Jumat, 20 September 2019

SYARIKAT INDONESIA SERUKAN REKONSILISASI NASIONAL UNTUK KEADABAN BANGSA INDONESIA

Senin, 23 Mei 2016
Syarikat Nasional Indonesia menyerukan rekonsiliasi nasional untuk keadaban bangsa. Berikut ini pernyataan dari Syarikat Nasional Indonesia

 

Rekonsilisasi Nasional untuk Keadaban Bangsa Indonesia

(Press Release Syarikat Indonesia berkaitan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2016)

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا(١٧) وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (١٨)

 

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(17)

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang". Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.18)

(Al-Qur’an, An-Nisa 17-18)

 

Kebangsaan Republik Indonesia sedang diuji. Posisi geografis dan geopolitik Republik Indonesia adalah rahmat dan barokah dari Allah SWT. Namun jika salah kelola akan berubah menjadi kutukan.

Sumber-sumber agraria melimpah, budaya dan bahasa yang berbeda satu sama lain, serta keragaman kehidupan sosial masyarakatnya merupakan wujud berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa. Didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan, semuanya menyatu dan tersatukan di dalam cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Pancasila 1 Juni 1945 mewadahi semua cita-cita bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Dengan demikian Pancasila bukan milik satu golongan yang tafsirnya diperebutkan. Pancasila juga bukanlah alat untuk menghancurkan kelompok lain. Pancasila justru menjadi alat untuk mempersatukan seluruh elemen masyarakat dalam bingkai kebangsaan Indonesia. Pancasila adalah Philosfischegrondslag (dasar filosofi) bagi segenap bangsa Indonesia dengan seluruh kepulauannya, menyatukan dua benua dan dua samudera sebagaimana cita-cita kebangsaan Republik Indonesia.

Sayangnya cita-cita yang luhur dan mulia itu terabaikan oleh perilaku-perilaku yang menafikan nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban pada tahun 1965-1966. Perilaku tersebut pada dasarnya akibat dari pada bujuk rayu kekuatan ekonomi global, yang sangat kuatir dengan cita-cita luhur untuk mewujudkan masyarakat gotong royong yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Ironisnya hingga saat ini perilaku tersebut dinarasikan sebagai konflik horizontal antar masyarakat. Sementara pada sisi lain penyelenggara Negara saat itu tidak mampu menghadapi gempuran bujuk rayu kekuatan ekonomi global. Berdasarkan catatan-catatan sejarah selanjutnya yang berlangsung adalah tindakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) pada tahun-tahun berikutnya 1968-1969, kemudian disusul tahun 1971-1973, dan seterusnya.

Sangat disayangkan bila saat ini sebagian dari kita masih membanggakan perilaku-perilaku tidak berperikemanusiaan sebagai narasi kepahlawanan. Narasi yang secara sadar dibangun untuk, pada satu sisi menutup rapat-rapat latar belakang terjadinya perilaku yang menafikan nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban, pada sisi lain melupakan terjadinya peristiwa tersebut. Oleh sebab itu perilaku yang menafikan nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban yang terjadi di masa silam itu harus segera dibuka dan diselesaikan. Tak boleh kita lupa bahwa yang menjadi korban tidak saja masyarakat yang terlibat pada tahun-tahun tersebut, melainkan juga generasi muda. Kenyataan ini akibat dari ketidakjelasan atas narasi sejarah yang dipaksakan dimana kemudian meninggalkan luka yang masih bisa dirasakan sampai sekarang.

Bahkan cita-cita kebangsaan republik yang menjadikan Pancasila sebagai Philosfischegrondslag bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara juga menjadi korban. Pancasila telah ditafsir secara tunggal berubah menjadi sebilah pedang tajam oleh apparatus kekerasan Negara yang sewaktu-waktu bisa mempersekusi dan mengeksekusi kelompok lain. Sampai di sini kita bisa katakan bahwa tindakan kekerasan oleh apparatus kekerasan Negara yang mengatasnamakan ideologi negara masuk dalam kategori pelanggaran HAM berat selama Orde Baru. Oleh sebab itu perilaku yang terjadi pada masa silam tersebut harus kita selesaikan, dan membangun komitmen tidak boleh berulang untuk Indonesia yang berkemanusiaan dan berkeadaban.

Syarikat Indonesia meyakini Pancasila akan menjamin perlindungan atas lima prinsip universal (kulliyat al khams) dalam kehidupan bermasyarakat: 1) hifdz al-din adalah jaminan umat manusia untuk menjaga dan memelihara keyakinannya.2) hifdz al-nafs wal ‘irdl, memberikan jaminan atas hak setiap jiwa manusia untuk tumbuh dan berkembang secara layak. 3) hifdz al ‘aql adalah suatu jaminan atas kebebasan beropini, mimbar akademik, dan melakukan aktifitas ilmiah.4) hifdz al-nasl adalah jaminan atas masa depan keturunan dan generasi penerus yang lebih baik dan berkualitas. 5) dan hifdz al-mal memberikan jaminan atas kepemilikan harta benda dan sebagainya.

Oleh karena itu langkah pertama yang harus dibangun adalah niat yang tulus dan ikhlas untuk menyatakan maaf atas perilaku yang menafikan nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban yang menjadi amanat para muassis (pendiri) Republik tercinta. Dari sini kita melangkah pada rekonsiliasi nasional yang melibatkan semesta anak bangsa. Setidaknya Nahdlatul Ulama (NU) telah menyatakan pentingnya melakukan rekonsiliasi nasional.

Masalah rekonsiliasi terkait dengan luka-luka masa silam harus disembuhkan untuk menatap masa depan nasional yang lebih baik. Penyelesaian HAM berat masa lalu merupakan prasyarat bagi berlangsungnya rekonsiliasi nasional. Unsur penting dalam rekonsialiasi nasional adalah semangat persatuan dan saling memaafkan dalam koridor trilogi ukhuwwah yaitu: ukhuwaah islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwaah wathaniyyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwwah insaniyyah (persaudaraan sesama umat manusia) (Hasil-hasil Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama, 2015:376)”.

Dengan adanya Rekonsiliasi Nasional kita dapat meneguhkan adanya Kebangkitan Nasional kembali. Kita sadar, rasa kebangsaan kita sedang diuji dalam menghadapi gempuran hebat dari berbagai kekuatan ekonomi dunia. Berangkat dari pemikiran yang mendalam di atas, maka Syarikat Indonesia berseru pada semua pihak untuk:

  1. Menyatakan bahwa Pancasila 1 Juni merupakan filsafat dasar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara yang ujung cita-citanya adalah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Generasi Bangsa Indonesia hari ini sudah seharusnya memutus mata rantai nilai dan tradisi kekerasan politik dan politik kekerasan yang telah terwariskan.

  2. Mendesak pada penyelenggara Negara untuk memfasilitasi rekonsiliasi nasional guna menyelesaikan berbagai pelanggaran HAM berat di masa silam

  3. Mengajak semua komponen bangsa berpikir jernih dengan hati yang ikhlas untuk  bersama membangkitkan kembali cita-cita bersama Pancasila terbangunnya sebuah negeri yang baldatun thoyyibatun warabbun ghofur,  gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo adil, makmur dan beradab.

Dengan tiga seruan di atas, Syarikat Indonesia berharap tanggal 20 Mei tidak semata menjadi ritus tahunan, melainkan menjadi momentum untuk bangkitnya kembali cita-cita kebangsaan kita sebagaimana amanat para para Pendiri Republik Indonesia.


 

Yogyakarta, 19 Mei 2016


Syarikat Indonesia