Minggu, 22 Oktober 2017

SETIA MENJAGA JEMBATAN

AKHIR tahun lalu keluarga ini menggelar haul ke-7 wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kepergian Presiden Keempat Republik Indonesia (RI) itu pada 30 Desember 2009 memiliki makna lain bagi Alissa Qotrunnada Munawaroh. Tidak semata kehilangan sosok sang ayah, momen itu menjadi babak baru bagi perempuan yang akrab disapa Alissa Wahid tersebut. Selama 10 tahun (1999-2009) ia memutuskan menjauh dari dunia politik, baik itu politik praktis maupun kebangsaan. Keputusannya menjauh itu karena mengalami trauma selama berada di istana pada 1999-2001. Semua curah­an hati putri sulung Gus Dur itu diungkapkannya saat Media Indonesia bertemu di The Wahid Institute, Jakarta, Kamis (5/1).

 

 

 

 

Trauma kenapa?

Sewaktu di istana, kami terbiasa hidup bebas dalam arti berpikir bebas dan berprasangka baik kepada semua. Kami waktu itu melihat bagaimana orang bisa berubah sikap, berubah pendirian, berubah pilihan, hanya karena politik dan kekuasaan. Jadi saya trauma banget waktu itu.

Saya menyesal untuk bangsa Indonesia ketika Gus Dur lengser dan memutuskan pulang ke Ciganjur karena kalah kontestasi politik. Namun, saya pribadi mensyukuri bisa keluar dari situasi yang membuat saya tidak bisa percaya sama orang lain. Saya fokus sebagai psikolog.

Setelah Gus Dur wafat menjadi titik balik saya. Muncul pertanyaan, apa yang harus kita lakukan untuk menjaga napas perjuangan Gus Dur? Beliau secara jasad memang tidak ada, tapi perjuangannya untuk Indonesia juga belum terwujud.

 

Apa impian yang belum terwujud?

Masyarakat yang adil dan sejahtera.

 

Soal ini dibahas di rapat keluarga?

Setelah 40 hari beliau (wafat), kami rapat keluarga mendiskusikan kami mau gimana. Banyak kelompok yang dilemahkan yang menanyakan ke kami. Misalnya ada masyarakat pegunungan Kendeng yang saat itu sedang khawatir soal pabrik semen di Sukolilo, dulu Gus Dur yang membela mereka lalu nanti siapa. Belum lagi kelompok agama minoritas. Jadi kami rapat keluarga memikirkan bagaimana kami mau merawat warisan Gus Dur. Karena warisan Gus Dur itu bukan harta, melainkan perjuangan.

 

Apa yang menjadi tugas Anda?

Sekarang saya ngurusin jaringan Gusdurian, Pojok Gus Dur di PBNU, dan Abdurrahman Wahid Center for Interfaith Dialogue and Peace di Universitas Indonesia. Inayah dengan gerakan Positive Movement, dia juga terlibat di Gusdurian. Dia fokus di budaya. Anita lebih terlibat di gerakan antikorupsi dan sekarang di gerakan Masyarakat Antihoax mewakili Gusdurian. Sementara itu, Yenny fokus di Wahid Institute.

 

Apakah dalam wasiat meminta anak-anak terjun ke politik praktis atau kebangsaan?

Enggak, kita aktif di NU saja tidak pernah disuruh. Bahkan dulu saat masih dalam masa pertumbuhan, kami dibiarkan lari ke sana kemari supaya eksplorasi sendiri. Jadi ketika sekarang kami ambil keputusan, itu adalah pilihan sadar. Karena justru tidak pernah dipaksa.

 

Pernah merasa hidup dalam bayang-bayang Gus Dur?

Itu justru menurut saya ‘legacy’. Sebagai psikolog saya merasa cukup bahagia dengan pencapaian saya. Sementara itu, untuk pekerjaan pengabdian pada masyarakat, saya justru tidak mau dikenal sebagai Alissa Wahid, saya ingin dikenal sebagai muridnya Gus Dur.

Gus Dur itu figur yang bisa mempersatukan banyak elemen dalam masyarakat, kecuali yang membenci beliau he he he. Itu tidak bisa dilakukan orang lain, tidak bisa dilakukan seorang Alissa Wahid. Padahal, menurut saya saat ini, persatuan mempertemukan jembatan-jembatan itu penting.

 

Kalau diumpamakan Gus Dur jembatannya, lantas Alissa apa?

Saya penjaga jembatan berarti, supaya jembatan ini bisa tetap terhubung, tidak patah.

 

Potret Indonesia saat ini terkait dengan toleransi dan keberagaman menurut Anda bagaimana?

Kalau melihat Indonesia sekarang dibandingkan dengan negara-negara lain, saat ini Indonesia tetap paling depan dalam hal toleransi. Namun, kalau kita melihatnya dari masa lalu Indonesia, masa sekarang, dan kecenderungan proyeksi ke depan, kita harus waspada karena trennya turun. Kecenderungan eksklusif kelompok agama, makin kuat. Survei CSIS beberapa tahun lalu, ada pertanyaan soal percaya tidak sama orang beda agama. Hasilnya yang percaya tanpa syarat hanya sekian persen. Di atas 50% tidak percaya atau harus waspada.

 

Toleransi diproyeksikan menurun, adakah pengajaran yang salah dalam mengenalkan agama sampai mereka intoleran?

Dalam kondisi sekarang yang dibutuhkan ialah setiap anak pasti memerlukan belajar identitas dia, termasuk identitas religinya. Mengajari kepada anak bahwa kita orang muslim karena itu kita tidak natalan misalnya. Namun, itu juga harus sejalan dengan menanamkan nilai menghormati orang lain. Belajar pembedaan tidak apa-apa, tapi kemudian kita harus meneruskan dengan pelajaran menghormati orang lain.

