkan.

 

Suryadi, penulis adalah Gusdurian Barru.