Minggu, 21 Oktober 2018

MAYA: SAYA KATHOLIK DI TENGAH KELUARGA MUSLIM YANG TAAT

Saya ingin bercerita mengenai pengalaman tentang toleransi seorang Katholik yang hidup di tengah Muslim yang taat. Dalam acara Temu Nasional (Tunas) yang diadakan oleh Jaringan Gusdurian Indonesia (10-12 Agustus) kemarin, saya berkesempatan untuk mengikuti salah satu forum komisi yang fokus membahas isu toleransi.

Kata toleransi sendiri berasal dari bahasa latin “tolerare” yang berarti menanggung/menampung. Jika dikontekskan dengan penggunaan pada saat ini cenderung bersifat menanggung/menampung/mengakomodir segala perbedaan yang ada tanpa adanya paksaan untuk menyeragamkan.

Dalam forum tersebut, perhatian saya tertuju pada sebuah cerita yang disampaikan oleh Ignasia Maya, peserta forum yang merupakan anggota komunitas Gusdurian Banjarnegara. Maya menyampaikan perihal kehidupannya sebagai satu-satunya pemeluk Katholik di tengah keluarga Muslim yang taat.

Kedua orang tua, saudara dan keluarga besarnya, semuanya adalah muslim bahkan sebagian dari mereka merupakan pemuka agama. Meskipun demikian, sedikitpun dia tidak pernah merasa mendapatkan perlakuan yang berbeda dari keluarganya. Sebaliknya, keluarganya sangat menghormati pilihannya dan–secara tidak langsung mendukungnya–untuk menjadi pemeluk Katholik yang taat.

Salah satu contoh yang dia sampaikan dengan perasaan penuh haru adalah seringkali pada minggu pagi, waktu subuh, sang ibu dengan masih menggunakan mukena membangunkannya untuk bersiap dan supaya tidak telat untuk berangkat sembahyang ke Gereja.

Lebih lanjut, Maya mengatakan bahwasannya salah satu keluarganya yang merupakan tokoh agama dalam beberapa kesempatan malah mendapatkan cibiran dari sebagian orang dengan mengatakan “ngapain ceramah kalau keluarganya sendiri masih ada yang murtad?” namun si tokoh agama ini sedikitpun tidak menghiraukan perkataan tersebut dan tetap menghormati pilihan yang diambil olehnya.

Hal itu pula yang terkadang membuat dirinya sangat tersentuh terhadap sikap yang diberikan oleh keluarganya bahkan terkadang membuatnya merasa “tidak enak” atas perlindungan yang diberikan. Dari hal itu pula seorang Maya menemukan arti toleransi yang sebenarnya ketika dia satu-satunya orang yang “berbeda” dalam keluarganya namun pada kenyatannya, keluarganya malah menjadi sosok pelindung yang mampu mengayomi dan melindungi kehadirannya yang berbeda tanpa membeda-bedakan.

Tentu cerita kehidupan yang dialami oleh Maya mungkin saja juga dialami oleh sebagian orang di tempat lain atau boleh jadi sebaliknya; mereka yang berada di posisi yang sama malah mendapatkan perlakuan diskriminatif atau persekusi dari lingkungan sekitar bahkan dari keluarga.

Tidak bisa dipungkiri bahwa memang tidak mudah meneladani sikap yang diambil oleh keluarga Maya untuk bersikap adil dan legowo menerima orang dekatnya (dalam hal ini seorang anak) yang memilih beda beragama. Tidak hanya legowo tetapi keluarganya justru menampung (tolerare) dan memperlakukannya tanpa membeda-bedakan. Mengingat pada dasarnya kepercayaan bagi banyak orang menjadi sebuah aspek kehidupan yang mendasar, maka tidak heran jika penolakan terhadap satu anggota keluarga yang beda agama bisa terjadi.

Namun bukan level itu sebenarnya yang ingin saya sampaikan. Saya kira karena disisi lain kisah ini dapat menjadi sebuah inspirasi dalam skala yang lebih luas.  Jika diibaratkan orang tua Maya adalah masyarakat muslim mayoritas sedangkan sang anak adalah kelompok agama minoritas. Maka alangkah indahnya kehidupan beragama masyarakat kita. Sebagai mayoritas, umat Muslim berperan aktif untuk mengayomi bahkan melindungi meskipun banyak “cibiran” kelompok lain yang berusaha untuk memecah belah.

Sedangkan saudara non-muslim pun boleh jadi akan merasa tersentuh bahkan terharu, sebagaimana yang dirasakan oleh Maya, dengan sikap tersebut. Sebagai minoritas mereka merasa mendapat perlindungan dan tidak adanya diskriminasi dari kelompok mayoritas. Dalam keadaan demikian, kemudian perasaan saling memiliki dan menyadari bahwasannya semua adalah bagian dari satu keluarga, yakni bangsa Indonesia, akan tumbuh. Sehingga kehidupan yang damai dan harmonis niscaya akan terwujud.

Akhir kata, mengutip pernyataan Gus Dur, “yang sama jangan dibeda-bedakan, yang beda jangan disama-samakan.” Dalam surat al Kafirun (6) juga disebutkan “lakum diinukum waliya diin” yang saya kira secara eksplisit mengisyaratkan bahwa Tuhan sendiri tidak memaksakan suatu kebenaran pada hambaNya. Maka alangkah sombongnya kita sebagai makhluk jika kita memaksakan kebenaran yang kita yakini kepada orang lain.

Tugas kita adalah menyadari bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan dan yang harus dilakukan adalah “bukan menyeragamkan” namun saling menghormati dan merajut perbedaan tersebut menjadi sebuah jalinan persaudaraan dan persatuan. Wallahu a’lam

Aminuddin Hamid, penulis adalah pegiat aktif di komunitas Santrigusdur Jogja.

Anda perlu login untuk memberikan komentar.