Senin, 19 November 2018
bergabung : 07 Januari 2014
1 total post di sarasehan
post di

AGAMA, BIANG KASUS INTOLERANSI & DISKRIMINASI? (Dari Dialog Pluralisme Gusdurian Semarang untuk Rohingya)

Menarik dialog Pluralisme dalam Kuliah Umum bertajuk “Indonesia Adalah Bhineka”pada Minggu 14/6 siang hari. Acara sebagai penutup Kelas Pemikiran Gusdur (KPG) yang dihelat di FIB UNDIP Semarang sontak mengundang banyak pertanyaan. Diskusi yang dihadiri Alisa wahid (Seknas Gusdurian), Lucas Alwi (Pemuka Agama Katolik), dan Bhiku Damaminto (Vihara Tanah Putih) menarik untuk ditanggapi karena mengangkat  tema pluralisme.

Secara harfiah, Puralisme berasal dari kata Plural yang berarti beragam, dan isme yang berarti paham. Secara  istilah pluralisme diartikan sebagai paham atau pandangan hidup yang mengakui dan menerima adanya “kemajemukan” atau “keanekaragaman” dalam suatu kelompok masyarakat. Kemajemukan dimaksud terlihat dari segi agama, suku, ras, etnis, dan sebagainya.

Dalam konteks Indonesia, kemajemukan ras terlihat pada menetapnya ras Asiatic Mongoloid sebagai ras terbesar Asia, juga ras khusus yang mendiami daerah perbatasan. Termasuk Pluralisme suku yang tak terhitung , dan agama dengan berbagai klasifikasinya. Konsekuensi dari majemuk dalam kehidupan akan muncul konflik, baik vertical maupun konflik horizontal, baik berwujud sikap Intoleransi bahkan diskriminasi kelompok.

Dicontohkan, konflik vertical semisal antara pemerintah dengan rakyat yang popular disebut konflik politik. Sementara konflik horizontal merujuk pada pertentangan antar kelompok dengan latar belakang yang beragam.

Namun, melihat perkembangannya, kerap setiap kasus intoleransi bahkan diskriminasi dengan aneka ragam latar belakang itu bermuara pada konflik agama. Seolah agama yang paling ‘wajib’ bertanggungjawab atas setiap konflik muncul, bukan tanggungjawab Negara. Ini kerap terjadi pada skala Nasional bahkan Internasional termasuk issu Rohingnya.

Rohingya, benarkah konflik Agama?

Pengusiran etnis Rohingya yang beragama Islam dari Myanmar adalah sebagian amsal diskriminasi yang konon dipandegani Ashin Wirathu, biku Buddha radikal asal Myanmar. Benarkan ini konflik bermuatan agama?.

Salah satu sumber menyebutkan, Etnis Rohingya adalah pedagang Arab yang mendiami wilayah Rokhine di perbatasan Birma (sekarang Myanmar) dan Bangladesh. Sejak kedatangannya pada abad 7 nyaris tidak terjadi konflik. Baru pada 1785, kerajaan Birma mengadakan invansi militer dan menguasai Rakhine. Sayangnya, etnis Rohingya tidak diakui.

Keadaan berubah saat Kolonialisasi Inggris di Birma pada 1826 yang justru memindahkan etnis Rohingya ke Birma untuk membantu peningkatan pangan karena Birma memiliki potensi pertanian yang unggul. Namun, nasib etnis Rohingya kembali dipertaruhkan setelah Birma dikuasai Jepang  ketika Jenderal Ne Win melakukan kudeta pada 1962, sehingga muncullah operasi militer terhadap etnis Rohingya, salah satu operasi yang paling terkenal adalah "Operasi Raja Naga" pada 1978, akibatnya 200.000 etnis Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

Keadaan etnis Rohingya tidak juga membaik, Pemerintah Junta Militer Myanmar pun masih melakukan diskriminasi terhadap etnis Rohingya sehingga pecah kerusuhan besar pada 2012 dan 2014.

Puncaknya pada 2015, Pemerintah Myanmar mencabut status kewarganegaraan etnis Rohingya, sehingga mereka tidak punya kewarganegaraan lagi. Inilah yang menyebabkan mereka mengungsi keluar dari Myanmar karena tidak punya status kewarganegaraan lagi dan perlakuan diskriminasi yang ditujukan kepada mereka.

Menyimak nasib etnis Rohingya sejak kedatangannya di Myanmar hingga 2015 ini tampak murni dipengaruhi kebijakan antara Kerajaan Birma saat awal kedatangannya, Kolonialisasi Inggris, Penguasaan Jepang, dan Kebijakan Pemerintah Bangladesh. Sehingga aneh ketika tiba-tiba konflik kemanusiaan ini ditarik pada masalah ideology keagamaan. Seolah agama menjadi yang paling bertanggungjawab atas setiap kasus Intoleransi, diskriminasi, bahkan kasus kemanusiaan lainnya. Lantas, siapa yang menyeret konflik yang sesungguhnya berada pada ranah pilitik menuju ruang agama?.

Sis Maula

Peserta KPG di UNDIP Semarang

bergabung : 18 Januari 2016
2 total komentar di sarasehan
komentar di
Komentar ini merupakan balasan dari komentar Firman
bang gue mau dong.. 1 golongan gajinya gede , tanpa uang sepeser pun yg keluar hwahaha...

KOMENTAR ANDA

bergabung : 18 Januari 2016
2 total komentar di sarasehan
komentar di
makan nasi sepiring disana rasanya gimana ya ,kalo gk punya kewarganegaraan.. kan bukan beras miliknya

KOMENTAR ANDA

Firman

Depok
bergabung : 08 Januari 2016
5 total komentar di sarasehan
komentar di
Ya itu resikonya jika kita masih menganut paham "agama adalah golongan",, timbulnya menganggap agama /golongan ini golongan itu golongan sesat,,,,hahaha,, saya golongan satu aje deh,,enak gajinye gede,, hahahahhaa

KOMENTAR ANDA