Jumat, 20 September 2019

JANGAN BICARA SURGA JIKA TIDAK MELAKUKAN APA-APA UNTUK BUMI

Kamis, 18 Juni 2015
diunggah oleh : Mukhamat Iqbal
GERDU (Gerakan GUSDURian) Suroboyo, bersama dengan tokoh-tokoh lintas iman menggelar diskusi dalam tajuk Seminar Nasional Pengelolaan Sumber Daya Alam Dalam Pandangan Agama-agama, di Auditorium Museum 10 Nopember, Tugu Pahlawan Surabaya, Selasa, 16/6/2015. Hadir sebagai pembicara dalam seminar, coordinator Sekretariat Nasional (Seknas) Jaringan GUSDURian, Alissa Wahid, Muhammad al-Fayyadl, aktivis Muda NU, Romo Tri Budi Utomo alias Romo Didik, Tokoh Agama Katolik, dan Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jatim, Purnawan Dwikora Negara akrab disapa pupung

Pupung memberi apresiasi tinggi atas seminar yang dihadiri 200-an orang dari berbagai lapisan masyarakat ini, menurut dia, Walhi sangat membutuhkan forum-forum seperti ini, bagaimana tokoh agama sensitif terhadap isu sumber daya alam. Sebab, menurut walhi saat ini kita mengalami krisis eko-moral atau keteladanan ekologi.

“Spirit Gus dur dan nilai-niliai utama Gusdurian sebenarnya sama dan sevisi dengan 10 nilai walhi. Bahkan Walhi pernah memberikan penghargaan terhadap Gus Dur sebagai pejuang lingkungan”. Imbuhnya.

Pada kesempatan itu, Romo Didik, mendedahkan beberapa data teologis yang saat ini tengah berkembang di dalam gereja Katolik. Menurutnya, Trend teologi sekarang, perdamaian bukan lagi sekedar keadilan sosial namun, bergeser menjadi keadilan lingkungan. Sehingga, visi teologi gereja katolik kedepan adalah menjaga kesakralan dunia, sehingga dibutuhkan pembaharuan seluruh tradisi spiritual dalam kaitan fungsi integral biosistem planet bumi. Maka, kesalehan spiritual—aku yang saleh beruhubungan dengan tuhan—bergeser menjadi spiritualitas global (aku sebagai anggota komunitas dunia).

Sementara, dalam yurisprudensi Islam (Fiqih) Ada tiga aspek pengelolaan Sumber daya alam menurut Islam. Pertama, prinsip-prinsipnya, kedua, pengelolanya (siapa yang paling berhak memiliki), ketiga, manajemen/pengelolaannya,  tegas Fayyadl.

Fayyadl, menjelaskan salah satu aspek dalam fiqih yang dirintis K.H. Ali Yafie, bagaimana Prinsip-prinsip pengelolaan sumber Daya Alam, yaitu prinsip melindungi jiwa raga (Hifdz an Nafs) artinya, didalam pengelolaan sumber daya alam tidak boleh ada manusia yang menjadi korban.

Alissa Qotrunnada Munawaroh Rahman (Alissa Wahid), menegaskan isu lingkungan bukan hanya soal penghijauan, namun juga soal kemanusiaan, keadilan, dan kearifan tradisi. "Jadi, kalau Gus Dur terlibat dalam isu lingkungan hidup itu karena aspek kemanusiaan, keadilan, dan kearifan tradisi. Gus Dur itu berbasis nilai, bukan power atau status sosial," katanya.

"Bagi Gus Dur, kebijakan pemimpin yang tidak maslahah atau tidak rahmatan lil alamin itu perlu diingatkan. Jadi, ada nilai-nilai. Misalnya, kita beli makanan, maka uangnya adalah milik kita, tapi makanan adalah milik bersama, karena itu makanan yang tidak dihabiskan dan dibuang itu salah," imbuhnya. ©Iqbal