Kamis, 20 Juni 2019

RASA PERJUMPAAN DALAM KERAGAMAN

Sabtu, 13 Februari 2016
diunggah oleh : Mohammad Mahpur
Haul ke-6 KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat RI yang sering didaulat sebagai Bapak pluralisme Indonesia, yang rutin diselenggarakan oleh berbagai komponen anak bangsa, khususnya representasi Gusdurian, kali ini untuk wilayah kerja Gusdurian Malang diselenggarakan di Batu. Terkesan agak berbeda memang, biasanya Gusdurian Malang, yang wilayah kerjanya lebih banyak difokuskan di Malang, Haul Gus Dur selalu diselenggarakan di Kota Malang. Mengapa kali ini ada di Batu ? “Kami ingin mendorong dan mendukung kawan-kawan aktivis Gusdurian yang tersebar juga di Kabupaten Malang dan Kota Batu untuk semakin dinamis dalam mentransformasi masyarakat mengenal pluralisme dan penghargaan pada perbedaan,” ungkap Moh. Fauzan sebagai Koordinator Garuda (Gerakan Gusdurian Muda malang).

 

Bahkan, agak aneh barangkali untuk sebagian dari pegiat Gusdurian Malang. Haul yang dilaksanakan pada Minggu, 17 Januari 2016 ditempatkan di Hall Pancasila Block Office Pemkot Batu yang masih baru. Ibaratnya, Gusdurian berkesempatan nganyari gedung Pemkot Batu. Apakah tidak bahaya, Gusdurian mepet-mepet kekuasaan ? Ya, merapat ke Batu dalam rangka merangsang dan ingin mengumpulkan simpul orang-orang atau komunitas yang ada di Batu sebagai perluasan Gusdurian. Syahdan, simpul itu berkumpul dari berbagai komunitas kesenian yang beraneka kreasi. Selain itu, simpul itu juga dihadiri oleh istri Wali Kota Batu, Dewanti. Panitia hanya khusus mengundang secara tertulis pada simpul perwakilan lintas agama di Batu untuk mewakili doa bersama lintas iman. Selebihnya, panitia mengundang siapapun untuk hadir atas-nama kecintaan pada perdamaian di Malang Raya, termasuk Dewanti.

Dalam arti, kami bukan berarti tidak menghargai pemimpin nomer satu di Batu. Kami mengundang semua orang dalam nilai kesetaraan. Kami menyebar informasi, dari mulut ke mulut dan dari berbagai fasilitasi media sosial. Siapapun boleh hadir dalam haul karena prinsip kesetaraan menjadikan pijakan bahwa haul Gus Dur terbuka untuk orang-orang yang berupaya menghargai jejak-jejak Guru Bangsa dan Bapak pluralisme Indonesia. Tidak ada penghargaan yang dilebih-lebihkan, semua berkomunikasi dan hadir dalam niat mengenang dan berdoa untuk Gus Dur sekaligus merajut kebersamanaan dalam persaudaraan antar-sesama anak bangsa. Bahkan, presidium Gusdurian Jatim, Kristianto Budiprabowo, menolak proses protokoler dan aneka penertiban formal ala penyambutan pejabat selevel orang nomer satu di Kota Batu. Panitia ingin kesederhanaan dan apa adanya. 

Tetapi bagi Lili Sugiyanto Lie, yang juga aktifis perempuan Batu, dan sekaligus sosok yang memediasi Haul Gusdurian di Batu, penempatan Haul di Block Office Kota Batu adalah dukungan yang positif dan wujud kepedulian terhadap penyelenggaran Haul Gusdurian. Selain itu merupakan kesempatan untuk membuka kran mengembangkan Gusdurian Batu. Mengenai kehadiran Dewanti, Istri Wali Kota Batu, Edi Rumpoko, “kehadirannya tidak lebih sebagai bentuk kepedulian seperti pada umumnya. Meski saya aktif di Parpol, tidak terlintas sedikitpun untuk seret Gusdurian ke politik. Saya tahu batasan itu.”

Lili Sugiyanto Lie yang juga seorang pecinta Gus Dur, kembali menegaskan terhadap kekhawatiran persinggungan Gusdurian dengan friksi politisasi, “sebagai tuan rumah, karena yang usul awak, layak kiranya saya ingin menyambut tamu dengan baik, sak isone, nodong-nodong (sebisanya, menghubungi orang-orang) pihak yang mau mendukung acara. Saya hanya ingin haul sukses dan punya makna lebih.” Kesan yang kemudian turut dimaknai oleh Lili Sugiyanto Lie, “konco-konco Batu terkesan banget. Gusdurian Batu harus ada. Ini mulai dibangun, positif kan ?” “Tetapi event selalu ada kesan baik dan kritik, bahkan cacian. Lumrah dan harus ada sebagai batu loncatan maju. Saya pribadi mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dan salah,” begitu klarifikasi yang disampaikan selaku tuan rumah Haul ke-6 Gus Dur di Batu. Sembari menutup netralitas dengan menirukan logat Gus Dur di group WA Gusdurian Malang, “gitu aja kok repot.” “Aku cinta Gus Dur. Aku cinta Gusdurian, maka Aku peduli,” begitu pungkas pesan akhir di group WA.

