Senin, 11 Desember 2017

MENJAGA SEMANGAT TOLERANSI, GUSDURIAN SOLO ADAKAN DISKUSI DAN NONTON FILM

Selasa, 06 Desember 2016
SOLO, Sabtu – Dalam memperingati Hari Toleransi Internasional yang jatuh setiap tanggal 16 November, Gusdurian Solo dengan beberapa elemen komunitas yang ada di Kota Solo menggelar acara nonton film dan diskusi dengan tema “BEDA dan SETARA”. Kegiatan yang berlangsung di pendopo Taman Cerdas, Kecamatan Jebres, Kota Solo tersebut berlangsung dengan khidmat, diikuti kurang lebih 50 peserta pada hari Sabtu, 19 November 2016. Dalam kegiatan ini, pelaksanaan acara dibantu beberapa elemen komunitas maupun organisasi yang ada di Kota Solo. Elemen yang tergabung tersebut, tak lain dan tak bukan adalah memiliki komitmen dalam menjaga semangat toleransi di tengah keberagaman bangsa. Beberapa elemen maupun organisasi yang tergabung di dalam kegiatan tersebut antara lain adalah Komunitas Nandur, Akasavakya, PMII Komisariat Kentingan serta Komunitas Literasi Buku Revolusi.

 

 

Dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, para peserta dengan khidmat mulai masuk dalam nuansa sakral dalam perenungan akan adagium bernama toleransi. Dimana dalam sejarah, Hari Toleransi Internasional ditetapkan oleh UNESCO pada tanggal 16 November 1995 atas Declaration of Principles on Tolerance. Penetapan hari Toleransi Internasional bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada publik atas pentingnya sikap toleran dalam menjaga hubungan diantara masyarakat. Peringatan ini juga menegaskan sikap toleransi yang telah disebutkan dalam sejumlah instrumen Hak Asasi Manusia (HAM) internasional. 

Setelah itu, lampu-lampu yang semula menerangi berbagai sudut yang ada di pendopo dimatikan semua. Hal tersebut pertanda sebagai dimulainya pemutaran film pendek yang mengandung nilai maupun pelajaran akan kesadaran dalam memegang prinsip toleransi. Beberapa judul film pendek yang diputar pada kesempatan itu antara lain adalah Lebih Baik inklusi, Assalamu’alaikum (Story From Ende) dan Jalan Tika. Dalam sesi ini, mengantarkan para peserta untuk menangkap setiap hikmah maupun pelajaran dari tanyangan audio-visual dengan durasi rata-rata 15 menit dari tiap judul film tersebut.

Joko, salah satu peserta yang hadir dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa kegiatan seperti ini memang perlu dilakukan terus-menerus. Apalagi, makna Hari Toleransi itu sendiri akan dapat disinkronkan dalam kehidupan berbangsa, bernegara maupun beragama. “Malam ini bagi saya menjadi salah satu malam yang begitu luar biasa. Dapat bertemu teman-teman yang memiliki visi dan misi yang sama dalam menjaga semangat toleransi sebagai salah satu usaha untuk menjaga keutuhan bangsa yang heterogen ini. Apalagi, di tengah-tengah ancaman fundamentalisme maupun radikalisme dengan berbagai gerakannya. Hari Toleransi harus dijadikan sebagai salah satu momentum untuk meningkatkan semangat menjaga keutuhan NKRI”, pungkas Mahasiswa UNS tersebut.

Setelah acara pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi. Dimana dalam kesempatan tersebut hadir dua pembicara yakni A. Zahid dan Syamsul Bakhri, yang masing-masing adalah mahasiswa pascasarjana dari salah satu kampus di Kota Solo. A. Zahid dalam kesempatannya menyampaikan materi mengenai analisis sosial masyarakat dalam menjaga NKRI, lebih lanjut lagi dia mengerucutkan pembahasan melalui terminologi berbeda dan setara dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Dia menjelaskan bahwasannya untuk mengerti makna toleransi, maka sudah seharusnya kita menelisik sejarah dicetuskan istilah tersebut. Akar dari lahirnya toleransi tak lain dan tak bukan adalah dikarenakan adanya pluralisme. “Kita ini bangsa yang sangat heterogen, dengan pluralisme  yang ada baik meliputi perbedaan suku, agama, ras, budaya maupun bahasa sudah tidak saatnya untuk saling membedakan. Ingat juga pesan yang pernah disampaikan oleh Gus Dur bahwasannya tidak penting apa agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Orang tidak akan pernah tanya apa agamamu”, pungkas Mahasiswa S2 Sosiologi UNS tersebut.

Syamsul Bakhri dalam kesempatannya menyampaikan materi mengenai Pancasila sebagai jatidiri bangsa. Ia menjelaskan jatidiri dari bangsa Indonesia yang memperlihatkan ciri khas ataupun karakteristik yang membedakan dengan bangsa lain. Melalui lima sila yang termaktub dalam falsafah bangsa ini, dia mengajak untuk terus memahami dan menilik sejarah dari para pendiri bangsa atau founding fathers. “Sila pertama menjelaskan kepada kita, jatidiri bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama. Sila kedua menjelaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki jatidiri menghormati hak asasi manusia. Sila ketiga memberikan penjelasan, jatidiri bangsa Indonesia adalah bangsa yang mencintai tanah air. Sila keempat dapat diartikan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang demokratis. Dan sila yang terakhir adalah bahwasannya jatidiri bangsa Indonesia, bangsa yang menghormati kebersamaan,” ucap Alumnus S1 Pendidikan Sosiologi Anthropologi UNNES tersebut.

 

 

Dalam penutupan acara, sejenak peserta diminta untuk berdiri dan memposisikan diri untuk membentuk sebuah lingkaran. Dengan dipimpin pembawa acara, mereka bersama-sama melakukan sebuah deklarasi dalam peringatan Hari Toleransi Internasional di tahun ini. Deklarasi tersebut berisikan komitmen sebagai warga negara Indonesia yang akan terus menjunjung tinggi semangat toleransi, cinta tanah air, menghargai hak asasi manusia serta mewujudkan perdamaian dunia.