Jumat, 21 Juni 2019

DISKUSI GUSDURIAN MAKASSAR: SAAT TOLERANSI UMAT BERAGAMA SEMAKIN MEMUDAR

Selasa, 20 Oktober 2015
diunggah oleh : Haedar
Dalam acara diskusi mingguan yang digelar oleh Jaringan GUSDURian Makassar bekerja sama dengan Lembaga Advokasi Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel, pada Senin (20/10), selain dihadiri puluhan kader-kader GUSDURian Makassar juga dihadiri beberapa elemen organisasi kemahasiswaan, seperti PMII, HMI, Aktivis Organda dan beberapa akademisi serta aktivis LSM. Diskusi yang bertemakan "Saat Toleransi Umat Beragama Semakin Memudar" ini mengahadirkan Dr. Syafiq Hasyim sebagai narasumber. Dalam pengatar diskusinya, Syafiq Hasyim mengatakan bahwa fenomena intoleransi antar umat beragama terjadi tidak hanya dipengaruhi oleh persoalan ideologi, tapi juga konteks dan stuasi perkembangan ekonomi- politik pasca reformasi bergulir di bangsa ini.

 

"Dulunya kelompok-kelompok ekstrim tidak berani muncul ke permukaan, tapi pas kran kebebasan dibuka pasca orde baru, kelompok-kelompok ini pun bermunculan," ujar alumni Universitas Freie Berlin, Jerman ini.

Demikian juga, lanjut Syafiq pola konflik yang terjadi di Indonesia banyak dipicu oleh persoalan ekonomi-politik, sperti yang pernah terjadi di Sampang, Madura yang kemudian mengkerucut menjadi konflik yang mengatasnamakan setimen paham keagamaan, padahal pemicunya adalah urusan pribadi yang terkait masalah persoalan warisan. 

Fenomena itu semakin menemu ruang saat civic virtue tidak kuat. Sehingga konflik pun tidak terhidarkan. Sementara ormas-ormas yang berpaham moderat hanya menjadi silent Majority, padahal yang sejatinya yang harus mereka lakaukan adalah menjadi mayoritas yang aktif. "Yang dimaksud dengan mayoritas yang aktif dalah tidak mebiarkan praktik intoleransi menguasai ruang publik, sebab ia akan mengangu keberadaan kelompok-kelompok lain," ujar intelektual muda NU ini. 

Persoalan itu menjadi penting untuk direfreleksikan sebab ruang publik bukanlah arena tunggal, sehingga kelompok yang sering memaksakan kehendak dan berkeinan untuk menuggalkan dan mengusai ruang publik akan mencederai keanekaragaman yang ada di ruang publik. "Olehnya itu, sebagai kelompok mayoritas, kita memang harus aktif, karena kalau tidak kelompok-kelompok yang anti demokrasi akan menguasai ruang publik kita, dan tentunya, kita juga yang nantinya akan dirugikan." Tutup alumni IAIN Syraif Hidayatullah ini