Rikuh dan sak-wasangka yang demikian melahirkan proses pematangan terhadap transformasi perdamaian di Malang Raya. Kejadian ini melahirkan bangunan sikap menuju kedewasaan dan kematangan politik bagi Gusdurian. Kita tidak menolak keterlibatan semua orang terhadap kepentingan mengembangkan transformasi perdamaian. “Apapun kondisinya, kerja perdamaian tetap harus berjalan dan tidak bisa dihentikan, sebuah penegasan yang disampaikan Fauzan,” seorang sarjana kimia dari lulusan UIN Maliki Malang. Sikap ini menunjukkan keterlibatan pejabat pemerintah, sejauh tidak terindikasi mengambil manfaat secara politik atas kehadirannya, Gusdurian tetap menghargai partisipasinya sebagai bagian dari nilai-nilai kesetaraan (nilai ke-4) dan tentu kesederhanaan (nilai ke-6) dan persaudaraan (nilai ke-7). Semua partisipasi bukan bersifat transaksional, apalagi transaksi jasa politik. Semua dibebaskan dari kepentingan sepihak dalam rangka untuk menyamakan kehadiran haul untuk mengikat kedalam nilai-nilai perjuangan Gusdurian untuk kebaikan bangsa ini.

Sudut pandang demikian melahirkan kedewasaan kepentingan nilai sebagai perilaku berkomunikasi dengan orang lain. Ketika nilai itu masih bisa dikedepankan sebagai cara berkomunikasi, teman-teman Gusdurian Malang tetap memberikan apresiasi dalam batas hubungan persaudaraan. Memang rumit ketika berhubungan dengan pejabat. Kadang, relasinya berjalan sub-ordinat dan paternalistik. Hubungan itu menjadikan masyarakat terjebak menjadi pelayan terhadap tuan, atau penghamba tuan hingga sampai pada formalisme protokoler. Para pekerja Gusdurian Malang telah melawan itu dengan basis nilai persaudaraan. Penghormatan terhadap pejabat ditempatkan sebagai penghargaan persaudaraan dengan kesederhanaan. Gusdurian tidak mengada-adakan, pun juga tidak merendahkan. Semua ingin berkumpul demi tujuan kepedulian untuk bersama-sama beraktifitas dan berkonstribusi meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan. Sudut pandang seperti inilah, kekhawatiran terhadap protokoler Ibu Wali ditepis untuk menyatu pada wilayah persaudaraan, kesederhanaan dan tanpa perlu dicurigai dalam persepsi kealpaan. Suatu kekhawatiran karena standar pelayanan tidak memberikan keamanan terhadap pejabat yang hadir.

Melalui nilai persaudaraan dan partisipasi, apresiasi nilai Gusdurian dengan demikian terletak pada nilai kehadiran untuk berkonstribusi terhadap haul. Semua saling menghargai untuk menghidupkan spirit kemanusiaan. Semua kemudian terpusat pada memaksimalkan keindahan dalam berbagai pertunjukkan haul, yang tidak semata memperingati kemangkatan KH. Abdurrahman Wahid, tetapi saling mengapresiasi ekspresi perdamaian melalui beragam sudut pandang. Kami belajar keragaman, bukan kepatuhan dan penunggalan kekuatan. Inilah yang bisa penulis garis bawahi dalam menjalin relasi Gusdurian dengan para pejabat pemerintah, termasuk politisi sehingga hubungan yang ada tidak terlalu dimaknai kedalam kepentingan politik, tetapi dalam kepentingan nilai perjuangan Gus Dur. Ada nilai komunikasi politik tetapi tidak mau terseret dalam kepentingan politik. Kalaupun toh ada yang memanfaatkan, itu adalah soal kepentingan yang mengambil manfaat tetapi Gusdurian tetap berada dalam jalur nilai guna memperkuat bentuk-bentuk resistensi terhadap kepentingan politik melalui basis nilai.

