Sabtu, 16 November 2019

GUSDURIAN TUBAN DAN LINTAS IMAN GELAR DIALOG KEBANGSAAN

Kamis, 31 Oktober 2019
diunggah oleh : Ahmad Juremi
TUBAN - Dialalog Kebangsaan diinisiasi GKI Tuban dan Gusdurian, yang dihadiri berbagai komponen, dari berbagai lintas iman dan umat beragama diantaranya; Jaringan Gusdurian, umat Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Rabu, (30 10 2019).

Dalam acara dialog tersebut,  dihadirkan Narsumber, Gus Aan Anshori (Jaringan Islam Anti Diskriminasi) dan (oikmas GKI Sonode Wilayah Jawa Timur). Harapan dengan acaranya Dialog Kebangsaan ini dalam rangka merawat semangat dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Kordinator Gusdurian Tuban Tasyhudi, menuturkan dan memberi tanggapan pada acara dialog tersebut, "Dialog kebangsaan dengan tema radikalisme yg diadakan GKI Tuban ini sangat penting dilakukan terus menerus pada komunitas lintas iman"

Dia menegaskan, dengan di situlah, agar tertanam rasa kebersamaan, bagaimana membangun bangsa dan negara ini (NKRI). Kuncinya adalah dengan menghilangkan kebencian terhadap agama lain yang pelural ini dan mengghilangkan prasangka buruk terhadap agama lain. 

Gus Aan Anshori menuturkan sebagai narasumber dialog, "Harapanya Kurikulum pendidikan dalam era ini, harus diubah dalam kurikulum humanis". Pria asal Jombang ini menambahkan,  untuk antisipasi bibit radikal harus dengan pendekatan  dengan cara masif dan masal. Selain itu juga islam  Itu sendiri tidak akan mampu menjaga negara Indoneaia yang plural ini, maka menjaga NKRI ini harus mengajak seluruh antar lintas iman ini.

Sangat peting ada dampak semangat hidup berdampingan dan semngat menjaga NKRI, dinilai ideologi radikalisme dan Estrimisme sudah mengancam keutuhan semangat NKRI dan toleransi. Kristianto Basuki selaku GKI Tuban menjelaskan, dialog kebangsaan ini digelar berdasarkan visi misi gereja, agar bisa dirahmati, selain itu ini Acara digelar juga sekaligus pengejawantahan Sumpah Pemuda. "Acara ini mencoba untuk merekatkan dalam bingkai sumpah pemuda. Semangat satu Bangsa, satu Nusa, satu Bahasa Indonesia," kata Kris.

 

Ahmad Juremi, kontributor adalah Gusdurian Tuban.