Sabtu, 16 November 2019

PERINGATI SUMPAH PEMUDA, GUSDURIAN BLITAR DAN LINTAS AGAMA GELAR SELAMATAN KEBANGSAAN

Selasa, 29 Oktober 2019
diunggah oleh : Nanang
BLITAR - Peringati Sumpah Pemuda ke-91, Gusdurian Blitar dan lintas agama di Blitar gelar “Selamatan untuk Kebangsaan” di Gereja Katolik Seminar Garum, Senin (28/10/2019).

Hadir dalam kegiatan tersebut, kelompok pemuda bergama Islam, Buddha, Hindu, Kristen, Katolik, dan Konghucu. Serta hadir pula organisasi kepemudaan di Blitar, baik organisasi ekstra kampus (Omek) maupun organisasi intra kampus (Omik).

Romo Prima Novianto mengatakan, acara yang pihaknya gelar bersama Gusdurian untuk mengenang perjuangan para pemuda waktu itu yang begitu besar bagi Indonesia.

"Kegiatan ini untuk mengenang perjuangan generasi muda. Hari Sumpah Pemuda ini merupakan momentum penting bagi bangsa Indonesia karena peran generasi muda begitu besar bagi bangsa," kata Romo Novi, Senin (28/10/2019).

Dengan adanya sumpah pemuda ini, Novi berharap, pemuda lintas agama di Blitar bisa menjadi pelopor kerukunan umat beragama di manapun.

"Dengan adanya temu pemuda lintas agama ini kita ingin para generasi muda menjadi pelopor kerukunan, perdamaian dan kemajuan dimasyarakat di Indonesia khususnya di Blitar," harapnya.

Sementara di lain tempat koordinator Gusdurian Blitar Masrukin mengatakan, kegiatan ini untuk membangun komitmen kebangsaan terhadap semua elemen pemuda lintas agama.

"Semua pemuda lintas agama kita ajak untuk membaca ikrar kebangsaan. Kita juga sepakat untuk berketetapan yang sama yaitu berpayung dalam Bhineka Tunggal Ika dan berlandaskan Pancasila sebagai dasar ideologi Bangsa," kata Rukin.

Rukin juga mengatakan, siapapun yang memimpin doanya baik itu muslim atau non muslim, harapannya sama yaitu tercipta sebuah kerukunan antar sesama manusia.

"Apapun bahasanya, apapun warna kulitnya, apapun agama dan sukunya, kita tetap satu, yakni Indonesia," ucapnya.

Selain membaca teks Sumpah Pemuda secara bersama-sama, kegiatan tersebut juga diisi dengan orasi kebangsaan dari masing-masing agama.

 

Nanang, penulis adalah Gusdurian Blitar.