Perdamaian mensyaratkan ekspresi keindahan

Haul ini istimewa. Para aktifis Gusdurian Malang, utamanya yang sering berkumpul untuk berbagai kegiatan, 9 nilai dasar perjuangan Gus Dur menjadi lebih hit semenjak kegiatan Gusdurian Rising mengangkat tema 9 nilai sebagai bahan belajar Bahasa Inggris mingguan. Bahkan Charllote Blackburn, fasilitator Bahasa Inggris dari US, hafal betul sembilan nilai tersebut di luar kepala. Berkat jasa dia, sembilan nilai itu pada akhirnya divisualisasi dalam desain grafis untuk t-shirt berbahasa Inggris dengan simbol 9. Sejak Gusdurian Rising mengangkat tema sembilan nilai, proses ini merangsang aktifis kunci Gusdurian Malang seringkali ceplas-ceplos mengaitkan satu dari sembilan nilai untuk memaknai guyonan, dinamika kritis saat berkumpul atau menyikapi isu terkini yang tiba-tiba muncul membutuhkan tanggapan kami. Mendadak si Charlote, nlyetuk sembari mengangkat telunjuk jari dengan gestur khas dan kata-kata istimewa orang Amerika yang melafalkan bahasa Indonesia, “ini terkait dengan nilai ke kesederhanaan. Nomer 6.” Joke Charlote memberikan sentilan pada kami untuk dikembalikan pada sembilan nilai-nilai. Di sini sembilan nilai seperti berkesinambungan dengan laku-laku para aktifis teras Gusdurian Malang.

Kesederhanaan ini juga menjadi semangat Charlote dalam menyiapkan acara. Dia seorang Amerika yang rela menyapu hall karena lantainya kotor. Mondar-mandir menyiapkan haul untuk semua orang yang datang. Para panitia bekerja bersama tanpa pamrih. Ini dijadikan sebagai laku yang disebut kesederhanaan. Makna kesederhanaan juga diinternalisasi Muiz sebagai keteladanan dari perilaku Gus Dur yang sejak kecil hidup di pesantren dan masa mudanya terlatih dengan zuhud sebagai cerminan kesederhanaan. Bagi Muiz, sederhana juga berarti setara, “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi,” tidak membedakan meskipun jabatan politik (Presiden) menjadi identitas baru Gus Dur. Di situlah keteladanan diinternalisasi Muiz sebagai semangat yang melandasi pengelolaan kepanitian haul saat ini. Kesederhanaan ini berimbas pada kemampuan saling berkomunikasi dalam apresiasi multikultural melalui perjumpaan pertunjukan seni-budaya pada haul. Aneka tarian seperti tari topeng, tari beskalang lanang, pertunjukan wayan plastik, nyanyian lintas budaya adalah nilai, menurut Muiz adalah bagian dari komunikasi multikultural berbalut sebagai wujud persaudaraan anak bangsa Indonesia.

Kesederhanaan ini mengikat semangat suka cita dan damai dalam mengemas acara haul. Ukuran nilai mendorong penyiapan haul bebas dari kerumitan. Panitia tidak perlu ada SK. Semua bergerak untuk mengenang Gus Dur. Semua bergerak secara sukarela. Termasuk dana dan kebutuhan lain. Semua tidak dicari tetapi diundang secara sukarela. Nilai ini yang dikatakan oleh Viki Maulana yang turut aktif menyiapkan acara, sebagai pengikat pengemasan haul Gus Dur. Katanya, melalui semangat ini semua kalangan dari berbagai latar belakang agama, suku, jabatan berjumpa untuk saling menghormati, manusia yang saling mengayomi. Internalisasi Viki diambil dari pembuktian bahwa kehadiran semua orang dengan keragaman ini memberikan arti cinta damai dan Gusdurian adalah para aktifis yang benci kekerasan, diskriminasi atau pengotak-kotakan atas perbedaan. Bagi Viki, sembilan nilai dasar Gus Dur terwakili senyata nyata dan menjadi pengalaman yang dekat pada saat haul Gus Dur ke-6. Sebagai aktifis yang baru terlibat aktif tahun ini, internalisasi nilai dasar Gus Dur menjadi apresiasi kilat, apalagi dia pun terlibat dalam pentas menyani syiir tanpo wathon, gubahan gus Nidhom yang sangat dekat seperti layaknya lagu yang dinyanyikan Almarhum Gus Dur yang ditampilkan berkolaborasi dengan tarian sufi. Makna ini juga tersampai dari suara batin Fauzan, kordinator Gerakan Muda Gusdurian Malang, “mengelola dengan bijak keragaman perbedaan yang ada di masyarakat dapat dilakukan melalui apresiasi terhadap perbedaan ekspresi seni yang amat kaya terdapat dalam tradisi budaya bangsa kita.”

Haul ke-6 menyuguhkan sebuah praktik perdamaian. Praktik yang dirasakan sebagai pijakan tanpa pengotak-kotakan ini tidak hanya dirasakan Viki ataupun Charlote. Alumni Kelas Pemikiran Gus Durpun, Miftahu Ainin Jariyah, merasakan aneka perjumpaan perbedaan ini serasa bergitu nyata, dan dekat, tetapi serasa adil dan setara, tidak saling bertentangan. Sebagaimana dikatakannya Ainin,

“saya sedang hidup berdampingan dengan manusia-manusia yang beragam jenisnya, namun masing-masing dari kami tetap teguh pada apa yang kita percayai dan kami setara, kami saudara, kami sama-sama manusia dan harus memperlakukan sesama secara manusiawi, kami harus adil dan memperjuangkan adanya keadilan dan juga pembebasan, kami berusaha bersikap kesatria, dan kami menjunjung kearifan lokal. Indah. Sungguh indah.”