 

Pendapat Anda bila orang mengatakan Islam tidak sejalan dengan demokrasi dan mewujudkan negara ideal harus dengan negara Islam?

Cinta tanah air adalah bagian dari iman. Kalau dalam NU, RI adalah kesepakatan kebangsaan. Kalau sekarang kita ingin mengubah itu, kita sedang membubarkan RI. Saya akan masuk orang yang berbaris mempertahankan Indonesia karena itu tinggalan (ulama terdahulu).

 

Saat ini, yang paling efektif untuk menyuarakan keberagaman, keadilan sosial, toleransi, itu media apa saja?

Semuanya. Elemennya banyak, platformnya juga banyak. Soal keislaman sekarang ini jadi tantangan Indonesia karena ada sebagian masyarakat yang menganggap karena Islam mayoritas, Islam harus ditinggikan di atas yang lain. Kalau kita bicara keislaman, mau tidak mau kita bicara tentang organisasi-organisasi Islam, kiai, pesantren, intelektual Islam. Ini platformnya akan lain-lain. Online dan offline harus jalan. Itu yang saya coba, membangun jembatan-jembatan itu.

 

Twitter juga Anda gunakan untuk menyuarakan hal yang sama, tapi dengan selera humor, kenapa?

Mungkin karena saya psikolog, saya peka audiens. Siapa yang saya sasar saat seminar, di media sosial, kelompok mana yang menurut saya sedang perlu diajak berdiskusi tentang ini. Kalau saya ngomong sama santri, tentu beda dengan di Twitter. Saya memang melakukan segmentasi. Kalau di sosmed, karena publiknya umum, saya tidak mau menguliahi. Gus Dur ahli banget soal ini, ketika sedang di desa, bahasanya beda saat di simposium internasional. Saat ini mainstream publik sangat membutuhkan sharing yang benar-benar kerja di lapangan.

 

Meski banjir pujian untuk Gus Dur dan Gusdurian, banyak juga sentimen negatif. Paling sering mempertanyakan apakah kalian memang beneran muslim, kerudungnya saja begitu. Masih sering dapat komentar demikian?

Oh sangat sering, itu hampir setiap saat kita diserang soal itu. Komentar orang mah ya sudah, apalagi kita tahu saat ini ada yang namanya politik identitas yang sedang sangat digenjot kelompok-kelompok yang entah bagaimana mereka ingin menafikan bahwa banyak cara berekspresi dalam keagamaan kita. Jadi kayak itu lagi, emang masih Islam. Loh yang menentukan Islam itu siapa? Jadi seakan-seakan kalau ekspresi keagamaannya tidak sesuai dengan mereka, berarti bukan Islam. Itu kan bahaya, itu yang saya maksud dengan eksklusivitas. Saya tidak pernah tuh dimarahin sama kiai-kiai, kok kerudungnya begitu. Penghakiman seperti itu menurut saya bahaya.

 

Terusik enggak kalau orang bilang Gusdurian liberal?

Itu hak dia berpendapat begitu, setiap orang berhak berpendapat. Kalau orang bilang Gusdurian sesat, Gusdurian liberal, Gusdurian itu merendahkan Islam, itu hak dia. Namun, kalau ada yang bilang Gusdurian nerima duit dari orang-orang tertentu, itu kita bisa tanya datanya, jadi lebih ke akuntabilitas. Kami tidak mau defensif karena harkat kami ditentukan sikap kami sendiri, bukan sikap orang terhadap kita. Kami punya cita-cita, kami melakukan berbagai hal untuk mewujudkan cita-cita itu. Nah ketika ada orang-orang yang tidak sependapat dengan cita-cita itu, ya, hak mereka.

 

Kembali soal hidup bermanfaat bagi sesama, kenapa lantas menolak jabatan publik yang bisa juga bermanfaat bagi masyarakat?

Karena saat ini saya punya target-target yang tidak akan tercapai kalau saya jadi pejabat publik. Target saya saat ini jangka panjangnya berkontribusi supaya masyarakat Indonesia lebih matang dan dewasa, termasuk sadar hak kewarganegaraannya. Dia tahu haknya dan tugas pemerintah kepada warga negara. Kalau tidak tercapai, menurut saya selamanya politisi busuk akan ‘memplokoto’ rakyat, kebijakan bupati atau apa untuk kepentingan dia dan kroni-kroninya.

 

Dilakukan dengan cara?

Strategi saya membantu masyarakat yang muda untuk mereka bisa menjadi pemimpin di lingkungan masing-masing. Energi saya dipakainya ke situ, tidak akan selesai kalau saya jadi gubernur atau apa. Makanya saya banyak bekerja dengan anak muda. Apa pun bidangnya mereka nanti, enggak masalah, tapi ‘be a social leader’, peka terhadap situasi sosial dan mau mengambil perannya. Katalis ini yang akan menyadarkan masyarakat soal haknya.

 

Trauma dari intrik politik di istana, tapi tidak menutup kemungkinan kelak memutuskan menerima jabatan juga kan?

Ya tidak menutup kemungkinan. Namun, saat ini, politik praktis bagi saya tidak menarik, politik kebangsaan iya. Berarti kita bicara sistem, visi Indonesia ke depan, kebijakan publik. (M-4)

 

 

 

Pernah dimuat di http://mediaindonesia.com/news/read/88687/setia-menjaga-jembatan/2017-01-22#sthash.ZmCQvY3y.dpuf

 

 

Anda perlu login untuk memberikan komentar.