Senin, 16 September 2019

KOPI TETES: SEBUAH PENANDA; CATATAN TENTANG GUSDURIAN BATU

Selasa, 15 Maret 2016
diunggah oleh : Haris el mahdi
Dipertemukan secara tidak sengaja melalui sebuah acara bertajuk "Haul ke-6 Gus Dur", murid-murid Gus Dur yang berdomisili di Kota Batu seolah menemukan energi untuk mengikatkan diri dan bergerak bersama, mewartakan 9 mantra Gusdurian. 8 Pebruari 2016, dalam balutan acara "ngobrol Imlek Bareng Gusdurian", jabang bayi Gusdurian Batu lahir atau lebih tepatnya "terlahir kembali". Secara historis, Gusdurian Batu sudah pernah ada, namun ibarat sebuah pepatah hidup segan mati tak mau. Pun, sejarah memanggil dengan suara merdu kepada para murid Gus Dur di kota Batu untuk kembali mengikat pikiran dan batin, bergerak bersama mencipta gelombang cinta.
 
 
 
8 Pebruari 2016 menjadi saksi betapa murid-murid Gus Dur lintas agama, lintas etnis, dan lintas aliansi politik saling bertemu dan bertegur sapa ; membangun tradisi dialog 
 
Ruang dialog itu dimulai dari sebuah Kafe terpencil bernama "Kopi Tetes". Kafe ini tidak dekat dengan keramaian dan hingar-bingar kota Batu yang tumbuh menjadi salah-satu destinasi wisata favorit. 
 
Kafe Kopi Tetes bersembunyi di belakang Hotel Orchid, hotel yang menjadi saksi bisu wafatnya seorang Indonesianis besar, Benedict Anderson. Kopi Tetes adalah sebuah Kafe yang sangat bersahaja. Tidak ada free wifi, tidak ada live music, dan tiada pula layar besar untuk acara nonton bareng. Satu-satunya keunggulan kafe ini adalah hamparan luas sawah menghijau yang tampak gelap di malam hari. 
 
Di Kafe Kopi Tetes yang terpencil dan bersahaja inilah Gusdurian Batu dideklarasikan, Gusdurian Batu terlahir kembali. Kopi Tetes mencipta sejarah. 
 
18 hari kemudian, kafe bersahaja ini mencipta sejarah lagi, yakni menjadi tuan rumah pertemuan Gusdurian Malang dan Batu dengan Alissa Wahid, putri Gus Dur yang sekaligus menjadi koordinator nasional Gusdurian. Di Kafe ini terpatri jejak Alissa Wahid melalui torehan tanda tangan dan sebuah pesan "Jadikan Rumah Perdamaian". 
 
Ada begitu banyak kafe mewah di kota Batu, tetapi hanya kafe Kopi Tetes yang terpencil dan bersahaja, yang punya tanda-tangan dan pesan dari Alissa Wahid. 
 
Agaknya, Kopi Tetes memberi pesan kepada para murid Gus Dur di kota Batu untuk benar-benar menghayati nilai ke-7 dari 9 nilai Gusdurian. Nilai ke-7 itu adalah kesederhanaan atau kebersahajaan. 
 
Tidak mudah menjadi pribadi yang bersahaja di tengah dunia yang bergerak memeluk kemewahan. Namun, dalam kebersahajaan itulah nilai kemanusiaan menjadi otentik. Manusia menemukan dirinya yang original melalui cara hidup yang bersahaja. Dan, hidup bersahaja adalah nilai yang diajarkan oleh para nabi dan orang-orang suci. 
 
Musa, Kristus, Budha, Konfusius, Muhammad, dan orang-orang suci yang lain mengajarkan kepada umat manusia bahwa hidup bersahaja adalah kemuliaan. 
 
Sebaliknya, manusia yang hidupnya berlumuran dan mengejar kemewahan, ia kehilangan kebahagiaan dan kejujuran. Hidupnya memang "tampak" bahagia, tetapi bahagia yang semu. Shidarta Gautama keluar dari kemewahan karena ia tidak menemukan kebahagiaan di sana. Justru, saat melalui jalan kebersahajaan, Shidarta Gautama sanggup bertemu dengan "Budha",  pencerahan batin. 
 
Lebih dari itu, gelimang kemewahan sangat mudah membawa seseorang menjadi angkuh dan lupa diri. Kemewahan adalah musuh kemanusiaan. Agama tidak melarang manusia menjadi kaya, tetapi agama mengutuk keras mereka yang hidup bermewah-mewahan. 
 
Di titik inilah Kopi Tetes memberi pelajaran kepada murid-murid Gus Dur di kota Batu agar selalu hidup dalam kebersahajaan, nerimo ing pandhum dalam bahasa jawa. Kebersahajaan akan mengikat persaudaraan dan cinta. 
 
Dari kopi tetes, murid-murid Gus Dur kota Batu belajar untuk menjadi manusia apa adanya, bukan manusia yang berlapis make up dan gincu. Menjadi manusia yang sanggup dekat dan didekati siapapun, termasuk musuh sekalipun. Manusia meninggi derajatnya ketika ia sanggup memuliakan musuh yang nembencinya.
 
Ketika Habib Rizieq bilang :"Gus Dur itu buta matanya dan buta pula hatinya",  Gus Dur tidak berkomentar, tidak pula menghina balik Habib Rizieq. Di titik ini, Gus Dur menjadi manusia bersahaja yang otentik. 
 
Menghayati kebersahajaan bukan berarti abai pada 8 nilai Gusdurian yang lain. Justru, kebersahajaan dapat terpatri setelah menyelami dengan sungguh 8 nilai Gusdurian yang lain. 
 
Haris el mahdi 
FB @Haris el mahdi