Kamis, 20 Juni 2019

MEMBEDAH PEMIKIRAN GUS DUR, MENGURAI PERMASALAHAN BANGSA

Rabu, 30 November 2016
diunggah oleh : Nur Sholikhin
Gus Dur ketika masuk partai, dia terjun di lahan persengketaan petani dengan perusahaan. Bagi Gus Dur, partai politik adalah alat untuk memperjuangkan masyarakat. Bahkan orang-orang yang dididik oleh Gus Dur banyak yang belum memahami. “Kok eman-eman Gus Dur masuk partai politik. Kalau saya memandang, kebesaran kita di masyarakat sipil juga harus dibuktikan juga untuk menata politik. Tapi jangan sampai politik menjadi panglima,” terang Nur Khalik Ridwan saat menyampaikan materi tentang Biografi Gus Dur pada agenda Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) V di Kampung Batik Giriloyo, Bantul, Sabtu (19/11/2016).

 

 

 

Gus Dur ingin, lanjut Nur Khalik Ridwan, jangan sampai kekuatan partai politik terlalu kuat, sampai-sampai negara tidak berfungsi. Apalagi sampai tidak ada tentara, itu akan berbahaya. “Gus Dur mengajarkan bahwa masyarakat sipil yang kuat harus mendukung demokratisasi dan partai politik yang kuat,” tandasnya.

Nur Khalik Ridwan atau yang akrab dipanggil Mas Nur Kholik, beranggapan bahwa Gus Dur ingin memberikan contoh, kalau ingin mengubah melalui partai politik. Gus Dur ingin mengembalikan teman-temannya yang anti poltik praktis. “Yang paling penting adalah partai politik tidak hanya menjadi citra, melainkan menjadi gerak dan cita,” tandasnya.

Ia menuturkan kepada para peserta Kelas Pemikiran Gus Dur, bahwa nantinya selain berkutat dan bergumul dalam masyarakat sipil, harus berkewajiban membenahi partai politik. “Jangan partai politik adanya hanya 5 tahun saja. Sekarang partai harus dikembalikan pada relnya, supaya terjadi keseimbangan,” ujarnya.

Partai politik harus membela rakyat. Masyarakat ditindas di Kulonprogo, masyarakat ditindas di mana-mana, partai politik tidak ada yang beruara, bagi Nur Khalik Ridwan. Baginya, partai politik saat ini menjadi rezim oligarki pengusaha, dan dijadikan oligarki para elit. “Ini yang dikhawatirkan oleh Gus Dur,” tandasnya.

Sepanjang hidupnya Gus Dur bermain di demokrasi partisipatoris. Era Orde Baru, Gus Dur menunjukkan sisi terbaiknya. Bagian terbaik dari hidupnya Gus Dur justru di era Orde Baru yaitu era yang sangat menantang dan era yang disebut otoritarisme dan militeristik. Saat itu tentara yang berkuasa, semua gubernur di Jawa terdiri dari tentara kecuali gubernur DIY. “Orang tidak bisa bebas berlebihan, orang tidak bisa menunjukkan sikap anti pemerintah berlebihan, menyindir sedikit saja tidak bisa,” Ujar Abdul Gaffar Karim saat memberikan materi tentang demokrasi di Kelas Pemikiran Gus Dur V.

Yang dilakukan oleh Gus Dur adalah kemampuan mengelola politik dengan cantik. Bagi Abdul Gaffar Karim, Gus Dur tidak frontal terhadap pemerintah, tidak membawa NU berhadap-hadapan langsung secara frontal dengan pemerintah dan tidak membiarkan NU dan komunitas yang dipimpinnya menjadi pijakan kaki pemerintah. “Itu bedanya dengan para politisi sekarang,” ujar Abdul Gaffar Karim, Dosen Fisipol UGM.

“Bayangkan, suasana pemerintah seperti itu. Pemerintah sangat korporatis, orang boleh berkelompok menurut yang diatur oleh pemerintah, dibuatlah MUI, PWI, ddl. Potensi untuk menggoyahkan pemerintah akan disikat habis. Ada orang yang protes pasti berbahaya, yang cemas adalah yang protes,” tandasnya saat memberikan materi kepada peserta KPG..

Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) V dilaksanakan pada tanggal 19-20 November 2016 di Kampung Batik Giriloyo Imogiri Bantul. Peserta diikuti oleh mahasiswa dari berbagai di kampus Yogyakarta, Magelang, Klaten. “Teman-teman di sini adalah orang pilihan, dari peserta sekitar 120 yang mendaftar, dipilih 35 orang. Awalnya akan dipilih 30 orang, mengingat pesertanya yang mendaftar banyak kemudian ditambah 5 orang,” ujar Rifai, ketua panitia KPG V.​ “Teman-teman di sini bukan untuk menjadi Gus Dur, tapi untuk melanjutkan perjuangan Gus Dur. KPG adalah arena belajar teman-teman untuk belajar pemikiran Gus Dur. Semoga teman-teman bisa menyumbang untuk kemajuan bangsa,” tandas Jay Ahmad, Seknas Jaringan Gusdurian saat memberikan sambutan di awal acara.