Keragaman menjadi indah dirasakan oleh Ainin. Ainin memaknai haul seperti ini berbeda dari haul yang bercorak ritual sebagaimana biasanya dan diwarnai oleh acara keagamaan orang muslim. Ia merasakan dekat dengan orang-orang yang berbeda-beda, bukan saling mengalienasi (menyingkirkan). Rasa dekat dengan perbedaan melahirkan sikap damai dan dapat menghayati kemanusiaan secara seimbang, berkesetaraan, berkeadilan. Suara batin ini dipengaruhi oleh beragam pertunjukkan yang berbalut aneka kesenian tradisi se-Malang Raya. penampilan seni pertunjukkan menjadikan perbedaan semakin indah meskipun seni yang ditampilkan ada yang berlatar-belakang seni religi. Keindahan yang diekspresikan melalui aneka gerak tari dan nyanyian menjadikan perbedaan tidak lagi dilihat dari pembedanya, tetapi dimaknai dari unjuk ekspresi keindahan yang dapat dinikmati sebagai representasi kisah-kisah yang beraneka ragam. Bahkan aspek-aspek humor yang ditunjukkan melalui ekspresi seni menjadi peredam, bahkan peluntur perbedaan tanpa kehilangan dialog kritis dalam menghadapi realitas.

Dari sini dapat diambil senarai bahwa perbedaan sebagai realitas dapat dialami menjadi lebih sempurna ketika realitas estetis mampu diproduksi dalam beragam perbedaan. Promosi perdamaian dengan demikian memang membutuhkan penampilan ekspresif keindahan, bukan kebencian atau ekspresi antagonistik dengan semangat negatifitas perbedaan. Perasaan ini dapat dirasakan Pdt. Wawuk Kristian Wijaya, yang bertugas di Jemaat GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) Donomulyo, Kabupaten Malang,

“Saya seperti dikembalikan ke rumah saya, rumah kebersamaan, tempat komunitas yang membuat hati tenang. Karena dalam acara kemarin kita yang beragam dapat saling mendoakan, saling mempercayai, saling menjunjung tinggi, dan tidak ada prasangka sama sekali karena dipersatukan oleh kasih dan kebersamaan yang diteladankan Gus Dur.

Berikutnya, rasanya sangat nyaman sekali merayakan Haul Gus Dur dengan diisi oleh kesenian yang disajikan dengan acara yang santai seperti dengan penampilan wayang Cak Jumali.”

Kesiapan berdamai dengan orang lain membutuhkan tindakan pro-kreasi keindahan. Semakin ditunjukkan aneka keindahan dalam berbagai dimensi, setiap orang akan semakin bisa mengalami sudut pandang orang lain dan menerima eksistensi di luar dirinya sebagai bagian yang ada. Melalui ekspresi estetik, perbedaan tidak lagi dirasakan sebagai prasangka, namun diterima sebagai diversitas kreatif mewujudkan cinta dan kebersamaan untuk merawat dan menciptakan perdamaian aktif.

Pijakan ini juga dibangun Gusdurian Malang bahwa bahasa seni dijadikan media merasakan dan mengonstruksi pengalaman damai yang bisa melampaui perbedaan hak-hak beriman. Pertunjukan Syi’ir Tanpo Wathon yang dimodifikasi bersama lagu stranger, dan tarian sufi serta diaransemen dengan musik yang tradisional-modern adalah mata rantai bahasa universal yang mewadahi perdamaian yang dinyanyikan, dimainkan musiknya dan ditarikan dari aneka latar belakang anggota yang berbeda iman. Syiir tanpo wathon menjadi bahasa universitas perdamaian. Praktik ini telah memberikan perdamaian menjadi kreasi keindahan yang produktif.

Pengalaman istimewa yang dijadikan sebagai icon seni religius-kontemporer Gusdurian Malang sudah dipentaskan dua kali di haul. Berpijak dari pengalaman kedua, nampak bahasa seni sebagai bahasa universal dapat dijadikan sebagai pilihan tematik mempromosikan perdamaian. Penulis kemudian mendorong agar promosi perdamaian tahun 2016 dapat dikembangkan menggunakan praktik Seni Budaya sebagai pilihan aksinya, khusus sebagai episode promosi perdamaian Malang Raya. 

 

Oleh Mohammad Mahpur

(Salah satu inisiator Gusdurian Malang)