Rabu, 26 Juni 2019

RUH GUS DUR KEMBALI HADIR DI SALATIGA

Kamis, 18 Februari 2016
Rabu malam (17/2) Pondok Pesantren Edi Mancoro yang terletak di desa Gedangan Kab. Semarang mengadakan Haul Gus Dur sekaligus Deklarasi Gusdurian kota Salatiga serta Kab. Semarang. Acara ini dihadiri langsung oleh Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian, Alissa Wahid. Acara yang mengusung tema “Membumikan Sembilan Seruan dan Ajaran Gus Dur untuk Membangun Indonesia Multikultur dan Plural” tersebut juga dihadiri oleh tokoh lintas agama dan kepercayaan. Muhammad Hanif, selaku panitia dan pengasuh Pondok Pesantren Edi Mancoro mengatakan, proses acara haul Gus Dur dan deklarasi GUSDURian dimulai sejak tadi siang, yaitu sarasehan bersama teman-teman SOBAT yang terdiri dari berbagai elemen tokoh agama.

 

"Selain deklarasi adalah menjalin tali silaturrahmi antara kita semua. Tidak hanya dari kalangan muslim, tetapi juga lintas agama dan kepercayaan, untuk menambah kebersamaan kita sebagaimana ajaran 9 seruan KH. Abdurrahman Wahid”. Ujar Muhammad Hanif

Alissa Wahid, dalam deklarasinya mengatakan, Jaringan GUSDURian adalah jaringan murid-murid Gus Dur bukan untuk memuja dan memuji Gus Dur tetapi meneruskan perjuangan dan mengambil nilai-nilai Gus Dur.

“Jaringan GUSDURian saat ini terdiri dari berbagai kota, bahkan ada di luar negeri. Dan malam hari ini kita menyambut kehadiran temen-temen Salatiga bahwa GUSDURian Salatiga adalah resmi bagian dari Jaringan GUSDURian Indonesia.”Tambah Alissa.  

Suasana Haul Gus Dur dan Deklarasi GUSDURian kota Salatiga serta kab. Semarang berlangsung meriah dan khidmat. Ketika acara berlangsung, ada pembacaan tahlil oleh KH. Sonwasi Ridwan, sesepuh Salatiga.

“Bagi keluarga Ciganjur,  Tahlil untuk Gus Dur itu nilainya jauh lebih besar daripada gelar pahlawan nasional. Karena itu bisa untuk bekal akherat”.Ujar Alissa.

Alissa Wahid menambahkan, ada beberapa sembilan nilai utama Gus Dur, kalau melihat Gus Dur yang warna-warni, mulai dari membela Inul, membela Dorce, sampai mengembalikan nama Papua kepada rakyat Papua.

Dari sembilan nilai-nilai itu prinsipnya ada pada spiritualitas, karena Gus Dur sebagai seorang muslim, yang harus membela kemanusiaan, serta berprinsip pada keadilan, kesetaraan, pembebasan dari penindasan, maka tidak bisa memanusiakan manusia kalau masih menindas orang lain. Selanjutnya, prsaudaraan, kesederhanaan, kesatriaan membela yang lemah, dan kearifan tradisi.

“Ini yg dilihat dari seorang Gus Dur. Maka, saya menolak kalau Gus Dur membela minoritas. Yang diperjuangkan Gus Dur adalah keadilan. Bukan soal mayoritas minoritas. Bukan soal Tionghoa. Tetapi keadilan. Kami berharap ketika teman-teman Gusdurian berjuang kembali pada nilai-nilai ini.”terang Alissa.